Thu,30 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Apakah kita lebih mudah menyerap informasi dari kertas ketimbang layar? Tergantung jenis layarnya

Apakah kita lebih mudah menyerap informasi dari kertas ketimbang layar? Tergantung jenis layarnya

apakah-kita-lebih-mudah-menyerap-informasi-dari-kertas-ketimbang-layar?-tergantung-jenis-layarnya
Apakah kita lebih mudah menyerap informasi dari kertas ketimbang layar? Tergantung jenis layarnya
service

Baru-baru ini, Pemerintah Swedia memberlakukan pembatasan gawai di ruang kelas dan beralih kembali ke buku teks fisik. Kebijakan tersebut dipicu oleh kekhawatiran terkait penurunan skor ujian siswa serta dampak negatif dari meningkatnya durasi menatap layar (screen time).

Apakah kecemasan tersebut masuk akal?

Untuk mengurai persoalan ini, perlu diingat kembali bahwa anggapan mengenai membaca sebagai perkara mudah adalah sebuah kekeliruan. Membaca sejatinya adalah tugas paling menantang yang harus dipelajari manusia—keterampilan yang menuntut pendidikan formal dan latihan intensif selama bertahun-tahun demi mencapai penguasaan penuh.

Kontras dengan kemampuan berbicara, membaca bukanlah keterampilan yang secara biologis tertanam dalam diri kita sejak lahir.

Mengapa membaca itu rumit?

Untuk mengetahui kerumitan dalam membaca, seseorang harus terlebih dahulu memahami aspek fisiologis dari aktivitas membaca.

Ketika kamu membaca sebuah kalimat, matamu tengah melakukan serangkaian pergerakan cepat dari satu kata ke kata lain yang dikenal sebagai sakade (saccade). Dalam proses ini, penyerapan informasi visual dihambat dan hanya akan aktif kembali dalam interval singkat yang disebut fiksasi—momen ketika mata berhenti bergerak.

Berbagai eksperimen yang mengukur pergerakan mata pembaca membuktikan bahwa kita cenderung memfiksasi sebagian besar kata. Pasalnya, kapasitas kita untuk mengekstrak informasi visual di setiap momen fiksasi sangat terbatas.

Dalam bahasa yang dibaca dari kiri ke kanan seperti bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, kemampuan kita untuk mengenali karakteristik yang membedakan satu huruf dengan huruf lainnya terbatas pada area kecil di bidang pandang kita, yang disebut rentang persepsi. Rentang ini membentang dari 2–3 spasi huruf di sebelah kiri titik fiksasi, hingga 8–12 spasi huruf di sebelah kanan fiksasi.

Ketidakseimbangan rentang ini mencerminkan pergeseran fokus perhatian kita saat menyusuri teks. Polanya akan berbalik ke arah kiri pada bahasa yang dibaca dari kanan ke kiri, seperti bahasa Arab. Selain itu, ukuran rentang persepsi ini juga akan lebih kecil pada sistem penulisan yang padat karakter, seperti bahasa Mandarin.

Berbagai eksperimen pelacakan mata (eye-tracking) dan pemindaian otak menunjukkan bahwa kita membutuhkan waktu untuk mengidentifikasi setiap kata. Perlu sekitar 60 milidetik (seperseribu detik) untuk bergerak dari mata ke otak, dan otak membutuhkan tambahan waktu 100–300 milidetik untuk mengenali kata tersebut.

Keterbatasan biologis ini membatasi kecepatan maksimal membaca kita menjadi hanya 300 – 400 kata per menit. Ini tergantung tingkat kesulitan teks dan kapasitas pemahaman masing-masing orang.

Proses fisik dan cara kerja otak saat membaca sangat rumit, karena memerlukan koordinasi mental tingkat tinggi. Jess Morgan/unsplash, CC BY

Para pendukung metode membaca cepat sebenarnya hanya sekadar mengajarkan teknik membaca sekilas. Di titik ini, tingkat pemahaman membaca menurun pada laju yang berbanding terbalik dengan peningkatan kecepatan.

Ambang batas atas kecepatan membaca menuntut latihan bertahun-tahun sebelum dapat dikuasai. Sebab, aktivitas tersebut mewajibkan jaringan sistem otak—mulai dari aspek visual, atensi, identifikasi leksikal, pemrosesan linguistik, hingga pergerakan motorik mata—untuk bekerja secara simultan dan terkoordinasi tinggi.

Dengan demikian, faktor apa pun yang menghambat koordinasi tersebut otomatis akan menggerus daya serap dan pemahaman pembaca.

Dampak membaca di layar digital

Lalu, apa saja konsekuensi dari membaca di layar digital?

Pada beberapa perangkat tertentu seperti e-reader, kecil kemungkinan aktivitas membaca digital berbeda dengan membaca buku fisik. Pasalnya, kedua format tersebut sama-sama mendukung proses mental yang dibutuhkan untuk kemampuan membaca yang baik.

Perangkat yang lebih dipertanyakan adalah gawai yang memicu distraksi (seperti situs berita yang diselingi iklan) atau gawai yang berformat teks buruk—misalnya teks rata tengah dengan jarak antarkata yang terlalu besar atau tidak sama rata. Cacat format yang terakhir ini sangat jarang ditemukan pada teks berbasis kertas.

Meskipun dampak kedua faktor tersebut masih belum banyak diteliti, pemahaman kita tentang kognisi manusia saat ini sudah cukup untuk membuat prediksi yang berdasar.

Sebagai contoh, gambar dan audio yang tidak ada hubungannya dengan teks—seperti iklan pop-up—bisa dengan mudah mengalihkan perhatian. Dan sayangnya anak-anak tak memiliki kendali eksekutif otak untuk mengabaikan distraksi tersebut.

Implikasinya sangat nyata bagi anak-anak yang sedang berjuang memahami arti sebuah bacaan. Pemahaman mereka akan menurun drastis karena mereka harus membuang energi ekstra demi mengabaikan distraksi, atau karena mereka belum memiliki koordinasi mental untuk menyadari bahwa fokus membacanya telah terganggu.

Berbagai eksperimen pelacakan mata juga membuktikan bahwa banyak lingkungan digital, seperti situs web, dapat memicu strategi membaca tertentu, misalnya membaca cepat untuk mencari inti tulisan (skimming) atau sekadar berburu informasi spesifik.

Membaca di ponsel memicu banyak distraksi. ra dragon/unsplash, CC BY

Berbagai teknik tersebut bisa menurunkan pemahaman bacaan secara menyeluruh. Kemungkinan ini semestinya menjadi alarm bagi anak-anak, mengingat butuh latihan bertahun-tahun untuk bisa menyelaraskan sistem mental yang menopang kemampuan membaca setingkat orang dewasa.

Kekhawatiran semacam ini belakangan kian menyedot perhatian. Pasalnya, pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu sempat memaksa peralihan ke sistem pendidikan daring dan memicu lonjakan drastis dalam aktivitas membaca digital. Walaupun perubahan tersebut terjadi karena desakan keadaan, dampak jangka panjangnya terhadap kemampuan literasi masih menjadi teka-teki.

Sejauh ini, riset pelacakan mata baru bisa dilakukan di layar komputer. Namun, teknologi baru mulai bermunculan dan memungkinkan kita untuk membandingkan secara langsung pergerakan mata serta tingkat pemahaman antara membaca lewat gawai versus kertas fisik.

Mengingat kemampuan membaca menjadi faktor penentu bagi masa depan pendidikan, status sosial-ekonomi, dan kesejahteraan seseorang, urgensi untuk menguji dampak jangka panjang dari tren membaca digital ini sama sekali tidak boleh dipandang sebelah mata.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.