● Sopir ojol sadar betul pekerjaannya kurang layak, tapi bertahan karena tidak ada pilihan
● Hampir semua mitra platform transportasi ‘online’ berhasrat mencari pekerjaan lain.
● Peningkatan keterampilan (‘upskilling’) bisa jadi solusi pemberdayaan supir ojol untuk memperbaiki nasibnya.
Setiap hari, jutaan pengemudi ojek dan taksi online wara-wiri di jalanan untuk bertahan hidup.
Jumlahnya tidak bisa dikatakan kecil, tapi pilihan pekerjaan ini adalah solusi satu-satunya bagi mereka.
Karena ekonomi sedang loyo, mereka menguatkan diri bekerja berbasis pendapatan dan kinerja harian dengan bantalan sosial yang nyaris nol.
Ironisnya, fleksibilitas dan kemudahan akses justru membuat pekerjaan ini jadi ban serep terhadap kondisi saat ini.
Namun, mereka sadar betul menjadi pekerja gig hanyalah upaya bertahan hidup di kondisi perekonomian sulit ini.

Keberlanjutan karier pengemudi menjadi isu penting yang tak sekadar urusan perlindungan sosial formal semata. Ini adalah soal bagaimana mencari peluang kerja yang lebih stabil secara jangka panjang.
Dalam situasi tersebut, upskilling (peningkatan keterampilan) dipandang sebagai salah satu solusi untuk membuka peluang karier baru bagi sopir ojol.
Upskilling tidak hanya menjadi pelengkap tetapi juga sebagai bentuk perlindungan sosial bagi mereka yang menggantungkan hidupnya pada ekosistem platform digital.
Riset dan hasil diskusi yang kami lakukan dengan pengemudi di Jakarta, Bali, dan Yogyakarta menunjukkan minat para mitra ojol untuk menguasai keterampilan baru cukup tinggi.
Read more: Di balik kalimat “lebih baik capek kerja daripada capek cari kerja” yang berujung eksploitasi
Minat belajar tinggi
Temuan pada [penelitian]yang kami lakukan, menunjukkan adanya kesadaran kolektif dari pengemudi bahwa mereka tidak bisa menjalani pekerjaan ini seumur hidup.
Pengemudi menyatakan bahwa pada titik tertentu mereka ingin mengerjakan hal lain (pivot karier) atau berwiraswasta.
Dari 28 peserta diskusi yang sudah menjalani profesi ini lebih dari tiga dan lima tahun, mereka mulai menyadari adanya batasan fisik serta risiko jangka panjang yang mereka hadapi di jalanan.
Read more: Basa-basi bonus hari raya bukan solusi perbaikan nasib pengemudi ojol dan pekerja platform
Mereka memandang upskilling sebagai salah satu langkah penting. Mereka bisa mempersiapkan diri dan berpindah ke sektor lain melalui pelatihan untuk peningkatan kualitas kerja dalam platform, maupun untuk transisi saat keluar dari ekosistem ride-hailing.
Diskusi kami dengan pengemudi di tiga kota tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak melihat pekerjaan ini sebagai tujuan akhir. Karena jumlah peminat driver ojol yang terus meningkat, persaingan untuk mendapatkan pelanggan pun kian ketat
Peningkatan keterampilan seperti apa?
Ada setidaknya tiga pendekatan upskilling yang dibutuhkan para pengemudi yakni peningkatan skill sebagai pengemudi, perubahan karier atau pivoting, dan wiraswasta atau entrepreneurship.
1. ‘Upskilling’ di dalam ekosistem platform
Sejumlah pengemudi menyatakan bahwa mereka membutuhkan pelatihan agar bisa “naik kelas” dalam platform, misalnya dari pengemudi motor ke mobil maupun ke layanan premium.
Antusiasme pengemudi ditunjukkan pada program pelatihan untuk peningkatan daya saing berbasis kualitas dan bukannya harga. Selain itu, pelatihan sebagai mentor, community leader bagi para driver, dan trainer juga menarik untuk mereka.
Pelatihan bahasa asing, pelayanan pelanggan dan juga perbaikan penampilan menjadi contoh pelatihan yang mendapat apresiasi dari pengemudi. Kebanyakan peserta menganggap pelatihan berpotensi menambah pendapatan mereka.
Kemampuan berbahasa asing membuat mereka lebih mudah melayani turis dan mendapat rating tinggi. Sementara penampilan yang rapi diyakini bisa meningkatkan kenyamanan pelanggan.
Dua hal sederhana ini membuat pengemudi lebih banyak dipilih peserta dan berpeluang mendapat penghasilan lebih besar.
2. ‘Upskilling’ untuk mencari karier baru
Para peserta menyadari profesi pengemudi adalah “pekerjaan sementara,” bukan tujuan akhir mereka.
Mereka berharap, pelatihan ini tidak hanya disediakan oleh platform, tetapi juga oleh pemerintah maupun lembaga pendidikan. Bentuknya bisa melalui sertifikasi keterampilan praktis sehingga bisa diakui secara resmi dan membantu mereka mencari pekerjaan.

“Kami ingin pelatihan yang benar-benar bisa dipakai setelah tidak lagi menjadi ‘driver’. Kalau bisa ada sertifikat resmi bukan hanya sekadar pelatihan formal,” ungkap salah satu pengemudi di Yogyakarta.
3. ‘Upskilling’ kewirausahaan
Kelompok ini melihat potensi berwiraswasta yang teknis misalnya beternak, servis kendaraan, komputer, perbengkelan, dan lainnya.
Mereka berharap mendapat pelatihan untuk membuka usaha sendiri seperti pelatihan kewirausahaan, digital marketing dan keahlian vokasional.
“Di usia tertentu, ketika fisik kami tidak lagi mampu berkendara 8 – 10 jam sehari, kami juga ingin hidup tenang, menghasilkan uang untuk keluarga kami di rumah saja,” ungkap salah satu pengemudi di Bali.
Pengemudi pun berharap, keahlian yang mereka miliki selama bekerja sebagai pengemudi dapat dikembangkan lagi dan menjadi modal sosial bagi mereka.

Pemberdayaan pengemudi ojol memerlukan inisiatif beragam pihak.
Program pelatihan—baik itu soft skill maupun hard skill— perlu dirancang bersama oleh pemerintah, platform digital, universitas, dan sektor industri. Ini akan membuka jalan bagi pengemudi untuk mengakses pekerjaan formal, menjadi wirausahawan kecil, atau berperan dalam sektor ekonomi baru.
Peran platform bisa difokuskan ke pelatihan teknis terkait ekosistem seperti peningkatan kualitas layanan, adaptasi teknologi, maupun pelatihan bahasa.
Sementara pemerintah berperan menyediakan pasokan lapangan pekerjaan dan pelatihan untuk transisi karier ke sektor lainnya. Kerja sama lintas sektor ini akan mendorong terciptanya inisiasi pembiayaan permodalan.
Bentuk instrumen perlindungan sosial baru
Selain peningkatan kompetensi, pelatihan juga bisa menjadi landasan mekanisme perluasan peluang ekonomi dan mobilitas sosial para pengemudi ojol.
Read more: Tiga sebab mengapa Kartu Prakerja tidak efektif atasi pengangguran dan solusinya
Karena itu dalam konteks kebijakan publik, upskilling dapat berfungsi sebagai salah satu instrument integrative (instrumen integrasi) kebijakan ketenagakerjaan, pendidikan, dan ekonomi digital.
Pemerintah pun sebenarnya berpengalaman melaksanakan program prakerja yang pelaksanaannya tahun ini tersendat.
Dengan dukungan pelatihan yang tepat sasaran, peluang untuk mendapat akses pekerjaan lebih layak akan terbuka lebar.
Dan tentunya, kita semua berharap upskilling ini juga bisa diakses oleh seluruh mitra ojol bahkan para pekerja informal lainnya.





Comments are closed.