Dengarkan artikel ini:
Audio ini dibuat menggunakan AI.
Di tengah pemanasan dini menuju 2029, Anies Baswedan diuji: aktor otonom atau produk patronase? Antara bayang-bayang Surya Paloh dan Jusuf Kalla, pertarungan sesungguhnya bukan sekadar dukungan elite, melainkan soal siapa menguasai mesin, ideologi, dan masa depan politik 2029.
Menjelang konsolidasi awal menuju Pemilu dan Pilpres 2029, lanskap politik Indonesia kembali memperlihatkan hukum besinya, siapa yang tak memiliki mesin, akan dilindas oleh mesin.
Di tengah pemanasan dini partai-partai politik, Anies Baswedan tampak berupaya mempertahankan relevansinya sebagai aktor politik nasional. Ia bukan lagi sekadar mantan kandidat presiden 2024, melainkan figur yang sedang menguji ulang posisinya dalam orbit kekuasaan.
Sederhana, dalam kerangka teoretis Pierre Bourdieu, politik adalah arena pertarungan berbagai bentuk capital, modal politik, sosial, simbolik, dan institusional.
Anies mungkin saja relatif kaya dalam symbolic capital—narasi intelektual, citra moral, dan kemampuan retorika—serta social capital melalui jejaring relawan “anak abah” yang militan.
Namun, ia kerap dinilai defisit dalam institutional capital, kepemilikan partai, kendali struktur, dan akses terhadap sumber daya negara.
Keraguan terhadapnya pada Pilpres 2024 sebagian besar berangkat dari premis ini. Seandainya ia menang, mampukah ia mengeksekusi agenda tanpa dukungan mesin partai yang solid?
Dalam sistem presidensial multipartai seperti Indonesia, presiden tanpa partai ibarat jenderal tanpa pasukan. Ia mungkin memenangkan pertempuran elektoral, tetapi belum tentu menguasai logistik pemerintahan.
Di titik inilah isu “bapak ideologis” menjadi relevan. Dalam tradisi politik Indonesia yang masih sarat patronase, figur nasional jarang berdiri sepenuhnya otonom.
Mereka kerap beroperasi dalam jejaring patron–klien yang memberi dukungan struktural sekaligus membatasi ruang gerak.
Pertanyaannya: apakah Anies sedang mencari figur payung yang mampu menyuplai institutional capital sekaligus legitimasi ideologis?
Dua nama kiranya relevan, terlihat pula dalam momen buka puasa bersama Partai NasDem 19 Februari 2026 kemarin, yakni Surya Paloh dan Jusuf Kalla.
Keduanya memiliki historis konstruktif dengan Anies, serta modal sosial-politik untuk meng-endorse—atau bahkan mengarsiteki—langkah menuju 2029.
Lalu, mengapa Anies dikatakan harus menjadi “anak ideologis” dan butuh sosok “bapak”? Serta mengapa dua nama di atas yang kiranya tepat?
Menguji Posisi Anies
Secara konseptual, ada dua model kepemimpinan dalam sistem demokrasi patronal, yakni autonomous political entrepreneur dan elite-dependent actor.
Model pertama adalah figur yang mampu membangun koalisi lintas faksi dengan daya tawar personal yang tinggi. Model kedua adalah figur yang eksistensinya sangat ditentukan oleh patron elite.
Anies seolah bergerak di wilayah abu-abu antara keduanya. Di satu sisi, ia menunjukkan kapasitas sebagai political entrepreneur. Kemenangannya dalam Pilgub DKI 2017 memperlihatkan kecakapannya membaca ceruk suara Islam politik.
Ia mampu bersimbiosis dengan basis yang solid, bahkan ketika dukungan itu mengandung risiko polarisasi. Ia mengelola identity politics bukan sekadar sebagai isu, tetapi sebagai kendaraan mobilisasi.
Namun, pasca 2017 hingga Pilpres 2024, Anies memperlihatkan fleksibilitas—atau bagi sebagian pihak, pragmatisme ekstrem.
Dari figur yang lekat dengan dukungan Islam konservatif, bahkan dalam pencapresan, ia kemudian tampil sebagai politisi moderat. Ia tak alergi mendekat pada spektrum nasionalis, bahkan membuka ruang sebarisan dengan PDIP dalam kontestasi Pilkada 2024.
Ini menunjukkan kemampuan adaptasi, tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan, di mana jangkar ideologisnya?
Di sinilah figur seperti Surya Paloh menjadi signifikan. Sebagai pendiri dan pengendali NasDem, Paloh pernah menjadi sponsor politik penting bagi Anies pada Pilpres 2024.
Paloh memiliki institutional capital berupa partai, jaringan media, dan pengalaman panjang dalam manuver koalisi. Jika Paloh kembali menjadi poros dukungan, maka Anies memperoleh mesin sekaligus narasi restorasi yang selama ini diusung NasDem.
Sementara itu, nama Jusuf Kalla mewakili tipe patron berbeda. Ia bukan pemilik partai dominan, tetapi memiliki reputasi sebagai king maker, negosiator ulung, dan figur senior yang dihormati lintas faksi.
Dukungan Kalla bersifat simbolik sekaligus strategis, ia dapat membuka akses pada jejaring elite bisnis dan politik, terutama di luar Jawa.
Namun dukungan patron selalu memiliki konsekuensi. Dalam teori patron–klien, hubungan tersebut bersifat timbal balik tetapi asimetris.
Patron memberi perlindungan dan sumber daya, klien memberi loyalitas dan kepatuhan. Jika Anies terlalu bergantung pada salah satu figur, maka ruang otonominya menyempit. Ia bisa menjadi representasi kepentingan patron, bukan arsitek agenda sendiri.
Keraguan publik terhadap kapasitas implementatifnya pada 2024 berakar pada asumsi bahwa tanpa patron kuat, ia tak punya daya eksekusi. Tetapi, dengan patron terlalu dominan, ia kehilangan otonomi. Dilema ini menjadi ujian strategis menuju 2029.
Ideologi atau Kalkulasi?
Pertanyaan “Anies mencari bapak ideologis?” sesungguhnya lebih dalam daripada sekadar siapa mendukung siapa.
Ia menyentuh problem klasik politik Indonesia: apakah ideologi menjadi fondasi, atau sekadar kemasan elektoral?
Jika merujuk pada teori kartel partai, partai politik di Indonesia cenderung berperilaku sebagai kartel kekuasaan, lebih fokus pada distribusi sumber daya negara ketimbang diferensiasi ideologis tajam.
Dalam konteks ini, figur seperti Anies harus menentukan, apakah ia akan menjadi kendaraan kompromi elite, atau membangun platform yang relatif independen?
Pragmatisme Anies bisa dibaca dua cara. Pertama, sebagai kelenturan taktis dalam sistem yang cair.
Dalam demokrasi presidensial multipartai, rigiditas ideologis sering kali berujung marginalisasi. Koalisi dibangun bukan atas kesamaan nilai, melainkan kepentingan jangka pendek.
Kedua, pragmatisme itu bisa dibaca sebagai absennya jangkar ideologis yang konsisten—yang membuatnya mudah berpindah orbit sesuai kebutuhan.
Namun politik elektoral 2029 kemungkinan berbeda dari 2024. Mesin partai mulai dipanaskan lebih dini. Polarisasi identitas mungkin tak lagi menjadi energi dominan; publik bisa lebih sensitif pada isu ekonomi, tata kelola, dan stabilitas.
Dalam situasi ini, Anies membutuhkan lebih dari sekadar relawan loyal. Ia membutuhkan arsitektur koalisi yang solid dan sumber daya nyata.
Di titik inilah peran “bapak ideologis” menjadi ambigu. Apakah ia benar-benar membutuhkan figur ideologis—atau justru bapak institusional?
Surya Paloh mungkin memberi mesin; Jusuf Kalla memberi jejaring dan legitimasi senioritas. Tetapi keduanya bukan ideolog dalam arti doktrinal. Mereka adalah operator kekuasaan.
Jika Anies ingin tampil sebagai aktor otonom, ia harus membalik relasi tersebut: bukan menjadi produk patronase, melainkan menjadikan patron sebagai mitra koalisi.
Artinya, ia harus mengonsolidasikan basis sosialnya sendiri, memperkuat aliansi lintas partai, dan merumuskan platform kebijakan yang jelas serta implementatif.
Tanpa itu, ia akan terus dipersepsikan sebagai figur yang kuat dalam retorika, tetapi rapuh dalam eksekusi.
Pertarungan menuju 2029 bukan hanya soal siapa yang didukung siapa, tetapi siapa yang menguasai sumber daya institusional. Dalam politik Indonesia, simbol tanpa struktur akan kalah oleh struktur tanpa simbol. Tantangan Anies adalah menyatukan keduanya.
Apakah ia sedang mencari bapak ideologis? Mungkin. Tetapi yang lebih penting: apakah ia mampu menjadi bapak bagi proyek politiknya sendiri?
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah ia berdiri sebagai negarawan otonom—atau sekadar simpul dalam jaringan patronase elite yang lebih besar darinya. (J61)






Comments are closed.