Thu,23 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Bendung Walahar dan Jasa Besarnya dalam Menyokong Ketahanan Pangan di Karawang

Bendung Walahar dan Jasa Besarnya dalam Menyokong Ketahanan Pangan di Karawang

bendung-walahar-dan-jasa-besarnya-dalam-menyokong-ketahanan-pangan-di-karawang
Bendung Walahar dan Jasa Besarnya dalam Menyokong Ketahanan Pangan di Karawang
service

21 April 2026 21.22 WIB • 2 menit

Bendung Walahar dan Jasa Besarnya dalam Menyokong Ketahanan Pangan di Karawang


Bendung Walahar adalah sebuah bendung peninggalan Belanda yang berada di Karawang, Jawa Barat. Bendung sendiri merupakan infrastruktur sumber daya air yang berperan untuk mengatur aliran air, khususnya pada sistem irigasi.

Kawan GNFI, bendung berbeda dengan bendungan. Jika bendungan bisa menampung banyak debit air dalam skala yang sangat besar, bendung umumnya lebih sederhana dan skalanya jauh lebih kecil. Bentuknya hanya berupa bangunan melintang di sungai yang ditujukan untuk menahan sebagian aliran, sehingga air bisa dialirkan ke saluran irigasi tanpa harus menunggu aliran sungai utama.

Bendung Walahar dibangun di era pemerintah kolonial Belanda. Disadur dari situs resmi Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA) Balai Besar Wilayah Sungai Citarum Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Bendung Walahar selesai dibangun pada 1925. Pembangunannya sendiri sudah dilakukan dua tahun sebelumnya dan mulai difungsikan di akhir tahun 1925.

Pintu-pintu airnya dibuat dari beton tebal, lengkap dengan tuas besi yang kokoh. Jembatan penghubungnya menggunakan pola balustrade klasik. Sementara itu, ruang mesinnya dibuat dengan dinding lengkung yang khas.

Meskipun sudah berusia seabad, bendung ini berperan penting dalam menyokong ketahanan pangan di Jawa Barat, khususnya daerah Karawang dan sekitarnya.

Jasa Bendungan Walahar dalam Menyokong Ketahanan Pangan

Bendung Walahar sangat berjasa dalam membantu terwujudnya ketahanan pangan lokal. Bendung Walahar membentuk waduk seluas kurang lebih 15 hektare.

Di salah satu sudutnya, ditulis jika sudah ada kurang lebih 87.396 hektare sawah yang dialiri air dari bendung ini. Air yang dialirkan itulah mendukung terwujudnya swasembada pangan.

Di sisi lain, Jasa Tirta menuliskan, Bendung Walahar turut berperan penting dalam pengelolaa air di wilayah Citarum. Bendung ini berjasa dalam mengatur debit air Sungai Citarum. Artinya, Bendung Walahar ikut membantu meminimalkan risiko banjir.

Kawan GNFI, Belanda sengaja memilih membangun Bendung Walahar di Kampung Walahar, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang karena berada di jalur vital Sungai Citarum. Sejak dahulu, sungai terpanjang sekaligus terbesar di Jawa Barat ini dijadikan sebagai sumber air vital masyarakat.

Bendung Walahar sudah menjadi tulang punggung irigasi Karawang sejak pertama kali dioperasikan. Air yang dihasilkan juga berhasil menghidupi sawah-sawah, industri perikanan, sampai pariwisata.

Bendung yang pembangunannya diawasi oleh ahli hidrologi Belanda, C. Swan-Koopman, ini juga dikenal sebagai Parisdo. Saat ini, diperkirakan sudah ada kurang lebih 105.000 hektare sawah yang hidup dan produktif berkat aliran dari Bendung Walahar.

Melalui ANTARA, tahun 2024 lalu, nilai panen yang bergantung pada irigasi yang bersumber dari Bendung Walahar mencapai Rp7,6 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa bendung tersebut membantu petani untuk terus produktif dalam menjaga sawah tetap hijau.

Warisan Kuno yang Jadi Cagar Budaya

Bendung Walahar ditetapkan sebagai Cagar Budaya berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor PM.58/PW.007/MKP/2010 pada 22 Juni 2010. Status ini didasarkan atas nilai sejarah, teknologi, dan budaya pada Bendung Walahar. Selain itu, manfaat bendung ini juga banyak dirasakan oleh masyarakat sekitar.

Struktur bendungannya tidak berubah. Panjangnya 150 meter dan memiliki lebar 12 meter. Desainnya pun sangat khas selayaknya bangunan peninggalan Belanda pada umumnya yang populer di awal abad ke-20-an.

Kawan GNFI, baik di masa lalu atau pun masa kini, Karawang tetap hidup sebagai salah satu lumbung padi terbesar di Indonesia. Di balik itu semua, Bendungan Walahar menjadi saksi bisu yang memasok kebutuhan air demi terwujudnya ketahanan pangan yang menyejahterakan masyarakat.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.