Pada usia 85, Goenawan Mohamad tidak sekadar meninggalkan deret tulisan. Ia meninggalkan cara membaca kekuasaan: pelan, curiga, dan tidak mudah tunduk pada bahasa yang merasa selesai.
Titimangsa 29 Juli 2026, Goenawan Mohamad genap berusia 85 tahun. Ulang tahun seorang penulis biasanya mengundang dua godaan. Pertama, kita menaruhnya di atas mimbar pujian. Kedua, kita meringkasnya menjadi daftar karya dan penghargaan. Dua cara itu mudah, tetapi kurang adil. Goenawan lebih menarik ketika kita membacanya sebagai orang yang terus bekerja di antara zaman yang berubah, dari republik muda, trauma 1965, Orde Baru, pembredelan pers, Reformasi, sampai dunia digital yang gaduh.
Ia lahir di Batang, Jawa Tengah, pada 29 Juli 1941. Ensiklopedia Sastra Indonesia mencatatnya sebagai penyair dan esais yang mulai menulis sejak SMA, menerjemahkan sajak Emily Dickinson pada 1960-an, bekerja di Harian Kami pada 1966, ikut mendirikan Ekspres pada 1970-1971, lalu memimpin Tempo sejak 1971 (Ensiklopedia Sastra Indonesia, n.d.). Data itu memberi garis awal. Namun garis hidup Goenawan tidak hanya berisi perpindahan dari satu redaksi ke redaksi lain. Ia berisi latihan membaca zaman dengan kalimat yang tidak mudah menyerah pada slogan.
Tempo dan Etika Bertahan
Tempo menjadi rumah paling menentukan bagi Goenawan. Situs resmi Tempo mencatat bahwa Goenawan dan kawan-kawannya mendirikan majalah itu pada 1971 dan ia menjadi pemimpin redaksinya pada masa yang sangat menentukan dalam sejarah pers Indonesia (Tempo, n.d.). Di sana ia mengasah bentuk jurnalisme yang memadukan laporan, gaya bahasa, keberanian, dan kecerdikan. Tempo tidak selalu melawan Orde Baru dengan teriakan. Sering kali ia melawan dengan susunan fakta, pilihan kata, dan keberanian menaruh peristiwa sensitif di depan pembaca.
Keberanian semacam itu menuntut keterampilan yang kini sering hilang. Seorang editor tidak cukup bertanya apakah sebuah tulisan benar. Ia juga harus bertanya bagaimana kebenaran itu dapat sampai kepada publik, bagaimana risiko ditimbang, dan bagaimana lembaga tetap hidup tanpa menjual prinsip. Dalam rezim yang suka mengawasi, menulis bukan hanya soal suara. Menulis juga soal napas panjang.
Pembredelan Tempo pada 1994 menunjukkan harga dari napas panjang itu. Committee to Protect Journalists mencatat bahwa Tempo kehilangan izin terbit setelah menurunkan laporan tentang pembelian kapal perang bekas dari Jerman Timur. Pemerintah juga membredel dua majalah lain. Setelah itu, Goenawan ikut mendorong pembentukan Aliansi Jurnalis Independen dan Institut Studi Arus Informasi (Committee to Protect Journalists, 1998). Negara dapat menutup kantor redaksi. Ia lebih sulit menutup kebiasaan berpikir yang sudah tersebar.
Catatan Pinggir dan Disiplin Bentuk Pendek
Dari semua karya Goenawan, Catatan Pinggir paling kuat melekat di ingatan pembaca. Rubrik ini mulai terbit pada 1976. Pada Catatan Pinggir 15, Goenawan menulis bahwa rubrik itu beristirahat setelah 46 tahun, 2.027 tulisan, sekitar 1,5 juta kata, dan 15 jilid buku (Mohamad, 2023, hlm. xiii). Angka itu mencengangkan, tetapi yang lebih penting ialah disiplin di baliknya.
Catatan Pinggir membuktikan bahwa tulisan pendek tidak harus dangkal. Goenawan sering memulai dari sesuatu yang kecil: satu tokoh wayang, sebaris puisi, berita perang, seorang filsuf, satu adegan film, atau satu kata yang tampak biasa. Lalu ia membawa pembaca ke perkara yang lebih besar: negara, kekerasan, agama, pasar, demokrasi, tubuh, dosa, dan kebebasan. Ia jarang menutup tulisan seperti orang mengetuk palu. Ia lebih suka meninggalkan percakapan yang belum selesai.
Di era media sosial, bentuk pendek sering berubah menjadi pelatuk kemarahan. Goenawan memberi contoh lain. Pendek bisa berarti padat. Pendek bisa berarti jernih. Pendek bisa memberi ruang untuk menunda reaksi. Ini pelajaran praktis yang keras bagi penulis hari ini. Jangan mengukur keberhasilan tulisan dari kecepatannya memancing setuju. Ukurlah dari kemampuannya membuat pembaca berpikir lebih lama.
Kebiasaan itu dapat diterapkan dengan cara sederhana. Mulailah tulisan dari benda konkret, bukan dari abstraksi. Periksa satu kata yang paling sering dipakai orang, lalu tanyakan siapa yang diuntungkan oleh kata itu. Jangan buru-buru menamai lawan sebagai musuh moral. Dalam Catatan Pinggir, hal semacam ini sering terjadi. Goenawan membiarkan sebuah kata tampak aneh kembali. Ia membuat pembaca merasakan bahwa kata yang setiap hari kita ucapkan, seperti rakyat, negara, iman, pasar, atau demokrasi, selalu membawa jejak kekuasaan.
Wayang dan Cara Mendengar yang Lain
Goenawan juga penting karena ia tidak menjadi intelektual yang hanya meneroka dunia dari rak buku Barat. Ia membaca Camus, Havel, Marx, Machiavelli, dan banyak nama lain. Namun ia juga terus kembali kepada wayang, punakawan, Wisanggeni, Karna, Sengkuni, kelir, dan kayon. Goenawan memakai logika wayang untuk mengganggu makna yang terlalu tertutup.
Wayang dalam tulisan Goenawan tidak hadir sebagai hiasan Jawa. Ia menjadi alat berpikir. Dalam wayang, suara tidak pernah tunggal. Ada raja, dewa, ksatria, punakawan, raksasa, dalang, gamelan, penonton, dan jeda. Yang tinggi dapat ditertawakan oleh yang rendah. Yang halus dapat diganggu oleh yang kasar. Yang tampak pusat dapat kehilangan wibawa karena satu kelakar punakawan.
Dari sini kita dapat mengambil kerja yang sederhana, tetapi jarang dilakukan: dengarkan suara pinggir sebelum membuat keputusan moral. Banyak keributan politik hari ini lahir karena orang terlalu cepat memilih kubu. Goenawan mengajari pembaca untuk menunda sebentar. Bukan agar kita netral terhadap ketidakadilan. Justru agar kita tidak meminjam bahasa kekuasaan ketika hendak melawannya.
Sisi yang Tidak Boleh Diputihkan
Menghormati Goenawan tidak berarti menjadikannya patung. Sejarah intelektual yang baik harus berani membaca sisi yang membuat kita tidak nyaman. Wijaya Herlambang menempatkan Goenawan dalam jaringan intelektual muda 1960-an yang beririsan dengan simpatisan PSI, liberalisme kebudayaan, dan wacana antikomunisme setelah 1965. Ia menyebut nama Goenawan bersama Wimar Witoelar, Arief Budiman, Taufiq Ismail, dan Soe Hok Gie dalam medan pertarungan antara Manifes Kebudayaan dan Lekra (Herlambang, 2011, hlm. 11, 52-54).
Pembacaan itu penting karena mencegah kita menyederhanakan Goenawan sebagai pembela kebebasan yang sejak awal berdiri di luar semua konflik. Ia lahir dari konflik. Ia ikut berada dalam jaringan yang memiliki pilihan politik dan kebudayaan tertentu. Sebagian pilihan itu kini perlu dibaca ulang dengan lebih kritis, terutama karena antikomunisme di Indonesia sering berhubungan dengan pengucilan, stigma, dan kekerasan budaya. Herlambang menunjukkan bahwa kebudayaan dapat ikut menormalkan kekerasan ketika simbol, sastra, ideologi, dan bahasa dipakai untuk membenarkan penghapusan lawan politik (Herlambang, 2011, hlm. 1-7, 23-29).
Justru karena itu Goenawan menjadi lebih manusiawi dan lebih penting. Ia bukan tokoh satu warna. Ia berubah, menulis ulang dirinya, dan terus berhadapan dengan zaman yang juga berubah. Membaca dia sebagai perjalanan memberi kita manfaat lebih besar daripada memajangnya sebagai lambang.
Cara membaca seperti ini juga melatih kejujuran publik. Kita sering ingin tokoh yang bersih dari retak. Padahal sejarah intelektual selalu berisi retak. Seorang penulis dapat terlibat dalam wacana tertentu pada satu masa, lalu mengkritik bentuk kekuasaan lain pada masa berikutnya. Tugas pembaca bukan menghukum semua masa lalu dengan satu palu. Tugas pembaca adalah melihat hubungan antara pilihan, konteks, perubahan, dan akibatnya. Dari sana penghormatan menjadi lebih dewasa.
Dari Sensor ke Kebisingan Digital
Goenawan mengalami dua jenis kekuasaan media. Jenis pertama datang dari negara yang mencabut izin, membredel, dan mengawasi. Jenis kedua datang dari dunia digital yang membanjiri ruang publik dengan komentar, fitnah, slogan, potongan video, dan amarah yang diproduksi setiap jam. Kekuasaan pertama menekan suara. Kekuasaan kedua membuat suara saling menenggelamkan.
Ross Tapsell menunjukkan bahwa digitalisasi di Indonesia menarik media ke dua arah. Di satu sisi, ia memperkuat konglomerat dan oligarki media. Di sisi lain, ia memberi warga ruang untuk membangun kampanye, menekan elite, dan menciptakan momen perlawanan digital (Tapsell, 2017, hlm. xii-xxiii). Dalam suasana itu, warisan Goenawan tidak cukup kita simpan sebagai nostalgia pers cetak. Ia perlu kita pakai untuk melatih disiplin baru: menulis singkat tanpa sembrono, membaca cepat tanpa mudah tertipu, dan menunda marah sebelum memeriksa bahasa sendiri.
Catatan Pinggir terasa relevan karena ia melawan dua penyakit sekaligus. Ia melawan sensor yang membungkam. Ia juga melawan kebisingan yang membuat orang berhenti berpikir. Di antara dua penyakit itu, Goenawan memilih pekerjaan yang tampak kecil: merawat kalimat.
Merawat kalimat terdengar ugahari, tetapi di sanalah politik bekerja. Satu kalimat dapat membuat korban terlihat sebagai angka. Satu kalimat lain dapat mengembalikan nama dan wajahnya. Satu judul berita dapat menyalakan prasangka. Satu esai pendek dapat menunda prasangka itu. Goenawan tidak selalu benar dalam setiap posisi. Namun ia memberi contoh bahwa bahasa publik harus kita perlakukan sebagai ruang etik. Siapa pun yang menulis di koran, kampus, media sosial, atau ruang kelas ikut bertanggung jawab atas ruang itu.
Cara Mewarisi Goenawan
Arkian, pada usia 85 tahun, Goenawan tidak membutuhkan pujian yang berlebihan. Ia lebih membutuhkan pembaca yang sanggup meneruskan cara kerjanya dengan jarak yang sehat. Bagi penulis muda, ia memberi contoh bahwa gaya lahir dari disiplin, bukan dari usaha terlihat pintar. Bagi jurnalis, ia menunjukkan bahwa bahasa adalah bagian dari etika publik. Bagi akademisi, ia mengingatkan bahwa teori dapat hidup dalam esai, wayang, puisi, dan fragmen. Bagi pembaca, ia memberi satu kebiasaan penting: curigalah pada kata-kata besar yang terlalu mudah merasa benar.
Kita tidak perlu menjadi Goenawan kecil. Itu justru cara paling buruk untuk mewarisinya. Yang lebih berguna ialah meniru keberaniannya menimbang kata, kerelaannya menyisakan ruang ragu, dan kesediaannya membaca ulang posisi sendiri. Ulang tahun ke-85 ini sebaiknya tidak kita perlakukan sebagai upacara.
Ia lebih baik menjadi jeda. Dari jeda itu, kita dapat bertanya: sudahkah kita membaca lebih pelan, menulis lebih jernih, dan mendengar mereka yang selama ini hanya muncul sebagai bayangan di pinggir percakapan?
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.




Comments are closed.