- Ketika hutan tergerus, habitat satwa seperti siamang pun rusak. Mereka pun keluar hutan untuk mencari pakan hingga berisiko mengancam keberadaan primata ini. Siamang merupakan primata yang banyak menghabiskan waktunya di pohon. Satwa termasuk keluarga kera kecil atau small apes dari Famili Hylobatidae. Tulisan ini merupakan bagian akhir dari fellowship Nature Crime seri perdagangan ilegal satwa liar, siamang.
- Siamang dikenal memiliki suara paling keras dibanding jenis kera kecil lain. Suara itu diperkuat kantong suara atau gular sac yang mengembang ketika mereka berseru. Biasanya, vokalisasi dilakukan untuk menandai wilayah atau mencari pasangan.
- Di Indonesia, siamang tersebar di berbagai kawasan hutan Sumatera, mulai Taman Nasional Gunung Leuser, selatan Danau Toba, hingga Bukit Barisan Selatan. Namun, ruang hidup mereka terus terdesak akibat pembukaan hutan untuk perkebunan, pertanian, permukiman, dan pembangunan infrastruktur.
- Siamang berstatus Endangered/EN atau Genting dalam Daftar Merah IUCN. Ancamannya bukan hanya kehilangan hutan, tetapi juga perdagangan liar dan kebiasaan manusia memberi makan yang perlahan mengubah perilaku alami mereka.
Di tepi Danau Toba, tepatnya di Monkey Forest Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, suara dedaunan yang bergesekan kerap bersahutan dengan pekikan suara primata.
Di antara rimbun pepohonan itu, seorang pria berdiri sambil membawa pisang. Dia memanggil satu per satu “penghuni” hutan. Baginya, merekaini bukan sekadar satwa liar, melainkan keluarga.
“Keinginan saya, tidak ada lagi primata mengemis di jalan,” kata Abdul Rahman Manik, Minggu (12/10/26).
Selain itu, keselamatan pengguna jalan juga penting. Jalan di pinggir Danau Toba terjal, sempit dengan tikungan tajam, serta banyak jurang.
“Ketika fokus pengemudi terganggu, karena memberi makan primata, bisa berbahaya untuk mereka sendiri dan pengguna jalan lain.”

Pria yang akrab disapa Detim Manik itu bukan orang baru. Dia anaknya Umar Manik, seorang parherek, sebutan lokal bagi penjaga kera yang sejak 1984 merawat hutan kecil di Sibaganding. Tradisi itu turun kepadanya, meski dengan cara berbeda.
Saat mengambil alih pengelolaan kawasan pada usia 22 tahun pada 2013, Detim berhadapan pada kenyataan mengusik. Kawanan primata turun ke jalan raya, mengais makanan dari pengendara.
“Kera di sini juga kerap berkonflik dengan warga, bahkan ada yang ke setrum pagar listrik di area pertanian warga.”
Di kawasan ini terdapat empat jenis primata, yaitu beruk, kera ekor panjang, siamang, dan kiak-kiak. Namun keterbatasan pakan membuat mereka meninggalkan habitatnya.
Risiko paling besar mengintai siamang. Primata arboreal itu, jika turun ke jalan, rentan kena buru atau ditangkap.
“Kalau siamang turun, bisa diambil pemburu. Kawasan yang seharusnya rumah habitat satwa liar, berubah menjadi arena eksploitasi.”
Detim menetapkan dua tujuan sederhana, menghentikan primata mengemis di jalan dan memastikan interaksi dengan manusia tidak berujung konflik.
Mengubah perilaku satwa liar bukan urusan mudah. Selama bertahun, primata di Sibaganding terbiasa mendapat makanan dari manusia. Ketergantungan itu membentuk kebiasaan baru, menunggu di pinggir jalan.

Detim memilih pendekatan tidak biasa. Dia tidak hanya memberi makan di dalam hutan, juga kampanye aktif melalui media sosial.
Sejak 2019, dia rutin membagikan aktivitasnya melalui Facebook Live, lalu beralih ke YouTube. Upaya itu perlahan membuahkan hasil, terutama setelah kanalnya mulai menghasilkan pendapatan pada Desember 2020.
Dari sana, dia bisa membeli pakan secara rutin, sekitar 30 sisir pisang per hari. Pemberian pakan yang konsisten di hutan mulai menarik primata kembali ke habitatnya.
“Sekarang beruk sudah naik ke atas hutan. Kelompok siamang juga bertambah,” katanya.
Hubungan Detim dengan primata di Sibaganding jauh dari sekadar pengelola dan satwa. Dia menyebut mereka sebagai keluarga.
“Kalau mereka marah, saya maklum dan sebaliknya.”
Dia percaya, naluri satwa bisa membaca niat manusia. Selama tidak ada ancaman, primata tidak akan menyerang. Prinsip itu dia pegang setiap kali interaksi. Kedekatan itu bukan tanpa batas.
Detim sadar, tujuan akhirnya bukan membuat primata bergantung pada dirinya, melainkan mengembalikan naluri liar mereka.
“Tujuannya, mereka cari makan ke hutan bukan ke jalan.”

Di tengah meningkatnya kunjungan wisatawan ke Danau Toba, tantangan baru muncul, interaksi manusia dan satwa. Memberi makan kera sudah lama menjadi daya tarik wisatawan. Banyak pengunjung datang untuk merasakan sensasi berinteraksi langsung dengan satwa liar. Praktik ini justru memperkuat ketergantungan.
Untuk itu, Detim mulai membatasi akses. Pengunjung hanya bisa masuk pada waktu tertentu, yakni, pukul 12.30 dan 15.00 WIB. Langkah ini bukan untuk mengurangi pengunjung, melainkan memberi ruang bagi primata mencari pakan alami di hutan.
Dia hanya ingin, suatu hari nanti jalanan di Sibaganding tak lagi banyak primata yang menadahkan tangan.
Di atas kanopi hutan, suara siamang kembali menggema. Bukan sinyal minta makan, melainkan tanda mereka telah pulang.

Siamang di Geurutee
Sekitar 700 kilometer dari Sibaganding, di tikungan tajam jalan lintas barat Aceh, sejumlah kendaraan melambat. Bukan semata karena jalan berkelok di tepi jurang, tetapi ada sesuatu berbeda di jalan Banda Aceh menunju Meulaboh ini. Di Puncak Geurutee ini, Samudera Hindia terbentang luas.
Di antara deretan warung kayu yang berdiri di bibir tebing, kehidupan lain berlangsung lebih liar. Pada jam-jam tertentu, dari balik pepohonan, sekelompok siamang turun perlahan mendekati manusia.
Abdullah sudah lama menjadi saksi hubungan tak biasa itu. Warungnya berdiri menghadap jurang, tempat pengunjung duduk menikmati kopi sambil menatap laut. Namun, daya tarik utamanya bukan hanya pemandangan.
“Sejak dulu mereka datang ke sini,” jelas Abdullah, tentang siamang yang rutin datang ke warungnya, Minggu (26/4/26).

Awalnya, dia hanya memberi makan seekor siamang jantan. Tak lama, primata itu kembali membawa pasangannya. Sejak itu, mereka datang hampir setiap hari.
Kini, yang datang bukan lagi satu atau dua ekor. Mereka hadir lengkap sekeluarga, sepasang induk dan anak-anaknya. Anak-anak siamang bergelantung di tiang warung, kadang mendekati pengunjung dengan rasa ingin tahu tinggi.
Suasana yang semula tenang mendadak ramai. Ada tawa pengunjung, yang sebagian menjauh antara takut dan takjub. Siamang dewasa tampak lebih tenang. Duduk diam di sudut warung, sesekali memperhatikan, seolah memahami ruang itu milik mereka juga.
Abdullah mengatakan, pernah kehilangan tiga anak siamang yang diambil orang saat warungnya tidak dijaga. Peristiwa itu terjadi ketika kawasan sepi, terutama saat Ramadhan.
“Dulu, Siamang yang sepasang itu sudah memiliki beberapa anak, sekarang tersisa hanya dua.”
Dia bilang, pernah ada warga di Puncak Geurutee menangkap pengunjung yang hendak mencuri anak siamang.
“Anak siamang segera dilepas.”
Perburuan dan pencurian menjadi ancaman nyata, terutama bagi satwa yang sudah terbiasa dengan kehadiran manusia. Selain itu, perilaku mendekati manusia juga membuat satwa lebih rentan terhadap konflik, mulai perebutan makanan hingga potensi kecelakaan di jalan raya.
Geurutee merupakan lanskap paling ikonik di Aceh. Kombinasi antara hutan hujan tropis, tebing karst, dan laut lepas menciptakan panorama yang jarang ditemukan di tempat lain.

Siamang bukan hewan peliharaan
Suara siamang kerap terdengar memecah pagi di hutan-hutan Sumatera. Pekikan nyaring, menggema dari satu pohon ke pohon lain. Bagi sebagian orang, suara itu mungkin hanya bagian dari riuh hutan. Namun berbeda dengan Rahayu Oktaviani, alunan itu pertanda bahwa hutan masih memiliki kehidupan utuh.
Pendiri Yayasan Konservasi Ekosistem Alam Nusantara ini mengatakan, banyak orang keliru menyebut siamang sebagai monyet. Padahal satwa ini termasuk keluarga kera kecil atau small apes dari famili Hylobatidae. Salah pembeda paling mudah adalah siamang tidak memiliki ekor.
Hingga kini, data populasi masih merujuk IUCN publikasi 2020 total sekitar 22.000 siamang.
“Tantangannya adalah belum ada survei terpadu yang mencakup seluruh sebaran siamang di Sumatera. Data bersifat lokal setiap kawasan penelitian, sehingga angka total populasi nasional masih estimasi kasar,” katanya, Kamis (21/5/26).
Menariknya, tambah Ayu, akhir Maret hingga awal April 2026, Indonesian Species Specialist Group (IDSSG) dan Kementerian Kehutanan mengumpulkan lebih 60 praktisi, perwakilan pemerintah, LSM, dan akademisi untuk melakukan kajian daftar merah nasional sembilan jenis kera kecil di Indonesia, termasuk siamang.
“Ini momentum untuk berkolaborasi dan sejumlah pihak bersedia berbagi data terbaru sebaran maupun ancaman kera kecil Indonesia. Ini akan menentukan status konservasinya.”

Di alam liar, siamang lebih banyak menghabiskan waktu di tajuk pohon. Mereka berayun dari satu dahan ke dahan lain, mencari buah, daun, bunga, dan sesekali serangga untuk makanan. Dalam ekosistem hutan, siamang berperan penting sebagai penebar biji.
“Saat makan buah, mereka banyak menelan biji utuh, lalu bijinya tersebar melalui feses di daerah jelajahnya dan tumbuh menjadi pohon baru,” kata penerima penghargaan Whitley Award 2025 dari Whitley Fund for Nature ini.
Siamang memiliki suara paling keras dibanding jenis kera kecil lain. Suara itu diperkuat kantong suara atau gular sac yang mengembang ketika mereka berseru. Biasanya, vokalisasi untuk menandai wilayah atau mencari pasangan.
Di Indonesia, siamang tersebar di berbagai kawasan hutan Sumatera, mulai Taman Nasional Gunung Leuser, selatan Danau Toba, hingga Bukit Barisan Selatan. Namun, ruang hidup mereka terus terdesak akibat pembukaan hutan untuk perkebunan, pertanian, permukiman, dan pembangunan infrastruktur.
Siamang masuk kategori Endangered/EN atau Genting dalam Daftar Merah IUCN. Ancamannya bukan hanya kehilangan hutan, tetapi juga perdagangan liar dan kebiasaan manusia memberi makan yang perlahan mengubah perilaku alami mereka.

Belakangan, video siamang yang turun dari pohon lalu mendekati manusia semakin sering muncul di media sosial. Ada yang menerima pisang dari tangan pengunjung, ada pula yang tampak santai duduk dekat manusia. Banyak orang menganggapnya lucu dan menggemaskan.
Padahal, di sini masalah bermula. “Ketika siamang terbiasa diberi makan manusia, mereka perlahan kehilangan naluri liarnya. Mereka tidak lagi menganggap manusia sebagai ancaman,” ujarnya.
Siamang yang terbiasa berinteraksi dengan manusia, akan lebih sering turun dari kanopi hutan, mendekati jalan, bahkan area ramai. Kondisi itu membuat mereka lebih rentan tertabrak kendaraan, tersengat kabel listrik, bahak menjadi buruan. Ketergantungan terhadap makanan dari manusia juga membuat kemampuan bertahan hidup mereka di alam menurun.
Ayu juga menyoroti dampak media sosial terhadap meningkatnya perdagangan satwa liar. Konten yang memperlihatkan siamang tampak jinak, bisa memicu keinginan orang untuk memelihara.
“Untuk setiap bayi siamang yang sampai ke tangan pembeli, paling tidak ada satu induk mati.”
Dia berharap, masyarakat mulai memahami bahwa mencintai satwa liar tidak harus dengan menyentuh atau memberi makan. Cara terbaik menjaga siamang adalah membiarkan mereka hidup liar di habitat aslinya.
“Kalau benar sayang satwa liar, biarkan mereka tetap liar,” ungkapnya. (Selesai)
*****
Jejak Penyelundupan Siamang dari Sumatera ke Luar Negeri [2]





Comments are closed.