Tue,28 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Technology
  3. Kasus Kanker Usus Usia Muda Naik, Peneliti Temukan Jejak Herbisida di DNA

Kasus Kanker Usus Usia Muda Naik, Peneliti Temukan Jejak Herbisida di DNA

kasus-kanker-usus-usia-muda-naik,-peneliti-temukan-jejak-herbisida-di-dna
Kasus Kanker Usus Usia Muda Naik, Peneliti Temukan Jejak Herbisida di DNA
service


Foto: klikdokter

Teknologi.id – Tren peningkatan kasus kanker usus besar (kolorektal) pada kelompok usia di bawah 50 tahun kini menjadi perhatian serius otoritas kesehatan global. Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine mengungkap temuan mengejutkan: adanya dugaan keterkaitan antara paparan bahan pembasmi gulma (herbisida) bernama picloram dengan meningkatnya kasus kanker mematikan ini pada pasien muda.

Temuan ini memberikan perspektif baru dalam dunia onkologi, yang selama ini lebih banyak mengaitkan kanker usus dengan faktor gaya hidup dan pola makan. Meskipun bersifat awal, identifikasi “sidik jari” DNA pada tumor pasien memberikan petunjuk teknis mengenai dampak paparan lingkungan terhadap integritas genetik manusia.

Identifikasi ‘Sidik Jari’ DNA pada Pasien Muda

Tim peneliti menggunakan pendekatan biologi komputasi untuk menganalisis pola mutasi pada tumor pasien kanker kolorektal. Mereka menemukan sebuah pola spesifik atau ‘sidik jari’ DNA yang mengindikasikan adanya paparan lingkungan tertentu yang dialami pasien sepanjang hidup mereka.

Awalnya, para ilmuwan mengidentifikasi faktor-faktor umum seperti kebiasaan merokok, obesitas, hingga pola makan rendah nutrisi. Namun, analisis data menunjukkan adanya korelasi kuat dengan paparan bahan kimia picloram

“Ketika kami melihat picloram, kami berpikir ini pasti kesalahan,” ungkap Jose Seoane, ahli biologi komputasi sekaligus penulis senior studi tersebut. Namun, setelah melakukan penelusuran mendalam, tim peneliti tidak menemukan penjelasan alternatif yang lebih kuat untuk menjelaskan pola mutasi tersebut.

Apa Itu Picloram dan Mengapa Berbahaya?

Picloram bukanlah bahan kimia baru dalam industri pertanian. Dikembangkan sejak dekade 1960-an, herbisida ini dikenal luas karena kemampuannya membasmi tanaman berkayu dan semak tanpa merusak rumput di sekitarnya.

Berikut adalah beberapa catatan teknis mengenai picloram yang menjadi fokus perhatian peneliti:

  • Daya Tahan Tinggi: Zat ini diketahui dapat bertahan lama di dalam tanah setelah diaplikasikan, sehingga meningkatkan risiko paparan jangka panjang melalui rantai makanan atau air tanah.

  • Sejarah Penggunaan: Picloram pernah digunakan dalam campuran bahan kimia (seperti dalam taktik pembukaan hutan di era Perang Vietnam) dan hingga kini masih digunakan secara luas di berbagai negara.

  • Gangguan Hormonal: Cara kerja zat ini adalah dengan mengganggu hormon pertumbuhan pada tanaman, yang kini diduga memiliki mekanisme dampak tertentu pada sel manusia.

Data analisis tambahan menunjukkan bahwa wilayah-wilayah dengan tingkat penggunaan picloram yang tinggi cenderung memiliki angka kasus kanker usus usia muda yang lebih besar dibandingkan wilayah lainnya.

Baca juga: Samsung Rilis Hearapy, Aplikasi Audio Pereda Mabuk Perjalanan Berbasis Sains

Batasan Penelitian: Hubungan Observasional


Foto: Freepik

Penting untuk dicatat bahwa para ilmuwan menekankan temuan ini masih bersifat observasional. Artinya, penelitian ini baru menunjukkan adanya korelasi atau hubungan, namun belum bisa membuktikan secara absolut bahwa picloram adalah penyebab langsung (causality) dari kanker kolorektal.

Faktor-faktor lain yang masih diselidiki meliputi:

  1. Gaya Hidup Modern: Kurangnya aktivitas fisik dan konsumsi makanan olahan.

  2. Infeksi Bakteri: Penelitian lain menyebut adanya hubungan antara kanker usus usia muda dengan infeksi bakteri colibactin pada masa awal kehidupan.

  3. Faktor Geografis dan Pekerjaan: Paparan pestisida pada pekerja lapangan atau penduduk yang tinggal di area pertanian intensif.

Baca juga: Susah Tidur? Ini Cara Cepat Tidur yang Terbukti Efektif Menurut Sains

Dampak pada Protokol Kesehatan Publik

Kekhawatiran akan lonjakan kasus ini telah memicu perubahan kebijakan di beberapa negara. Di Amerika Serikat, otoritas kesehatan telah menurunkan rekomendasi usia untuk memulai pemeriksaan rutin atau skrining kolonoskopi, dari semula 50 tahun menjadi 45 tahun. Langkah ini diambil sebagai mitigasi terhadap tren kanker dini yang penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami.

Rebecca Siegel, seorang epidemiolog kanker dari American Society, menyatakan bahwa komunitas ilmiah saat ini masih membuka semua kemungkinan. Ia menegaskan bahwa studi mengenai picloram adalah langkah penting, namun masih memerlukan konfirmasi melalui pengambilan sampel tumor yang lebih luas dari pasien yang tinggal di zona penggunaan herbisida tinggi.

“Semua kemungkinan masih terbuka saat ini,” pungkas Siegel, menekankan pentingnya riset lanjutan untuk memvalidasi temuan awal ini sebelum diambil kebijakan regulasi yang lebih ketat terhadap bahan kimia tersebut.

Baca berita dan artikel lainnya di Google News

(WN/ZA)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.