M. Deni Maulana masih mengingat betul satu momen yang sulit hilang dari kepalanya. Saat kondisi ekonomi keluarga sedang terpuruk, sang ibu terpaksa harus menjual cincin kesayangannya. Uang itu dipakai agar Deni tetap bisa sekolah dan punya uang makan.
“Dari peristiwa itu saya belajar bahwa cinta seorang ibu tidak selalu berbentuk kata-kata, tetapi pengorbanan yang sering kali tidak terlihat,” kenang Deni, dikutip dari laman UGM, Rabu (6/6).
Cerita itu terjadi jauh sebelum namanya dikenal sebagai Mahasiswa Berprestasi Utama UGM 2026. Jauh sebelum ia mengoleksi ratusan penghargaan dan jauh sebelum ia berdiri di panggung kompetisi internasional membawa puisi berbahasa Indonesia hingga Korea Selatan.
Deni bukan lahir dari keluarga akademisi. Ia anak bungsu dari tiga bersaudara asal Cianjur. Ayahnya bekerja sebagai buruh tani serabutan. Ibunya menjadi pekerja migran di Yordania sejak Deni berusia enam tahun.
Masa kecilnya berjalan tidak sebagaimana kebanyakan anak lain. Kondisi ekonomi keluarga membuat ia bahkan tidak sempat merasakan bangku taman kanak-kanak. Ketika masuk SD, ibunya sudah harus berangkat ke luar negeri demi menyambung hidup keluarga.
Situasi makin berat ketika ayahnya meninggal dunia saat Deni masih duduk di bangku SMA lima tahun lalu. Di masa itu, ia sempat takut tidak bisa melanjutkan pendidikan.
Akan tetapi, justru dari sana, Deni menemukan alasan untuk terus sekolah.
“Keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk bermimpi besar,” ujarnya.
Puisi yang Mengubah Jalan Hidup
Deni menemukan jalannya untuk melanjutkan pendidikan lewat sastra. Sejak SMA, ia aktif mengikuti lomba bahasa dan sastra. Ia menekuni baca puisi dengan serius. Dari situ, satu per satu prestasi mulai ia kantongi sebagai bekal masuk perguruan tinggi.
Semasa sekolah, Deni berhasil mengoleksi lebih dari 200 penghargaan.
Salah satu pengalaman penting dalam hidupnya adalah saat ia meraih medali emas Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Baca Puisi tingkat nasional.
FLS2N sendiri merupakan ajang kompetisi seni nasional untuk siswa sekolah yang diselenggarakan pemerintah. Kompetisi ini cukup bergengsi karena pesertanya merupakan perwakilan terbaik dari tiap daerah di Indonesia.
Prestasi itulah yang kemudian membuka jalan Deni masuk Universitas Gadjah Mada melalui jalur SNBP.
“Saya lolos di UGM melalui jalur SNBP. Salah satu yang membawa saya masuk UGM adalah karena saya menjadi peraih medali emas FLS2N Baca Puisi tingkat Nasional,” katanya.
SNBP atau Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi adalah jalur masuk perguruan tinggi negeri tanpa tes tertulis. Penilaiannya berdasarkan prestasi akademik maupun non-akademik selama sekolah.
Kini, Deni tercatat sebagai mahasiswa semester 6 Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya UGM angkatan 2023.
Ia juga menjadi penerima Beasiswa Indonesia Maju (BIM), program beasiswa pemerintah untuk siswa dan mahasiswa berprestasi. Beasiswa ini menanggung biaya pendidikan penerimanya hingga lulus.
Mengajak Ibunya Tinggal Bersama di Yogyakarta
Sejak semester pertama kuliah, ia memilih mengajak ibunya tinggal bersama di Yogyakarta. Deni memboyong ibunya dari kampung halaman, Cianjur.
Dari dana beasiswa yang diterimanya, Deni menyewa kontrakan sederhana agar bisa hidup dekat dengan ibunya.
Semasa kecil, ia terlalu lama hidup terpisah karena ibunya bekerja di luar negeri. Setelah ayahnya meninggal pada 2021, Deni tidak ingin kembali kehilangan waktu bersama orang yang paling berjasa dalam hidupnya.
“Bagi saya, ibu adalah segalanya, prioritas utama dalam hidup saya. Jika ada yang bertanya apa kunci saya bisa sampai di titik ini, bahkan menjadi Mahasiswa Berprestasi Utama UGM, maka jawaban saya sederhana, doa ibu,” katanya.
Menjadi Mahasiswa Berprestasi UGM Sejak Semester Satu
Gelar Mahasiswa Berprestasi Utama UGM 2026 ternyata sudah ia targetkan sejak lama.
Deni mengaku sudah mempersiapkan diri sejak semester pertama. Ia sadar, sebagai anak buruh tani dengan orang tua lulusan SD, dirinya harus bekerja lebih keras dibanding banyak orang lain.
“Keinginan menjadi mapres sudah ada sejak semester 1,” ujarnya.
Selama lima semester, Deni membangun portofolio secara konsisten. Ia aktif ikut kompetisi nasional dan internasional. Ia juga terlibat dalam organisasi, pengabdian masyarakat, volunteer, hingga menjadi mentor beasiswa.
Bahkan, ia mendirikan kelas bimbingan puisi bernama Puisi Akademia.
Tidak berhenti di situ, Deni juga aktif membuat konten pendidikan tentang masuk perguruan tinggi dan beasiswa. Dari situ, ia membuka kelas bimbingan beasiswa gratis yang diikuti ratusan siswa.
“Alhamdulillah, hingga hari ini saya bisa meraih lebih dari 150 lebih penghargaan selama di UGM, baik dalam akademik maupun non akademik,” ujarnya.
Dari Korea Selatan hingga Konser Kemerdekaan
Perjalanan Deni kini tidak lagi hanya dikenal di tingkat nasional.
Ia pernah menjadi Winner International Korean Poetry Reading Contest di Korea Selatan tahun 2025. Ia juga meraih juara pertama International Literature Festival Poetry Reading Competition di Malaysia tahun 2024.
Selain itu, ia mendapat Grand Prize Award South Korea Global Start-Up Idea Competition 2025.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika bertemu peserta dari berbagai negara dalam kompetisi di Korea Selatan.
Tak hanya itu, ia pernah terpilih menjadi bagian dari Gita Bahana Nusantara Republik Indonesia dan dipercaya menjadi pembaca puisi dalam Konser Kemerdekaan.
Gita Bahana Nusantara merupakan program nasional yang mempertemukan putra-putri terbaik daerah untuk tampil dalam rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan RI.
Punya berbagai prestasi jelas tidak mudah. Deni pun pernah merasakan kerikil lain dalam hidupnya.
Saat kecil, ia pernah mengalami perundungan. Ketika mulai bermimpi kuliah di UGM, ada banyak orang yang menganggap cita-citanya terlalu tinggi untuk anak buruh tani.
“Saya pernah mendapatkan bullying, tapi saya ingin membuktikan dan membalasnya dengan prestasi,” katanya.
Alih-alih menyerah, Deni justru menjadikan keraguan orang lain sebagai motivasi untuk terus bergerak.
“Mimpi tidak pernah salah. Yang salah hanya jika kita menyerah sebelum mencobanya,” tegasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News



Comments are closed.