Jakarta, Arina.id — Jumlah korban tewas akibat gempa bumi besar yang mengguncang Jepang bertambah menjadi 34 orang. Tim penyelamat terus melakukan pencarian tanpa henti terhadap korban yang diduga masih terjebak di pusat perbelanjaan yang runtuh, sementara puluhan ribu warga menghadapi pemadaman listrik di tengah gelombang panas ekstrem.
Kantor Penanggulangan Bencana Prefektur Kumamoto pada Kamis (30/7/2026) mengumumkan pembaruan jumlah korban gempa yang terjadi pada Selasa (28/7/2026). Sebanyak tujuh jenazah berhasil dievakuasi dari reruntuhan pusat perbelanjaan Aeon yang dipenuhi puing beton, baja, dan kabel setelah diduga terjadi ledakan gas.
Selain itu, delapan orang dipastikan meninggal dunia di pabrik Nippon Paper Industries di Kota Yatsushiro setelah sebagian cerobong asap berwarna merah-putih runtuh akibat gempa.
Gempa bermagnitudo 7,1 itu juga menyebabkan lima orang mengalami luka kritis. Hampir 9.500 warga kini mengungsi di berbagai pusat evakuasi di wilayah Kyushu, Jepang barat daya.
Kerusakan akibat gempa terjadi secara luas. Ribuan rumah rata dengan tanah, sejumlah jembatan rusak, kebakaran terjadi di beberapa lokasi, serta puluhan ribu warga kehilangan akses listrik dan air bersih. Kondisi semakin berat karena suhu udara diperkirakan mencapai 38 derajat Celsius pada akhir pekan ini.
Hingga Kamis, sebanyak 13.520 rumah tangga masih mengalami pemadaman listrik.
Di salah satu pusat evakuasi di Kota Uki, ratusan lansia tidur beralaskan tikar tipis di lantai aula untuk menghindari panas menyengat. Jepang sendiri merupakan negara dengan populasi lansia terbesar kedua di dunia.
“Syukurlah ada tempat pengungsian ini,” kata seorang perempuan yang enggan disebutkan namanya dikutip dari AFP. Ia mengatakan bertahan di rumah atau di dalam mobil sangat sulit karena cuaca terlalu panas dan banyak nyamuk.
“Kalau tidak ada listrik dan pendingin ruangan dalam cuaca seperti ini, kondisinya sangat berat,” ujar Hiroyuki Matsushima (53), seorang pegawai supermarket dan ayah dari empat anak.
Bertahan di Dalam Mobil
Seorang pensiunan, Kenji Ota (72), mengaku terpaksa tidur di dalam mobil pada malam hari karena rumahnya tidak lagi memiliki aliran listrik maupun air.
“Gempa ini sangat kuat. Sangat mengerikan. Saya hanya bisa tidur sekitar dua jam setiap malam,” katanya.
Kota Hikawa menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah. Banyak bangunan tua roboh, sementara hingga Kamis warga masih belum mendapatkan pasokan air maupun listrik.
“Masalah terbesar adalah tidak ada toilet. Saya harus pergi ke sekolah terdekat,” ujar Kinuko Uemura (85). Ia bersyukur dirinya dan sang suami selamat setelah rumah tradisional mereka ambruk akibat gempa.
Soshiro Okawa (59), pemilik toko suvenir di tepi jalan, mengaku sedang berada di bagian belakang tokonya saat gempa terjadi.
“Ini pertama kalinya saya merasakan gempa yang benar-benar membuat permukaan tanah terangkat,” katanya.
Ia mendengar berbagai barang di tokonya berjatuhan dan pecah. Area parkir juga terangkat sehingga permukaan aspal retak, sementara fondasi bangunan tokonya mengalami kerusakan serius.
Tokonya untuk sementara ditutup. Namun, Okawa mengatakan ia tetap harus menjaga keberlangsungan usaha para petani pemasok serta memastikan para karyawannya tetap memiliki pekerjaan.
Ledakan di Mal Aeon
Pusat perbelanjaan Aeon sempat dievakuasi setelah gempa terjadi. Namun sekitar 50 menit kemudian, mal tersebut hancur akibat ledakan besar ketika jumlah pegawai yang masih berada di dalam gedung belum diketahui secara pasti.
Seorang pengusaha, Fumihiko Matsuura (56), mengatakan dirinya baru saja menonton film Toy Story di mal tersebut sekitar sepekan sebelumnya.
“Saya pernah berada di sini. Baru saja beberapa hari lalu. Rasanya seperti lolos dari bahaya,” ujarnya.
Rekaman dari dalam gedung menunjukkan petugas penyelamat mengenakan pakaian oranye dan helm putih menyusuri reruntuhan baja yang melintir, kabel-kabel yang menggantung, serta potongan plafon yang berserakan.
Di tengah situasi tersebut, sebanyak 25 ekor kucing yang berada di sebuah kafe kucing (cat cafe) di dalam mal berhasil diselamatkan. Kabar itu mendapat sambutan positif dan menjadi perbincangan luas di media sosial.
Siaran televisi juga memperlihatkan antrean panjang warga untuk mendapatkan bahan bakar dan air minum. Pemerintah telah mengirim ratusan unit pendingin ruangan ke berbagai lokasi pengungsian.
Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat kekuatan gempa sebesar magnitudo 6,8, sedikit lebih rendah dibandingkan pengukuran Badan Meteorologi Jepang yang menetapkan magnitudo 7,1.
Jepang merupakan salah satu negara paling rawan gempa di dunia karena berada di pertemuan empat lempeng tektonik utama yang membentuk kawasan Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire).
Prefektur Kumamoto sebelumnya juga pernah diguncang dua gempa besar pada 2016 yang menewaskan 273 orang dan melukai lebih dari 2.800 lainnya.
Negara kepulauan dengan sekitar 125 juta penduduk itu mengalami ratusan gempa setiap tahun dan menyumbang sekitar 18 persen aktivitas gempa bumi dunia. Sebagian besar gempa berkekuatan kecil, tetapi dampaknya bergantung pada lokasi dan kedalaman pusat gempa.
Jepang juga masih menyimpan trauma atas gempa bawah laut bermagnitudo 9,0 pada 2011 yang memicu tsunami dahsyat. Bencana tersebut menewaskan atau menyebabkan sekitar 18.500 orang hilang serta memicu kecelakaan nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima.





Comments are closed.