Bibit Weekly – Inflasi Indonesia Melandai pada Juli 2026, di Bawah Ekspektasi
Market Summary
-
Harga Minyak Brent Turun ~7% ke US$83,8/barrel: Setelah Trump membatalkan rencana serangan ke Iran dan OPEC+ menyepakati kenaikan kuota produksi. → tekanan inflasi global mereda dan risiko terhadap beban subsidi energi APBN berkurang.
-
The Fed Kembali Tahan Suku Bunga di 3,50–3,75%: Sesuai konsensus, meski 3 anggota komite menginginkan kenaikan +25 bps. → probabilitas rate hike pada September 2026 turun signifikan ke ~65% menurut CME FedWatch (vs ~82% seminggu sebelumnya).
-
Inflasi Indonesia Melandai ke 2,88% YoY pada Juli 2026: Di bawah ekspektasi konsensus (inflasi 3,2% YoY) dengan deflasi 0,14% MoM. → berpotensi memberikan ruang bagi BI untuk menahan suku bunga, meski pergerakan rupiah tetap menjadi faktor penentu.
-
IHSG Menguat +10,51% pada Juli 2026: Ditutup di level 6.236,1 menandai kenaikan bulanan pertama sejak Desember 2025. → didorong oleh investor domestik, di mana foreign flow di pasar reguler pada Juli masih tercatat negatif.
|
Market Update Foreign Inflow Obligasi Berlanjut, Yield 10 Tahun Relatif Stabil di ~7,3% Latest Update (31/07/2026) |
||||||||||||
|
||||||||||||
|
Foreign Flow (Dalam Triliun Rupiah)
|
||||||||||||
|
*Termasuk transaksi nego sebesar Rp9,16 triliun pada Rabu (29/7) |
What Happened in the Market
-
Harga minyak Brent turun sekitar -7% ke kisaran US$83,8/ barrel pada Senin (3/8) pagi setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana untuk menyerang Iran dan mengatakan perundingan baru dengan Iran akan dimulai pada Senin (3/8).
-
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan pada Minggu (2/8) bahwa perundingan antara Iran dan Oman terkait jalur pelayaran baru di Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir.
-
Sementara itu, OPEC+ pada Minggu (2/8) menyepakati kenaikan kuota produksi minyak sekitar 188.000 barrel per hari mulai September 2026.
-
Bank Sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75%, sesuai ekspektasi konsensus.
-
Meski demikian, terdapat opini berlawanan dari 3 anggota komite yang menginginkan kenaikan +25 bps.
-
Dalam konferensi persnya, Kepala The Fed, Kevin Warsh, menyatakan kembali komitmennya untuk menurunkan level inflasi.
-
Biro Analisis Ekonomi AS mencatat inflasi PCE inti AS naik 3,3% YoY pada Juni 2026 (vs Mei: 3,4%), sesuai konsensus, dan 0,1% MoM (vs Mei: 0,3%). Reuters menilai pelandaian ini berpotensi sementara seiring volatilitas harga minyak akibat konflik Timur Tengah.
-
S&P Global mencatat bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia naik ke level 50,2 pada Juli 2026 (vs Juni 2026: 46,9), menandai angka tertinggi sejak Februari 2026.
-
BPS mencatat inflasi indeks harga konsumen (IHK) Indonesia pada Juli 2026 melandai ke 2,88% YoY (vs Juni 2026: inflasi 3,34% YoY), lebih rendah dibandingkan ekspektasi konsensus (inflasi 3,2% YoY) dan sejalan dengan target inflasi Bank Indonesia (2,5±1%).
-
Secara bulanan, Indonesia mencatat deflasi IHK 0,14% MoM pada Juli 2026 (vs Juni 2026: inflasi 0,44% MoM, ekspektasi konsensus: inflasi 0,09% MoM), utamanya didorong kelompok pengeluaran ‘makanan, minuman, dan tembakau’ dengan andil deflasi 0,26%.
-
IHSG ditutup menguat +10,51% sepanjang Juli 2026 ke level 6.236,1 pada Jumat (31/7), menandai kenaikan bulanan pertama sejak Desember 2025.
-
Pjs Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan pada Senin (27/7) bahwa arah kebijakan Bank Indonesia tidak berubah usai Perry Warjiyo mengundurkan diri, sembari menambahkan bahwa BI akan tetap menjalankan kebijakan makroprudensial untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
-
Sovereign Analyst di S&P Global Ratings, Rain Yin, mengatakan kepada Bloomberg bahwa pengunduran diri Perry Warjiyo tidak berdampak langsung pada sovereign rating Indonesia, meski hal tersebut dapat berkontribusi pada peningkatan risiko terkait prospek kebijakan negara.
-
Katadata melaporkan bahwa Destry Damayanti, Aida S. Budiman, dan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, termasuk di antara kandidat yang dirumorkan akan diusulkan Presiden Prabowo Subianto sebagai gubernur Bank Indonesia yang definitif.
What’s the Impact?
Secara Global:
Penurunan harga minyak setelah de-eskalasi di Timur Tengah mendukung melandainya laju inflasi PCE AS yang mulai terlihat pada data Juni 2026, yang menjadi tolok ukur bagi The Fed dalam menilai perekonomian AS. Pasar menurunkan probabilitas rate hike pada September 2026 ke ~65% per Senin (3/8) menurut CME FedWatch Tool (vs ~82% seminggu sebelumnya, 27/7), meski The Fed menahan suku bunga dengan disertai perbedaan pendapat dari 3 anggota komitenya yang menginginkan kenaikan.
Sejalan dengan itu, dolar AS melemah dan harga emas naik. Di pasar obligasi AS, yield tenor pendek turun mengikuti ekspektasi suku bunga yang lebih rendah, sementara yield tenor panjang justru naik, mengindikasikan pasar masih meminta kompensasi lebih tinggi untuk risiko inflasi jangka panjang.
Untuk Indonesia:
Konsensus kini masih memperkirakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga pada 3Q26 dan menahannya hingga awal tahun 2027. Hal ini berpotensi disebabkan oleh prospek suku bunga AS yang masih diekspektasikan naik tahun ini, meski BI sudah menaikkan suku bunga lebih dulu sebesar 100 bps pada Mei–Juni 2026. Namun konsensus tersebut disusun sebelum data inflasi Juli dipublikasikan. Inflasi IHK yang melandai di bawah ekspektasi konsensus disertai penurunan harga minyak setelah de-eskalasi akhir pekan lalu, berpotensi mengurangi ekspektasi kenaikan tersebut.
Sementara itu, S&P Global Ratings menilai pengunduran diri gubernur BI tidak berdampak langsung pada sovereign rating, meski dapat menambah risiko prospek kebijakan. Artinya, dampaknya lebih mungkin muncul pada volatilitas yield obligasi dibandingkan pada rating kredit Indonesia selama gubernur definitif belum ditunjuk.
Why Should I Care?
Tekanan eksternal berkurang setelah de-eskalasi di Timur Tengah menurunkan harga minyak dan probabilitas kenaikan suku bunga AS. Ketidakpastian yang tersisa kini datang dari dalam negeri, yaitu belum adanya kepastian gubernur Bank Indonesia selanjutnya. Yield obligasi tenor 10 tahun masih tercatat tinggi di ~7,3% (+127 bps YtD) dengan foreign inflow +Rp5,11 triliun pekan lalu (+Rp6,55 triliun dalam sebulan terakhir).
Foreign inflow obligasi yang masih positif selama sebulan terakhir dan S&P yang mengatakan bahwa pengunduran diri gubernur BI tidak berdampak langsung pada sovereign rating Indonesia memberi sedikit optimisme soal bagaimana investor asing melihat risiko transisi kepemimpinan BI saat ini. Di pasar saham, IHSG menguat +10,51% pada Juli 2026, meski penguatan tersebut lebih ditopang investor domestik karena foreign flow saham masih negatif di pasar reguler.
Yang perlu diperhatikan ke depan: pengumuman gubernur Bank Indonesia definitif beserta reaksi pasar terhadapnya, serta apakah de-eskalasi di Timur Tengah bertahan. Keduanya akan menentukan pergerakan nilai tukar rupiah dan yield obligasi Indonesia ke depan.
Di tengah masa transisi ini, Reksa Dana Pasar Uang dapat menjadi pilihan untuk menjaga likuiditas dan stabilitas portofolio, sesuai dengan profil risiko masing-masing investor. Reksa Dana Pasar Uang USD juga dapat menjadi salah satu cara mendiversifikasi eksposur terhadap risiko pelemahan rupiah.
Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD)
| |
Sucorinvest Money Market USD |
|
Return +12,95% dalam Rupiah Setahun Terakhir |
Return +3,55% dalam US Dollar Setahun Terakhir |
| |
BRI Seruni Likuid Dolar |
|
Return +12,79% dalam Rupiah Setahun Terakhir |
Return +3,40% dalam US Dollar Setahun Terakhir |
Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 3 Agustus 2026.
Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan.
| Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit | |||||||||||||
|
|||||||||||||
|
Return reksa dana per 3 Agustus 2026. |
| Top Obligasi FR Jangka Pendek di Bibit | ||||||||
|
||||||||
|
Yield per 4 Agt 2026 pada jam market 10.30-14.00 WIB |
Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.
In Case You Missed It
🔎Bibit Insights: Obligasi FR Mana yang Paling Menarik Saat Ini? – Obligasi PBS030 (tenor 2 tahun) menawarkan yield yang tidak jauh berbeda dari seri lainnya dengan sisa tenor lebih panjang. Artinya, investor tidak perlu mengunci dana dalam jangka waktu yang sangat panjang untuk memperoleh yield yang kompetitif.
Other Articles
🚗 ASII: Laba Bersih 1H26 (-19% YoY) Masih Lemah, Potensi Pulih Signifikan pada 2H26 – Astra International (ASII) mencatat laba bersih Rp6,7 T pada 2Q26 (-22% YoY, +14% QoQ), sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai Rp12,5 T (-19% YoY).
🤑 TINS 1H26: Laba Bersih +805% YoY, Lampaui Ekspektasi – Timah (TINS) mencatat laba bersih Rp2,7 T pada 1H26 (+805% YoY), melampaui ekspektasi (70% estimasi 2026F konsensus Rp3,9 T).
🏦 BBCA: Laba Bersih +2% YoY pada 1H26, Loan Yield Mulai Naik – Bank Central Asia (BBCA) mencatat laba bersih Rp14,9 T pada 2Q26 (+0% YoY, +1% QoQ), sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai Rp29,5 T (+2% YoY) dan sejalan dengan ekspektasi.





Comments are closed.