Sun,19 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Eksploitasi Seksual Hingga Femisida: Realita Pekerja Seks yang Tak Banyak Dibicarakan

Eksploitasi Seksual Hingga Femisida: Realita Pekerja Seks yang Tak Banyak Dibicarakan

eksploitasi-seksual-hingga-femisida:-realita-pekerja-seks-yang-tak-banyak-dibicarakan
Eksploitasi Seksual Hingga Femisida: Realita Pekerja Seks yang Tak Banyak Dibicarakan
service

Aku tidak pernah membayangkan anganku di masa-masa kuliah terwujud ketika bekerja. 

Jika kalian menebak tentang pergi ke destinasi-destinasi cantik di dunia. Kalian salah. Aku justru bermimpi bisa melakukan perjalanan ke titik-titik lokasi prostitusi di dunia seperti Lydia Chacho. 

Lidya adalah jurnalis perempuan favoritku. Dia berhasil menulis cerita-cerita perempuan yang diperdagangkan keluarganya atau memilih menjadi seorang pekerja seks dalam bukunya, “Bisnis Perbudakan Seksual”.

Tentu perjalanan ini tidak sekeren Lydia Cacho yang menelusuri bisnis prostitusi di beberapa negara seperti Jepang, Turki, dan beberapa negara Asia lainnya. Tapi aku memiliki kesempatan berkunjung ke beberapa lokasi di mana pekerja seks bekerja. Meski dalam skala kecil seperti rumah, kafe, indekos, tempat pijat dll, yang ada di beberapa wilayah di Indonesia. 

Ini mengajariku banyak hal serta membuka mataku atas realita pekerja seks yang selama ini tak banyak dibicarakan. Dalam ruangan-ruangan tersembunyi itu, para pekerja seks bekerja keras meski dengan segala ancaman bahaya yang mengintai.

Jika kalian menganggap bahwa pekerja seks adalah pekerjaan termudah di dunia karena “tinggal ngangkang doang”. Kalian salah. 

Pekerjaan ini taruhannya nyawa. Kamu bisa mati kapan pun dengan cara paling aneh sekalipun. Dari banyak cerita mereka, mereka tak jarang mengalami berbagai situasi kekerasan. Mulai dari pengguna jasa yang tidak membayar setelah menggunakan jasanya hingga mereka yang dipukul, diseret, bahkan dibunuh oleh pengguna jasa (femisida).

Di tulisan ini, aku bakal membawamu menemui mereka, para pekerja seks (dengan nama samaran) di beberapa kota di Indonesia. Sebagai peringatan, cerita yang kutuliskan mungkin akan memicu trauma karena beberapa di antaranya memuat tentang kekerasan. 

Marginalisasi Pekerja Seks: Narasi Berita Hingga Femisida 

Judul berita “Wanita PSK Dibunuh Pelanggan Sempat Diminta Suami Setop Open BO”,  “Wanita Open BO Dibunuh di Kos, Pelaku: Tak Sesuai Perjanjian”, “Detik-Detik PSK di Bekasi Dibunuh Pelanggan karena Tergiur Isi Dompet”, dan sederet berita pembunuhan pekerja seks lainnya. 

Membaca judul-judul clickbait memancing amarahku. Sudah kehilangan nyawa pun, mereka masih dihakimi secara membabi-buta dan dituduh macam-macam. Rasanya hidup sebagai perempuan penuh dengan beban dan menjadi manusia nomor sekian. Apalagi perempuan termarginalkan seperti pekerja seks. Beban hidupnya semakin berlapis dan rentan.

Judul berita itu bukan hanya karangan. 

Ada puluhan bahkan ratusan perempuan yang terbunuh karena mereka pekerja seks. Salah satunya, sebut saja Rina, pekerja seks asal Deli Serdang. Tubuhnya terbujur kaku di atas kasur dengan lilitan kabel. Rina dibunuh dengan keji oleh pengguna jasanya setelah transaksi.

Awalnya, Rina dan pengguna jasanya bersepakat untuk melakukan hubungan seks hanya mereka berdua. Setelah sesi bercinta selesai, orang yang sedang mabuk itu membawa teman-temannya untuk bercinta juga dengan Rina. Rina jelas menolak karena tidak sesuai dengan kesepakatan. 

Orang yang menggunakan jasa dan teman-temannya mengamuk tidak terima dengan penolakan Rina. Mereka cekcok. Tubuh Rina dililit kabel dan mereka mencekik lehernya. Rina kehabisan napas. Ajal lebih dulu menjemputnya daripada pertolongan.

Rina tidak sendiri. Ada perempuan pekerja seks lainnya yang nyaris dibunuh. 

Tia, perempuan asal Batam, menceritakan janji temunya dengan seorang laki-laki yang berencana menggunakan jasanya. Sebelum menemui Tia, lelaki itu memakai narkoba. 

Tia bercerita bahwa jika melayani lelaki dalam pengaruh narkoba, maka durasinya akan semakin panjang. Namun, ia akhirnya tetap hadir melayaninya. 

“Penis lelaki yang ‘make’ susah bangun. Susah keluarnya,” kata Tia.

Benar saja, Tia harus melayani lebih dari tiga jam. Tidak ada perubahan. Segala upaya telah dilakukan Tia untuk membuatnya puas dengan layanannya. Kesabaran Tia mencapai ujung. Staminanya melemah. Tia menyerah. Ingin mengakhiri layanan itu, pulang. Lalu, beristirahat.

Dengan sisa-sisa tenaga, Tia memberi tahu kepada pengguna jasanya bahwa ia ingin mengakhiri sesi bercinta itu. Dia sudah berusaha maksimal. 

Orang itu tidak terima. Ia menempelkan pisau di leher Tia. Tia gelagapan. Tubuhnya dingin, ketakutan. Dengan sisa-sisa keberanian, Tia tetap bersikeras untuk pulang. Ia bernegosiasi dengannya untuk membiarkannya pulang. Tidak dibayar pun tidak apa. Cekcok terjadi di antara keduanya.

Dalam cekcok itu, Tia menang. Meski ia pulang tanpa dibayar jasanya. Bahkan, untuk biaya ojek online pun tidak diberikan. Hal yang terpenting saat itu, Tia bisa pulang dengan keadaan nyawa utuh. Tubuhnya hanya bergetar menghadapi situasi mencekam itu.

Rina dan Tia adalah bukti bahwa nyawa perempuan bisa melayang kapan saja. Seolah tidak memiliki nilai. Rina bekerja mati-matian untuk keluarganya tetapi, bukannya uang yang menghampirinya melainkan ajal. Tia juga telah memberikan semua performa terbaiknya. Tetapi pisau hampir saja memutus pembuluh darahnya.

Tubuh Perempuan Diperjualbelikan

Tidak setiap perempuan memiliki kendali atas tubuhnya sendiri. “My body, my choice” tidak untuk setiap orang. 

Beberapa perempuan dijual oleh ibu, ayah, paman, kakek, teman, bahkan orang yang baru dikenal. Mentari, perempuan yang tinggal di Jakarta, dijual oleh temannya. Ketika berusia 15 tahun, ayahnya meninggal dunia. Ibu Mentari tidak memiliki pekerjaan; kakaknya masih SMK dan adiknya masih bayi. 

Mentari akhirnya memutuskan untuk bekerja. Tetapi karena usia Mentari masih di bawah umur, pilihan pekerjaan sangat terbatas. Bermodalkan relasi pertemanan, Mentari memperoleh pekerjaan sebagai waiter di sebuah bar di Jakarta Barat.

Mentari mengira hanya akan mengantar minuman dan makanan saja ke pelanggan. Dugaan Mentari salah. Ia dijual oleh bosnya kepada lelaki berumur 38 tahun. Mentari tidak pernah melakukan hubungan seks, maka “harga jualnya” tinggi. Lelaki itu membayar Rp 5 juta untuk dapat menjadi lelaki pertama yang bercinta dengan Mentari.

Mentari diantar oleh utusan bos bar tersebut ke sebuah hotel. Di sana, Mentari diminta memakai lingerie yang menunjukkan lekuk tubuhnya. Air mata tumpah begitu saja. Ketakutan menyelubungi tubuh Mentari. Ia gemetar.

Lelaki itu menyadari Mentari menangis. Ia bertanya, “Kenapa menangis?”

Mentari menceritakan semuanya. Ayahnya meninggal dan ia terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Lelaki itu tersentuh hatinya. Ia membatalkan bercinta dengan Mentari.

Lepas dari pekerjaan itu. Mentari diajak teman ayahnya untuk bekerja sebagai waiter di sebuah kafe bar. Di sana Mentari memang menjadi waiter, mengantar minuman dan menemani tamu. Namun, payudara Mentari diraba-raba oleh pelanggan. Mentari pasrah saja.

Sampai pada suatu waktu, Mentari dijual oleh ibunya kepada lelaki. Dia dipaksa menikah dengan lelaki itu karena bersedia membayar hutang ibunya. Mentari menuruti permintaan ibunya. 

Di perjalanan pernikahannya, Mentari tidak diberikan nafkah oleh suaminya. Ia memilih menjajakan diri untuk menghidupi dirinya dan anaknya. Sejak saat itu, dia menjadi pekerja seks untuk bertahan di tengah keterbatasan pilihan pekerjaan untuknya.

Di salah satu kota pelabuhan di Kalimantan Selatan, anak-anak dijual oleh orang tua yang semestinya memberikan ruang aman. “Daripada keperawanan anak direbut oleh pacarnya. Lebih baik dijual.” 

“Keperawanan” menjadi komoditas legit yang diperjualbelikan tanpa persetujuan anak tersebut. Termasuk orang tua menjual keperawanan anaknya.

Tubuh perempuan seolah menjadi komoditas yang boleh diperjualbelikan oleh orang lain. Bukan karena kemauan perempuan itu sendiri. Nilainya akan semakin mahal jika belum pernah melakukan hubungan seksual. Setelahnya, “harga jual” relatif berdasarkan kesepakatan dengan pelanggan.

Kampanye “My body, my choice” berusaha untuk merebut narasi itu. Pilihan atas tubuh perempuan itu mestinya ada di tangan perempuan itu sendiri. Mereka bebas menentukan bagaimana tubuh mereka akan diperlakukan dan digunakan untuk apa. Bebas memilih pakaian. Bisa menentukan akan bercinta dengan siapa. 

Namun, sayangnya tidak semua perempuan memiliki kuasa atas tubuhnya sendiri. Beberapa dari mereka dikendalikan oleh orang lain.

KDRT di Pusaran ‘Kopi Pangku’

Jalur II merupakan jalan penghubung antara Kutai Kartanegara dengan Samarinda. Di sepanjang jalan tersebut terdapat warung kopi yang berderet. Warung kopi satu dengan kopi lainnya dipisahkan oleh hutan kecil yang rindang. 

Tidak jarang di balik pepohonan tinggi—tidak lebih dari 1 KM dari Jalur II—terdapat tambang dengan skala menengah sampai besar. Warung kopi Pangku menjual kopi dan menawarkan jasa seksual.

Tampilan warung-warung tersebut sangat sederhana. Dinding warung terbuat dari kayu yang dicat dengan warna hijau, biru, krem, putih, atau polos tanpa cat. Atapnya menggunakan asbes. Ruangan-ruangan di dalamnya hampir seragam, terdiri dari meja panjang dan kursi layaknya di warung-warung makan biasa. 

Ruangan itu digunakan untuk berbincang dengan pelanggan. Jika mereka menginginkan jasa layanan seksual, maka akan masuk ke dalam kamar-kamar di dalam warung.

Biasanya di setiap warung kopi dijaga oleh 2 – 5 perempuan. Mereka beroperasi dari siang sampai malam, bahkan sampai pagi buta (tergantung pemilik warung). 

Lani, pemilik warung kopi pangku di Jalur II, menceritakan pengalamannya selama bekerja. Beberapa tahun lalu, Lani dikejutkan dengan permintaan tolong dari teman satu profesi. Kepalanya bocor, dipukul batu oleh pelanggannya setelah bercinta. Lani kalang kabut membawa temannya ke IGD. Temannya selamat tetapi, hidupnya tidak sama lagi. Dia sulit diajak berkomunikasi karena benturan tersebut merenggut cara berpikir cepat dan logisnya.

Lani tinggal di warung kopi bersama suaminya dan satu rekan kerjanya. Ketika Lani melayani orang itu  lebih dari satu jam, suaminya curiga. Lani dicurigai menikmati bercinta dengan pelanggannya. Padahal, orang tersebut membayar lebih mahal untuk durasi yang lebih panjang. 

Lani mengiyakan karena membutuhkan uang untuk membayar kebutuhan sekolah anaknya yang harus dibayarkan keesokan harinya dan tidak bisa diundur.

Ketika selesai melayani pelanggan, Lani ditarik oleh suaminya. Lalu, dipukul dan diteror dengan berbagai pertanyaan. Lani melawan sebisanya. Semampunya. Kejadian tersebut tidak terjadi sekali. Lani dicurigai dan dipukul berkali-kali setelah melayaninya dengan durasi yang lama.

Lani dan temannya menjadi gambaran nyata bahwa pekerja seks rentan mengalami kekerasan. Bekerja di ruang-ruang privat, minimnya pengawasan membuat mereka sering kali berhadapan dengan kematian. Bercinta dengan orang yang berbeda setiap hari membuat mereka harus selalu mawas diri. Lengah sedikit, nyawa menjadi taruhannya.

Kerentanan Berlapis Pekerja Seks Perempuan

Menjadi perempuan saja sudah sangat berat. Apalagi memilih pekerjaan sebagai pekerja seks. Mereka sering kali dicap sebagai penghancur rumah tangga, calon penghuni neraka, tidak bermoral, bekerja tanpa skill (cari yang paling mudah, “cukup ngangkang”), dan sederet stigma buruk lainnya. Padahal, perempuan pekerja seks sangat rentan mengalami kekerasan baik oleh pengguna jasanya maupun pasangannya.

Pekerja seks rentan mengalami kekerasan fisik. Pemukulan, penyundutan, pemerkosaan, penusukan, dan ragam kekerasan fisik lainnya sering dialami oleh pekerja seks. Mereka bekerja di ruang-ruang privat dan pengguna jasanya yang datang tidak jarang dalam keadaan mabuk. 

Di bilik-bilik bercinta, mereka harus tetap mawas diri melayani pengguna jasanya meskipun mereka sendiri teler karena minuman.

Perempuan pekerja seks juga sering kali diperas oleh pasangannya. Jika mereka pulang tidak membawa uang, maka ancaman sumpah serapah meluncur dari mulut pasangannya. Bahkan pukulan bisa mendarat di tubuh mereka. Kekerasan ekonomi yang dialami pekerja seks juga kerap kali dilakukan oleh pelanggan. Misalnya, pengguna jasanya kabur setelah bercinta dan tidak membayar. 

Parahnya, di razia-razia penertiban, beberapa petugas berjanji akan membebaskan pekerja seks yang terciduk jika memberikan layanan seksual secara gratis. Mau tidak mau karena takut ditangkap maka pekerja seks memberikan sesi bercinta secara cuma-cuma.

Kekerasan yang dialami oleh perempuan pekerja seks tidak hanya berbentuk fisik dan ekonomi. Tetapi juga secara psikologis. 

Dalam penelitian bertajuk, Intersections of Sex Work, Mental Ill-Health, IPV and Other Violence Experienced by Female Sex Workers: Findings from a Cross-Sectional Community-Centric National Study in South Africa” (2021) menyebutkan bahwa perempuan pekerja seks memiliki kemungkinan besar mengalami depresi dan gangguan stres pascatrauma (PTSD) yang tinggi. 

Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa 52,7% mengalami depresi dan 43,6% mengalami PTSD. Hal ini sangat mungkin terjadi, mengingat berbagai kekerasan yang dialami perempuan pekerja seks dan setiap hari hidup dalam mode waspada. Mode bertahan dan waspada ini menjadi pilihan agar selamat di antara ancaman kekerasan dan kematian.

(Editor: Nurul Nur Azizah)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.