Thu,30 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Business
  3. Dampak Serangan ke Iran Masih Teka-teki, Harga Minyak Bersiap Bergerak Liar Pekan ini

Dampak Serangan ke Iran Masih Teka-teki, Harga Minyak Bersiap Bergerak Liar Pekan ini

dampak-serangan-ke-iran-masih-teka-teki,-harga-minyak-bersiap-bergerak-liar-pekan-ini
Dampak Serangan ke Iran Masih Teka-teki, Harga Minyak Bersiap Bergerak Liar Pekan ini
service

KABARBURSA.COM — Pasar minyak yang tutup selama akhir pekan lalu memberi jeda sejenak bagi pelaku energi global. Namun ketika perdagangan dibuka kembali, harga diperkirakan tidak akan bergerak tenang. Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran baru baru ini memunculkan ketidakpastian baru terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Dilansir dari AP, sejumlah skenario sebelumnya memperkirakan lonjakan harga hanya berlangsung singkat bila serangan tidak menyentuh jalur distribusi minyak atau fasilitas utama seperti pipa Iran dan terminal ekspor di Pulau Kharg. Dalam kondisi itu, kenaikan harga lebih didorong sentimen ketimbang gangguan riil pada suplai.

Situasi akan berbeda bila infrastruktur energi atau lalu lintas kapal tanker terganggu, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia. Risiko pada titik ini dinilai sebagai faktor yang dapat memicu kenaikan harga lebih tinggi dan bertahan lebih lama.

Harga minyak sebenarnya sudah bergerak naik sebelum serangan terjadi. Minyak mentah Brent pada penutupan Jumat pekan lalu berada di level USD72,87 per barel atau sekitar Rp1,22 juta per barel, tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.

Peran Ekspor Iran dan Ketergantungan China

Iran mengekspor sekitar 1,6 juta barel minyak per hari. Sebagian besar mengalir ke China, terutama ke kilang swasta yang tidak terlalu terpengaruh oleh sanksi Amerika Serikat. Bila aliran tersebut terganggu, pembeli di China akan mencari pasokan pengganti di pasar global. 

Perpindahan sumber pasokan itu berpotensi mendorong harga naik karena meningkatkan persaingan di pasar internasional.

Di sisi lain, Selat Hormuz tetap menjadi pusat perhatian. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas setiap hari melalui jalur ini. Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab mengirimkan sebagian besar ekspor mereka lewat perairan tersebut.

Meski demikian, sejumlah analis menilai Iran tidak memiliki insentif untuk menutup selat itu. Langkah tersebut justru akan memutus jalur ekspor mereka sendiri dan merugikan China sebagai pembeli utama.

Skenario Kenaikan Harga

Dalam skenario konflik terbatas yang hanya menyasar program nuklir dan Garda Revolusi tanpa perubahan rezim atau perang terbuka, kenaikan harga diperkirakan berada di kisaran USD5 hingga USD10 per barel atau sekitar Rp84.250 hingga Rp168.500. Lonjakan tersebut lebih dipicu oleh faktor kekhawatiran pasar.

Namun skenario berbeda muncul bila konflik meluas dan mengganggu lalu lintas kapal tanker. Harga minyak berpotensi melampaui USD90 per barel atau sekitar Rp1,52 juta. Dampaknya akan terasa hingga ke harga bahan bakar di Amerika Serikat yang bisa melonjak jauh di atas USD3 per galon atau sekitar Rp50.550 per galon. Pekan lalu harga rata-rata bensin di negara itu masih berada di level USD2,98 per galon atau sekitar Rp50.213.

Dengan berbagai kemungkinan yang masih terbuka, pelaku pasar energi kini berada dalam fase menunggu. Pergerakan harga pada pekan ini akan menjadi indikator apakah konflik hanya memicu reaksi jangka pendek atau benar-benar mengganggu rantai pasok global.

Ketidakpastian itu membuat minyak kembali menjadi barometer utama situasi geopolitik. Selama jalur distribusi tetap aman, lonjakan harga cenderung terbatas. Namun bila gangguan terjadi di Selat Hormuz atau fasilitas ekspor utama, pasar energi berpotensi memasuki fase tekanan yang lebih panjang dan memicu efek berantai terhadap inflasi serta biaya energi di berbagai negara.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.