Sun,12 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Anatomi Hujan Jakarta: Ada “Penumpang Gelap” Beracun di Setiap Tetesnya

Anatomi Hujan Jakarta: Ada “Penumpang Gelap” Beracun di Setiap Tetesnya

anatomi-hujan-jakarta:-ada-“penumpang-gelap”-beracun-di-setiap-tetesnya
Anatomi Hujan Jakarta: Ada “Penumpang Gelap” Beracun di Setiap Tetesnya
service

Bayangkan Anda sedang berdiri di bawah rintik hujan Jakarta, menikmati udara yang perlahan mendingin. Namun, sains punya kabar kurang romantis: air hujan tersebut tidak lagi murni. Riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa setiap tetes air hujan yang membasahi Ibu Kota kini telah terkontaminasi mikroplastik, serpihan plastik tak kasat mata yang berukuran kurang dari 5 milimeter hingga 1 mikrometer. Muhammad Reza Cordova, Profesor Riset BRIN, bersama timnya telah melacak fenomena ini sejak 2022. Hasilnya mengejutkan: di wilayah pesisir Jakarta saja, rata-rata ada 15 partikel mikroplastik yang jatuh di setiap meter persegi tanah setiap harinya. Dalam dunia sains, fenomena langit yang “muntah” plastik ini disebut sebagai atmospheric microplastic deposition. Bagaimana bisa plastik naik ke langit? Ini adalah konsekuensi dari hukum alam yang brutal: plastik tidak pernah benar-benar hancur, mereka hanya menolak hancur dan memilih menua menjadi potongan yang lebih kecil. Di kota sibuk seperti Jakarta, yang menghasilkan ribuan ton sampah plastik setiap hari, degradasi plastik terjadi secara masif di ruang terbuka. Ditambah lagi dengan gesekan ban kendaraan di aspal, asap pembakaran, hingga serat kain sintetis dari pakaian yang kita jemur. Partikel yang super ringan ini kemudian terbawa oleh hembusan angin dan udara hangat, terbang tinggi ke atmosfer, berbaur dengan awan, dan akhirnya turun kembali ke bumi saat hujan deras tiba. Masalahnya, partikel mikroplastik ini bukanlah remahan biasa. Mereka layaknya “spons beracun” yang membawa zat kimia berbahaya seperti BPA (Bisphenol A) dan ftalat. Ketika jatuh ke bumi, mikroplastik ini mengalir ke sungai, meresap ke lahan pertanian, hingga mencemari sumber…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.