Tue,26 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Psikolog Ungkap Cara Pelaku Child Grooming Memanipulasi Anak

Psikolog Ungkap Cara Pelaku Child Grooming Memanipulasi Anak

psikolog-ungkap-cara-pelaku-child-grooming-memanipulasi-anak
Psikolog Ungkap Cara Pelaku Child Grooming Memanipulasi Anak
service

Jakarta, NU Online

Fenomena child grooming kian mengkhawatirkan seiring meningkatnya interaksi anak di ruang digital. Pelaku kejahatan ini dinilai memanfaatkan kondisi perkembangan psikologis dan kognitif anak yang belum matang untuk membangun relasi manipulatif yang berujung pada eksploitasi.

Kepala Program Studi Psikologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Winda Maharani menjelaskan bahwa anak berada pada fase perkembangan yang ditandai dengan kebutuhan tinggi akan afeksi, penerimaan, dan validasi dari lingkungan sekitarnya.

“Di sisi lain, kemampuan kognitif mereka untuk mengenali motif tersembunyi dan risiko sosial belum berkembang secara matang,” ujar Winda, sebagaimana dikutip NU Online Jakarta.

Menurut Winda, kondisi tersebut menjadi celah yang dimanfaatkan pelaku child grooming. Ia menegaskan bahwa grooming bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan proses manipulasi psikologis yang berlangsung secara bertahap dan sistematis.

“Pelaku membangun kedekatan emosional dengan anak, menumbuhkan rasa percaya, rasa aman, dan keterikatan sebelum berujung pada eksploitasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa tahap awal grooming sering kali dimulai dari interaksi yang tampak wajar dan tidak mencurigakan, sehingga sulit dikenali oleh anak maupun orang dewasa di sekitarnya.

“Pelaku biasanya menunjukkan perhatian berlebihan, memberikan pujian, empati, atau hadiah,” katanya.

Dalam konteks media sosial, Winda menilai proses grooming menjadi semakin mudah dilakukan. Hal ini disebabkan oleh kaburnya batas antara ruang privat dan ruang publik di dunia digital.

“Melalui pesan pribadi, pelaku menciptakan ilusi kedekatan emosional sebelum secara bertahap menggeser batasan perilaku,” jelasnya.

Lebih lanjut, Winda mengingatkan bahwa dampak psikologis dari child grooming tidak selalu terlihat secara langsung. Namun dalam jangka panjang, pengalaman tersebut dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi perkembangan emosional dan mental anak.

Baca selengkapnya di sini.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.