Wed,29 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Business
  3. IHSG Turun dari Rekor Tertinggi 9.134, BEI Ungkap Penyebabnya

IHSG Turun dari Rekor Tertinggi 9.134, BEI Ungkap Penyebabnya

ihsg-turun-dari-rekor-tertinggi-9.134,-bei-ungkap-penyebabnya
IHSG Turun dari Rekor Tertinggi 9.134, BEI Ungkap Penyebabnya
service

KABARBURSA.COM – Bursa saham Indonesia mengalami tekanan cukup dalam sepanjang awal 2026 setelah sempat mencetak rekor tertinggi. Bursa Efek Indonesia mengungkap sejumlah faktor global dan domestik yang memicu pelemahan tersebut, mulai dari ketegangan geopolitik hingga keputusan lembaga keuangan global yang menurunkan outlook Indonesia.

Unit Kajian dan Analisis Ekonomi Divisi Riset Bursa Efek Indonesia menyebut pergerakan pasar saham selama hampir tiga bulan pertama 2026 dipenuhi dinamika global yang memengaruhi sentimen investor.

Dalam pemaparan edukasi wartawan secara daring, analis Divisi Riset BEI Anita Kezia menjelaskan kondisi pasar sejak awal tahun hingga pertengahan Maret diwarnai berbagai tekanan eksternal dan domestik yang membuat investor cenderung mengambil sikap menunggu.

“Situasi ekonomi dan pasar modal global saat ini penuh dinamika, terutama akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada volatilitas pasar,” ujar Anita dikutip Jumat, 13 Maret 2026.

Menurut dia, konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global. Ketegangan geopolitik tersebut tidak hanya berdampak pada pasar saham, tetapi juga memicu lonjakan harga komoditas energi seperti minyak dunia.

Lonjakan harga minyak tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global. Negara-negara yang memiliki ketergantungan tinggi pada pasokan energi dari Timur Tengah, termasuk sejumlah negara Asia, dinilai berpotensi menghadapi tekanan ekonomi tambahan.

Di sisi lain, pasar global juga masih dibayangi ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China yang sering disebut sebagai Trade War 2.0. Meski sejumlah kebijakan tarif sempat ditunda, ketidakpastian kebijakan perdagangan tetap memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi kenaikan inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

Ketidakpastian juga muncul dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump menunjuk Kevin Warsh sebagai calon pengganti Ketua The Fed Jerome Powell. Warsh dikenal memiliki pandangan kebijakan moneter yang cenderung lebih hawkish atau lebih ketat dalam mengendalikan inflasi.

Kombinasi faktor-faktor global tersebut membuat investor global menjadi lebih berhati-hati dalam menempatkan dana mereka di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia semakin terasa setelah indeks harga saham gabungan atau IHSG yang sempat mencetak rekor tertinggi mulai mengalami koreksi tajam.

IHSG Capai Level Tertinggi

Data BEI menunjukkan IHSG sempat mencapai level tertinggi sepanjang masa di 9.134,7 pada 20 Januari 2026. Namun setelah itu indeks mulai mengalami penurunan bertahap hingga berada di kisaran 7.585 pada 6 Maret 2026.

Anita menjelaskan penurunan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipicu oleh serangkaian peristiwa yang terjadi dalam waktu berdekatan.

“Pada awal tahun IHSG sempat mencapai all time high, tetapi setelah pengumuman MSCI terkait penundaan rebalancing indeks saham Indonesia, pasar mulai mengalami tekanan,” kata Anita.

Keputusan MSCI untuk menunda penyesuaian indeks saham Indonesia menimbulkan sentimen negatif di pasar karena berkaitan dengan isu transparansi kepemilikan saham.

Situasi tersebut memicu reaksi dari sejumlah lembaga keuangan global seperti Goldman Sachs, UBS, dan Nomura yang menurunkan rekomendasi investasi terhadap saham Indonesia.

Tekanan pasar juga diperkuat oleh perubahan outlook peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat global. Moody’s dan Fitch Ratings sama-sama menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Meski rating utang Indonesia masih berada pada kategori investment grade, perubahan outlook tersebut memunculkan kekhawatiran investor terhadap risiko fiskal dan potensi peningkatan biaya utang pemerintah di masa depan.

Ketidakpastian semakin meningkat setelah konflik militer di Timur Tengah memanas pada akhir Februari. Serangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia hingga sempat menembus kisaran 113 hingga 114 dolar AS per barel.

Kondisi tersebut diperparah dengan ancaman penutupan jalur pelayaran energi strategis dunia, yaitu Selat Hormuz.

Selat tersebut merupakan jalur penting bagi sekitar 20 persen pasokan minyak global. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat memicu krisis energi dan lonjakan harga minyak yang berdampak pada ekonomi global.

Harga Energi Meningkat Tajam

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal. Jika harga energi meningkat tajam, beban subsidi dan impor energi berpotensi menekan anggaran negara.

Meski IHSG mengalami penurunan signifikan, aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia justru menunjukkan peningkatan. Nilai transaksi harian rata-rata tercatat mencapai sekitar Rp29 triliun, meningkat sekitar 65 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Frekuensi perdagangan juga melonjak sekitar 84 persen menjadi sekitar 3 juta transaksi per hari. Sementara volume perdagangan saham meningkat sekitar 76 persen hingga mencapai 53,3 miliar lembar saham.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun indeks mengalami tekanan, aktivitas pasar modal Indonesia masih relatif aktif.

Dari sisi investor, data BEI menunjukkan pasar saham domestik masih didominasi investor ritel. Jumlah investor pasar modal juga terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Namun demikian, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih di pasar saham Indonesia sepanjang 2026. Hingga awal Maret, investor asing tercatat melakukan net sell sekitar Rp9,7 triliun.

Aksi jual tersebut terutama terjadi setelah pengumuman MSCI pada akhir Januari serta meningkatnya ketegangan geopolitik pada akhir Februari.

Di tengah tekanan pasar, sektor saham berbasis komoditas justru menunjukkan kinerja relatif lebih baik dibandingkan sektor lainnya. Sektor bahan baku atau basic materials menjadi salah satu sektor yang lebih tahan terhadap tekanan pasar karena didukung oleh harga komoditas global.

Saham-saham yang berkaitan dengan komoditas seperti nikel, batu bara, dan emas dinilai masih menarik bagi investor asing di tengah ketidakpastian global.

Meski berbagai tantangan masih membayangi, BEI menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap relatif kuat. Stabilitas inflasi, pertumbuhan ekonomi yang masih terjaga, serta reformasi pasar modal menjadi faktor yang diharapkan dapat menjaga daya tarik investasi di Indonesia.

Selain itu, regulator juga tengah mendorong berbagai reformasi pasar modal untuk meningkatkan transparansi dan likuiditas pasar. Salah satunya melalui rencana peningkatan batas minimum free float saham menjadi 15 persen serta penguatan transparansi kepemilikan saham melalui pengungkapan ultimate beneficial ownership.(*)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.