Hari ini tepat setahun lalu, 12 Juli 2025, sang pejuang sunyi itu wafat meninggalkan kita semua. Ada satu kalimat sederhana yang hingga hari ini masih tersimpan kuat dalam ingatan saya. Kalimat itu disampaikan Mas Imam Aziz di tengah perjalanan Muktamar Nahdlatul Ulama di Makassar tahun 2010.
Saat itu saya bertanya kepadanya, mewakili aktivis Jogja, mengapa beliau memilih terlibat begitu jauh dalam dinamika Muktamar, padahal selama bertahun-tahun beliau dikenal sebagai seorang aktivis kultural yang lebih banyak bergerak melalui jalur pendidikan, kebudayaan, pemberdayaan masyarakat, dan kerja-kerja intelektual di luar struktur organisasi.
Dengan senyum khasnya, beliau menjawab dengan bahasa Jawa yang sangat sederhana: “Wes jarke wae… iki aku lagi ijtihad. Nek ono apike iso dinggo wong akeh. Nek elek tak lekke dewe.“
(Biarkan saja. Saya sedang berijtihad. Kalau ada manfaatnya, semoga bisa dipakai orang banyak. Kalau ternyata keliru, biarlah saya sendiri yang menanggungnya.)
Pada saat itu saya mendengar kalimat tersebut sebagai jawaban spontan seorang senior, guru sekaligus sahabat. Namun setelah bertahun-tahun berjalan bersama beliau, saya baru memahami bahwa kalimat itu sesungguhnya bukan sekadar jawaban.
Ia adalah gambaran tentang cara Mas Imam Aziz memandang kehidupan, pengabdian, dan amanah. Beliau memahami bahwa setiap keputusan dalam kehidupan organisasi selalu memiliki ruang ketidakpastian. Tidak semua pilihan langsung mendapatkan pengakuan. Tidak semua ikhtiar segera dipahami oleh orang lain. Bahkan sering kali seseorang yang mengambil tanggung jawab justru harus siap menerima kritik dan kesalahpahaman.
Namun bagi seorang pengabdi, yang terpenting bukanlah bagaimana dirinya dinilai, melainkan apakah langkah yang diambilnya lahir dari niat menjaga sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Dan bagi Mas Imam, sesuatu yang lebih besar itu adalah Nahdlatul Ulama.
Setiap kali menjelang Muktamar NU, ingatan saya selalu kembali kepada beliau, seperti saat ini Muktamar tinggal sebulan lagi. Di tengah berbagai percakapan tentang siapa yang akan menjadi Rais Aam, siapa yang akan memimpin Tanfidziyah, bagaimana peta dukungan para kiai, dan ke mana arah organisasi setelah kepemimpinan baru terbentuk, saya justru teringat kepada seseorang yang sepanjang saya mengenalnya tidak pernah sibuk menghitung bagaimana mendapatkan posisi.
Namanya K.H. Imam Aziz
Dan, hari ini 12 Juli 2025 tepat setahun lalu, beliau berpulang ke rahmatullah, meninggalkan kami semua, dengan sekian idealisme, gagasan, nilai-nilai dan perjuangan beliau.
Saya mengenal beliau bukan karena membaca biografi tentang dirinya. Saya mengenalnya karena Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk berjalan bersama beliau dalam rentang waktu yang cukup panjang. Saya mengenalnya dari lingkungan Mathali’ul Falah Kajen-Pati, kemudian semakin dekat ketika saya mulai hidup di Yogyakarta, dan perjalanan itu berlanjut ketika saya mendampinginya dalam berbagai momentum penting Nahdlatul Ulama: mulai Muktamar Solo tahun 2004, Makassar tahun 2010, Jombang tahun 2015, hingga Lampung tahun 2021.
Rentang waktu hampir dua puluh tahun tersebut memberikan saya kesempatan untuk melihat seorang manusia bukan hanya ketika berada dalam ruang yang nyaman, tetapi juga ketika berada dalam situasi yang penuh tekanan. Saya melihat bagaimana beliau mengambil keputusan yang tidak mudah. Saya melihat bagaimana beliau menghadapi perbedaan pandangan.
Saya melihat bagaimana beliau menjalankan amanah besar tanpa menjadikan jabatan sebagai pusat perhatian. Dari perjalanan panjang itu, saya menemukan satu kesan yang semakin kuat: Mas Imam Aziz bukanlah sosok yang mengejar panggung. Beliau adalah sosok yang menjaga agar panggung itu tetap berdiri.
Sebab dalam sebuah organisasi besar, pekerjaan yang paling menentukan sering kali bukan pekerjaan yang paling terlihat. Ada orang-orang yang namanya selalu disebut karena tampil di depan. Namun ada pula orang-orang yang bekerja dalam ruang sunyi: menyambungkan komunikasi yang terputus, membuka pintu dialog ketika hubungan mulai renggang, menenangkan suasana ketika emosi mulai menguasai, dan memastikan organisasi tetap berjalan ketika berbagai kepentingan saling berhadapan.
Orang-orang seperti inilah yang sering kali menjadi penyangga sebuah organisasi. Dan bagi saya, Mas Imam Aziz adalah salah satunya.
Menjaga Rumah Besar Bernama Nahdlatul Ulama
Semakin lama saya mengenal Mas Imam Aziz, semakin saya memahami bahwa ada perbedaan antara orang yang ingin memiliki pengaruh dan orang yang ingin memberikan pengaruh. Orang yang ingin memiliki pengaruh biasanya akan berusaha memastikan dirinya terlihat, namanya disebut, dan perannya diakui.
Sementara orang yang ingin memberikan pengaruh justru lebih sibuk memastikan sesuatu yang diperjuangkannya berjalan dengan baik, meskipun dirinya tidak selalu berada di pusat perhatian. Nah, Mas Imam berada pada kategori yang kedua.
Beliau tidak pernah menjadikan NU sebagai panggung untuk membesarkan dirinya. Sebaliknya, beliau selalu melihat dirinya sebagai bagian kecil dari perjalanan panjang sebuah jam’iyah yang jauh lebih besar daripada siapa pun.
Cara pandang seperti ini penting untuk dipahami, sebab organisasi sebesar Nahdlatul Ulama tidak mungkin bertahan hanya karena kehebatan individu tertentu. NU bertahan karena selalu memiliki orang-orang yang bersedia merawat nilai, menjaga hubungan, dan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Bagi Mas Imam, menjaga NU bukan hanya berarti menjaga struktur organisasi. Lebih dari itu, menjaga NU berarti menjaga ruh yang selama ini membuat organisasi ini tetap hidup: tradisi musyawarah, penghormatan kepada ulama, penghargaan terhadap perbedaan, dan kemampuan merawat persaudaraan di tengah dinamika zaman.
Dalam pandangan beliau, perbedaan bukan ancaman bagi organisasi. Perbedaan adalah bagian dari kehidupan sebuah organisasi besar. Yang menjadi persoalan bukanlah adanya perbedaan, melainkan ketika perbedaan kehilangan adab dan berubah menjadi permusuhan.
Karena itu, dalam banyak momentum yang saya saksikan, Mas Imam lebih memilih menjadi penghubung daripada menjadi penghakim. Beliau lebih memilih membuka ruang percakapan daripada memperlebar jarak. Beliau memahami bahwa terkadang masalah terbesar dalam organisasi bukan karena orang-orang memiliki tujuan yang berbeda, tetapi karena komunikasi terputus dan prasangka dibiarkan tumbuh.
Di sinilah saya melihat salah satu kualitas kepemimpinan beliau yang sangat penting: kemampuan menjadi jembatan.
Menjadi jembatan bukan pekerjaan mudah. Sebab jembatan berdiri di antara dua sisi. Ia tidak sepenuhnya berada di satu tempat, tetapi justru karena itulah ia mampu menghubungkan dua tempat yang berbeda.
Konsekuensinya, jembatan sering kali menerima beban dari berbagai arah. Begitu pula orang yang memilih menjadi jembatan dalam sebuah organisasi.
Ia harus siap disalahpahami oleh banyak pihak. Ia harus siap dianggap kurang tegas oleh sebagian orang, atau dianggap terlalu dekat dengan pihak tertentu oleh pihak yang lain.
Namun tanpa orang-orang yang bersedia mengambil peran seperti itu, organisasi besar akan mudah kehilangan keseimbangan.
Dan salah satu pelajaran yang saya dapatkan dari Mas Imam adalah bahwa menjaga keseimbangan sering kali jauh lebih sulit daripada memenangkan pertarungan.
Muktamar Solo 2004: Ketika Persaudaraan dan Persatuan Lebih Besar daripada Kepentingan Kelompok
Pengalaman pertama yang sangat membekas bagi saya bersama Mas Imam Aziz adalah Muktamar NU ke-31 di Solo tahun 2004.
Muktamar tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan NU pasca reformasi. Sebagaimana lazimnya sebuah organisasi besar, Muktamar bukan hanya ruang untuk memilih kepemimpinan baru, tetapi juga ruang tempat berbagai pandangan tentang masa depan organisasi dipertemukan.
Pada saat itu, terdapat berbagai perbedaan pandangan mengenai arah NU. Ada yang menginginkan NU mengambil posisi tertentu dalam kehidupan kebangsaan. Ada yang mengingatkan agar NU tetap menjaga jarak dari kepentingan politik praktis. Ada pula berbagai evaluasi terhadap perjalanan organisasi setelah perubahan besar politik nasional. Semua pandangan tersebut lahir dari kecintaan kepada NU.
Namun dinamika organisasi sering kali menunjukkan bahwa perbedaan gagasan dapat membawa konsekuensi yang lebih luas ketika tidak dikelola dengan baik. Perbedaan pemikiran dapat berubah menjadi jarak personal. Perbedaan pilihan dapat berubah menjadi kecurigaan.
Dan ketika itu terjadi, yang dipertaruhkan bukan hanya hasil sebuah forum, tetapi hubungan antar individu yang selama ini menjadi penyangga organisasi. Di tengah suasana seperti itulah saya melihat cara Mas Imam bekerja.
Meski beliau mengkritik dengan keras dan tegas melalui Mubes Warga NU di Cirebon, beliau tidak sibuk mencari siapa yang harus dikalahkan. Beliau tidak masuk dalam suasana pertarungan yang membuat orang harus memilih antara satu pihak dan pihak lainnya.
Yang beliau pikirkan justru bagaimana agar setelah seluruh proses Muktamar selesai, NU tetap menjadi rumah nyaman yang sama bagi semua pihak.
Saya melihat bagaimana beliau menjaga komunikasi dengan berbagai tokoh. Beliau berusaha memastikan bahwa informasi tidak berhenti pada satu sisi saja. Beliau memahami bahwa sering kali konflik bukan lahir karena perbedaan yang sebenarnya terlalu jauh, tetapi karena pesan yang tidak sampai secara utuh.
Dalam situasi seperti itu, seseorang membutuhkan kesabaran untuk mendengar dan kebijaksanaan untuk memahami. Dan Mas Imam memiliki kemampuan tersebut.
Beliau tidak datang membawa kepentingan kelompok. Beliau datang membawa kepentingan jama’ah, demi dan untuk persaudaraan dan persatuan jam’iyyah.
Dari Muktamar Solo, saya mendapatkan pelajaran bahwa keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya diukur dari siapa yang memenangkan proses demokrasi internal. Keberhasilan yang lebih penting adalah apakah setelah proses itu selesai, semua pihak masih merasa menjadi bagian dari rumah yang sama.
Sebab organisasi yang sehat bukan organisasi tanpa perbedaan. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan persaudaraan.
Saya menjadi saksi dan melihat betul bagaimana beliau, dengan strateginya menjaga situasi dan kondisi saat itu yang cukup tegang dan bisa berujung konflik berkepanjangan, bagaimana tidak, ketika K.H. Sahal Mahfudh selaku Rais Aam PBNU ketika itu, berhadap hadapan langsung dan terbuka dengan keponakannya sendiri Gus Dur, yang seorang mantan Presiden dan Ketua Dewan Syuro PKB ketika itu.
Konflik memanas dan terbuka bahkan sampai membawa gerbong para kiai khos dan sepuh, dipicu atas evaluasi terhadap kepemimpinan K.H. Hasyim Muzadi karena membawa NU kedalam politik praktis menjadi calon wakil presiden bersama Megawati, dan kalah.
Saya merasakan suasana ketika itu betapa panas dan kerasnya, sampai-sampai Gus Dur mengkritik terbuka di TV terhadap pamannya sendiri yang sangat beliau hormati dan jadi salah satu mentor dan penasehatnya, awal-awal Gus Dur mengkonsolidir NU melawan orba tahun 90an, karena saya tahu betul bagaimana Gus Dur rutin sowan ke Kajen dan datang malam-malam sampai dini hari, karena waktu itu saya masih mondok di Pesantren Kiai Sahal.
Di Muktamar Solo, meski mas Imam Azis kecewa berat kepada NU ketika itu dan melakukan kritik keras melalui Mubes, beliau dengan telaten dan sabar, mempertemukan kepentingan beberapa pihak yang berseteru, khususnya antara Kiai Sahal Mahfudh dan Gus Dur, dengan menugaskan saya mengawal Kiai Sahal sepersetujuan Gus Rozin yang saat itu masih kuliah di Aussie dan tidak bisa pulang karena menunggu kelahiran anak pertama, sementara Mas Imam Azis langsung berkomunikasi dengan Gus Dur.
Akhirnya, kecurigaan dan tuduhan terhadap Kiai Sahal, bahwa beliau melindungi dan mendukung K.H. Hasyim Muzadi terbantahkan dan bisa tersampaikan langsung kepada Gus Dur, ketika itu saya dan Mas Imam, bertiga dengan Mas Marwan langsung menghadap Gus Dur di kamar hotel beliau, dan menyampaikan pesan Kiai Sahal, bahwa beliau tidak melindungi K.H. Hasyim Muzadi dan menerima siapapun yang dipilih oleh muktamirin asal melalui mekanisme yang sah, yaitu melalui pemilihan, tidak dengan melarang siapapun untuk mencalonkan diri.
Kiai sahal seorang fuqoha yang sangat taat azas dan konstitusional menjaga muru’ah organisasi dengan aturan yang ada, beliau tahu betul proses peralihan kepemimpinan yang dilakukan dengan cacat prosedur dan konstitusi akan menimbulkan berbagai persoalan baru dan kemungkinan perpecahan kedepan.
Akhirnya Gus Dur dapat menerima pesan dan penjelasan Kiai Sahal dan beliau menjawab: “Yaudah kalau Man Sahal tidak melindungi K.H. Hasyim Muzadi dan bersedia menerima siapapun yang akan jadi nanti, Muktamar aku anggap selesai, besok aku balik Jakarta, sekarang tugas kalian merayu Gus Mus.”
Lalu, kami langsung lanjut sowan Gus Mus setelah dari Hotel Lord In, singkat cerita Gus Mus tidak bersedia dengan alasan tidak diperkenankan oleh ibu beliau, meski Mas Imam dan ada Mbak Yenny ketika itu menjelaskan situasi lapangan seperti apa, dan hanya beliau yang bisa menghadang K.H. Hasyim Muzadi.
Salah satu pesan sowan Gus Dur dan Gus Mus, Kiai Sahal juga mengundang pertemuan di tempat beliau menginap di depan Stadion Manahan, namun ketika itu hanya Gus Dur yang datang, peristiwa itu tepat habis maghrib saat hujan deras bersamaan dengan kecelakaan jatuhnya pesawat Lion Air yang membawa korban beberapa Muktamirin diantaranya paman Gus Dur, K.H Yusuf Muhammad, yang terjadi Selasa (29/11/2004) pukul 18.15 WIB.
Saya tahu betul bagaimana kegigihan dan kesabaran Mas Imam Azis, menjalin komunikasi yang retak antar pimpinan dan tokoh NU ketika itu, di tengah kekecewaan beliau atas PBNU di bawah kepemimpinan K.H. Hasyim Muzadi, namun beliau mampu berpikir jernih dan taktis dengan melakukan lobi dan komunikasi langsung dengan para pihak supaya tidak ada reduksi dan pesan serta kepentingan yang dibelokkan oleh para pihak yang ingin NU pecah ketika itu.
Meski dengan berbagai kekecewaan karena tidak berhasil melakukan sukses kepemimpinan baru ketika itu dan respon pasca Muktamar cukup keras sampai Gus Dur mendeklarasikan NU tandingan, namun lambat laun akhirnya situasi bisa reda dan NU tidak jadi pecah, ini semua karena upaya-upaya yang dilakukan Mas Imam Azis ketika itu dan saya yakin karena kebesaran hati para sesepuh dan Kiai NU, khususnya Kia Sahal dan Gus Dur, yang dalam pertemuan habis maghrib yang bersejarah itu beliau berdua paman dan keponakan tidak banyak bicara bahkan Kia Sahal meneteskan air mata (sebagaimana diceritakan Gus Dur dalam sebuah tulisan beliau) beliau berdua benar-benar mencintai NU dan lebih mementingkan persatuan dan kesatuan daripada perpecahan dan memaksakan salah satu kepentingan pihak tertentu.
Inilah salah satu alasan mengapa setiap kali menjelang Muktamar saya selalu mengingat Mas Imam Aziz. Bukan karena beliau selalu berada di posisi paling depan. Justru karena beliau menunjukkan bahwa ada jenis kepemimpinan lain yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat menentukan: kepemimpinan yang bekerja untuk menjaga agar semua orang tetap memiliki tempat dalam satu rumah besar. Rumah besar itu bernama Nahdlatul Ulama.
Kagem almaghfurlah Mas Imam Azis, lahul fatihah..





Comments are closed.