Dalam ilmu genetika, ternyata seorang manusia adalah hasil persinggungan dari berbagai kromosom. Pada kromosom otosom, yang membentuk tubuh, kita adalah hasil dari persinggungan 50% kromosom Ayah dan 50% kromosom Ibu, 25% kromosom Kakek dan 25% kromosom Nenek dari pihak Ayah, 25% kromosom dari Kakek dan 25% kromosom Nenek dari pihak Ibu.
Komposisi itu terus dapat diperkecil jumlah kromosomnya hingga pada generasi ke-7, gantung siwur, yang tak ada 1% kromosom yang terwariskan. Dalam ilmu genetika, hanya kromosom otosom inilah yang dapat mengalami rekombinasi atau persinggungan yang kemudian menghasilkan kondisi diri kita, mulai dari bentuk tubuh, penyakit, hingga kecerdasan.
Dengan kata lain, apa yang disebut “Indonesia” pada kenyataannya adalah serupa diri kita itu, yang merupakan hasil warisan yang saling bersinggungan untuk menyatakan sebuah identitas yang tak akan pernah fixed.
Jadi, diri kita ataupun Indonesia, bukanlah sebuah identitas yang unik atau terisolir. Mereka ada adalah karena persinggungan.
Pada diri kita, hal itu adalah persinggungan kromosom para leluhur. Sementara pada Indonesia, hal itu adalah persinggungan segenap identitas yang selama ini melekat padanya: etnis, agama, bahasa, dsb.
Maka, dalam kebudayaan Jawa, tak heran ketika Kakek ataupun Nenek dahulu menunjuk sosok anak kandungnya dengan menyertakan nama cucunya, taruhlah “Bapakke Heru.” Hal ini, secara kebudayaan, adalah sebentuk pengingat bahwa meskipun keunikan ataupun perbedaan itu kentara, namun hal itu adalah tetap dalam kerangka persambungan ataupun persinggungan.
Kenyataan itulah yang saya istilahkan sebagai “intertonikalitas” yang beroperasi dengan logika musik (baca: Intertonikalitas: Perihal Awal Sekaligus Akhir Musik).
Di sinilah kemudian kita perlu berpikir ulang tentang perbedaan, yang secara struktural, dipandang mengakibatkan terciptanya makna ataupun identitas.
Diri kita ataupun Indonesia, pada dasarnya adalah tak ada. Pada kenyataannya, diri kita ternyata hanyalah 50% kromosom Ayah yang bersinggungan dengan 50% kromosom Ibu, dan seterusnya sampai generasi ke-7 yang menyisakan tak lebih dari 1% kromosom.
Sementara Indonesia, sebagaimana kita tahu, senyata-nyatanya hanyalah Jawa, Sunda, Bali, Dayak, Melayu, China, Arab, dst. (pada wilayah etnis). Juga Aliran Penghayat Kepercayaan, Hindu, Budha, Islam, Kristen, Katolik, dsb. (pada wilayah agama).
Maka, intertonikalitas yang saya rumuskan ini pada dasarnya adalah juga sebentuk paradigma untuk memahami bagaimana “Indonesia” tercipta dan bahkan terburai.
Dengan kata lain, untuk menyanggah strukturalisme, makna ataupun identitas senyatanya hanya ada dalam persinggungan dan persambungan. Ia tak pernah ada secara mandiri.
Pada titik ini, kita pun menjadi mengerti bahwa perbedaan ternyata bukanlah sebentuk ketegangan, perpisahan, dan bahkan pertentangan, sebagaimana yang selama ini kita asosiasikan.
Namun, dengan intertonikalitas pula kita mengerti bahwa meskipun makna ataupun identitas hanya ada dalam persinggungan dan persambungan (yang memungkinkan perbedaan tak lagi dianggap sebagai sebuah ketegangan, perpisahan, dan pertentangan), kesamaan ataupun kesatuan kemudian menjadi ada.
Ilmu genetika juga menyingkapkan bahwa di samping kromosom otosom yang mengalami persinggungan dan persambungan, kita atau sebagian dari kita juga mewarisi kromosom yang tak terputus dan hilang oleh ruang dan waktu. Pada beberapa laki-laki, kromosom itu adalah kromosom Y. Sedangkan pada beberapa perempuan, hal itu dikenal sebagai mitokondria.
Pada Indonesia, kromosom Y ataupun mitokondria itulah yang menjadikan Indonesia berbagi gema dengan Mataram Medang, Kahuripan, Kediri, Singasari, Majapahit, Pajajaran, Demak, Pajang, dsb. Dan pada gema, kita tak lagi berbicara, berpikir, dan bergerak, pada apa yang beda sekaligus pada apa yang sama.





Comments are closed.