Sat,2 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Hampir Tiba Ramadhan, Ada Warga Aceh Tamiang Tidur di Kuburan, Bantuan Belum Juga Datang

Hampir Tiba Ramadhan, Ada Warga Aceh Tamiang Tidur di Kuburan, Bantuan Belum Juga Datang

hampir-tiba-ramadhan,-ada-warga-aceh-tamiang-tidur-di-kuburan,-bantuan-belum-juga-datang
Hampir Tiba Ramadhan, Ada Warga Aceh Tamiang Tidur di Kuburan, Bantuan Belum Juga Datang
service

Aceh Tamiang, NU Online

Derita warga terdampak bencana banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang Provinsi Aceh belum berakhir. Dua bulan lebih pascabencana, sebagian warga masih bertahan di tenda pengungsian. Bahkan, kabar memilukan menyebut ada yang terpaksa tidur di area kuburan karena tak lagi memiliki rumah untuk ditempati.

Kondisi ini menjadi sorotan banyak pihak, termasuk Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Aceh Tamiang, Tgk Sultan. Ia mengaku sangat prihatin mendengar langsung kisah warga yang belum mendapatkan bantuan memadai, padahal bulan suci Ramadhan tinggal menghitung hari.

“Ini bukan sekadar soal tempat tinggal yang rusak. Ini soal martabat manusia. Ada warga kita yang tidur di kuburan karena tidak tahu harus ke mana lagi. Sementara Ramadhan sudah di depan mata,” ujar Tgk Sultan dengan nada lirih, Jumat (13/2/2026).

Ia menyebut, sebagian korban belum menerima bantuan uang tunai untuk pemulihan ekonomi maupun perbaikan rumah. Bantuan sembako yang sempat diterima pun disebut hanya sekali dan berasal dari relawan, bukan dari skema bantuan pemerintah yang diharapkan.

Menurut Tgk Sultan, kondisi psikologis masyarakat kini semakin tertekan. Selain kehilangan harta benda, mereka juga dihantui ketidakpastian. Sebagian kepala keluarga terpaksa bekerja serabutan demi menyambung hidup, membersihkan rumah orang lain atau mengais sisa-sisa barang yang masih bisa dijual.

“Ramadhan seharusnya menjadi bulan penuh ketenangan dan persiapan ibadah. Tapi bagaimana mereka bisa khusyuk jika tempat berteduh saja tidak ada? Ini yang mengetuk hati kita semua,” katanya.

Ia juga menyoroti keluhan warga yang merasa janji bantuan belum terealisasi. Sejumlah program yang disebut-sebut akan membantu pelaku usaha kecil terdampak banjir, menurutnya belum menyentuh banyak korban di lapangan.

“Banyak yang mengaku tidak pernah menerima bantuan UMKM. Padahal mereka ingin bangkit. Mereka tidak meminta-minta, hanya ingin difasilitasi agar bisa berdiri kembali,” ujarnya.

Tgk Sultan berharap pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat, segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penanganan pascabencana. Ia meminta pendataan ulang korban secara transparan agar bantuan tepat sasaran.

“Jangan sampai ada warga yang tercecer dari data. Kalau memang ada kekurangan administrasi, dampingi mereka. Jangan biarkan mereka berjuang sendiri,” tegasnya..

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk pengurus masjid, dayah, dan komunitas sosial, untuk meningkatkan solidaritas menjelang Ramadhan. Menurutnya, tradisi gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Aceh harus kembali dihidupkan.

“Kita tidak boleh menunggu semua selesai dari atas. NU bersama elemen masyarakat siap bergerak. Tapi tentu peran pemerintah tetap sangat dibutuhkan, terutama untuk rehabilitasi rumah dan bantuan ekonomi jangka panjang,” katanya.

Menurut Tgk Sultan, tidur di kuburan bukan sekadar gambaran ekstrem, tetapi simbol betapa beratnya beban yang kini ditanggung sebagian warga. Ia khawatir, jika tidak segera ditangani serius, kekecewaan masyarakat akan semakin meluas.

“Harapan kami sederhana. Jangan biarkan Ramadhan datang dalam suasana duka yang berkepanjangan. Pastikan sebelum puasa tiba, ada langkah nyata yang dirasakan langsung oleh korban,” ujarnya.

Di tengah segala keterbatasan, ia tetap mengajak warga untuk menjaga kesabaran dan persaudaraan. Namun, ia menegaskan bahwa kesabaran masyarakat tidak boleh diuji tanpa batas.

“Kesabaran bukan berarti diam menerima keadaan. Kesabaran harus dibarengi ikhtiar dan keadilan. Kami berharap pemerintah benar-benar hadir, bukan hanya dalam rapat dan wacana, tetapi di tengah lumpur dan tenda pengungsian,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.