KABARBURSA.COM – Musim pembagian dividen berlanjut pada Juni. Sejumlah emiten bersiap membagikan laba kepada pemegang saham, beberapa di antaranya adalah PT Samindo Resources Tbk atau MYOH dan PT Kino Indonesia Tbk atau KINO.
Kedua emiten itu datang dari sektor yang berbeda. MYOH bergerak di jasa penambangan batu bara, sementara KINO berasal dari industri barang konsumen dan FMCG.
Meski berbeda sektor, keduanya memiliki satu kesamaan, yaitu menjaga tradisi distribusi dividen di tengah perubahan sentimen ekonomi dan volatilitas pasar saham.
MYOH menetapkan dividen tunai sebesar Rp59,08 per saham. Berdasarkan jadwal yang beredar di pasar, saham MYOH akan memasuki cum date pada 5 Juni 2025.
Sementara ex date dijadwalkan berlangsung pada 10 Juni 2025 dan pembayaran dividen dilakukan pada 26 Juni 2025.
Di sisi lain, KINO menetapkan dividen Rp45 per saham untuk tahun buku 2025. Saham KINO akan memasuki cum date pada 3 Juni 2026 dan ex date pada 4 Juni 2026.
Pembayaran dividen KINO dijadwalkan berlangsung pada 24 Juni 2026. Momentum tersebut membuat kedua saham mulai kembali diperhatikan investor pemburu yield.
MYOH Andalan Dividen Batu Bara
MYOH selama ini dikenal sebagai salah satu emiten jasa tambang batu bara yang cukup rutin membagikan dividen. Di tengah fluktuasi harga komoditas, perusahaan masih mampu menjaga distribusi laba kepada pemegang saham.
Pada 2024, MYOH membagikan dividen Rp22,29 per saham. Setahun sebelumnya, distribusi dividen mencapai Rp47,37 per saham.
Perusahaan bahkan pernah membagikan dividen jumbo Rp96,83 per saham pada 2021. Angka tersebut menjadi salah satu distribusi terbesar MYOH dalam beberapa tahun terakhir.
Konsistensi tersebut membuat saham MYOH cukup sering masuk radar investor income dan pemburu dividend yield. Arus kas operasional sektor batu bara yang sempat melonjak dalam beberapa tahun terakhir ikut menopang kemampuan distribusi laba perusahaan.
PT Samindo Resources Tbk sendiri bergerak di bidang investasi jasa penambangan batu bara dan pertambangan. Bisnis utama perusahaan meliputi kontraktor tambang, pengupasan lapisan tanah, pengangkutan batu bara, hingga jasa pendukung tambang lainnya.
Karakter bisnis seperti itu membuat kinerja MYOH sangat dipengaruhi aktivitas produksi batu bara nasional. Ketika produksi meningkat, kebutuhan jasa kontraktor tambang biasanya ikut bertambah.
Pasar tetap mencermati keberlanjutan dividen MYOH di tengah perubahan siklus komoditas global. Jika harga batu bara mulai melemah dalam jangka panjang, margin kontraktor tambang biasanya ikut menghadapi tekanan.
Meski begitu, rekam jejak distribusi MYOH sejauh ini masih dianggap cukup agresif dibanding banyak emiten jasa tambang lainnya.
KINO Dilirik Setelah Dividen Naik
Di sektor berbeda, KINO mulai menarik perhatian pasar setelah menaikkan nominal dividen tahun ini menjadi Rp45 per saham. Nilai tersebut menjadi yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2025, KINO membagikan dividen Rp32 per saham. Sementara pada 2024 distribusi dividen tercatat Rp22 per saham.
Perusahaan juga pernah membagikan dividen Rp10 per saham pada 2022 dan Rp12 per saham pada 2021. Kenaikan dividen tahun ini mulai dibaca pasar sebagai sinyal penguatan arus kas dan stabilitas operasional perusahaan.
KINO bergerak di bidang manufaktur dan distribusi barang konsumen terintegrasi. Produk perusahaan mencakup makanan dan minuman, perawatan tubuh, kesehatan, hingga farmasi.
Saat ini KINO memiliki 19 merek dengan 16 kategori produk. Beberapa produk perusahaan cukup kuat di pasar konsumen domestik dan masuk kategori top brand.
KINO juga memiliki usaha patungan bersama Morinaga & Company Limited dari Jepang melalui PT Morinaga Kino Indonesia. Kolaborasi tersebut dibentuk sejak 2013 untuk memperluas bisnis makanan dan nutrisi di Indonesia.
Pasar mulai melihat KINO sebagai salah satu emiten FMCG yang mampu menjaga diversifikasi bisnis di tengah kompetisi industri barang konsumsi yang semakin ketat.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.