Mon,20 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Kekayaan Burung Indonesia 2026: 538 Spesies Endemis, Tersebar dari Sulawesi hingga Kalimantan

Kekayaan Burung Indonesia 2026: 538 Spesies Endemis, Tersebar dari Sulawesi hingga Kalimantan

kekayaan-burung-indonesia-2026:-538-spesies-endemis,-tersebar-dari-sulawesi-hingga-kalimantan
Kekayaan Burung Indonesia 2026: 538 Spesies Endemis, Tersebar dari Sulawesi hingga Kalimantan
service

Kekayaan Burung Indonesia 2026: 538 Spesies Endemis, Tersebar dari Sulawesi hingga Kalimantan


Daftar burung di Indonesia kembali mengalami perubahan. Hingga Januari 2026, tercatat 1.834 spesies burung di Indonesia, dengan 538 spesies di antaranya merupakan burung endemis, yaitu spesies yang seluruh sebaran alaminya hanya terdapat di wilayah Indonesia.

Dari sisi persebaran, Sulawesi memiliki jumlah spesies endemis tertinggi (159), diikuti Maluku (117), Jawa dan Bali (80), Papua (75), Nusa Tenggara (62), Sumatra (54), dan Kalimantan lima spesies. Angka per wilayah ini menunjukkan jumlah spesies endemis Indonesia yang tercatat hadir di wilayah tersebut.

Selain memperlihatkan kekayaan burung endemis, data ini juga menunjukkan kondisi keterancaman beberapa spesies burung di Indonesia secara global. Saat ini, 159 spesies burung di Indonesia tercatat berstatus terancam punah secara global, mencakup 29 spesies berstatus Kritis (Critically Endangered/CR), 49 spesies berstatus Genting (Endangered/EN), dan 81 spesies berstatus Rentan (Vulnerable/VU).

Perubahan status pada beberapa spesies terjadi karena adanya pembaruan data ilmiah yang memberikan gambaran lebih akurat mengenai kondisi populasi di alam.

Sementara itu, dari sisi jumlah spesies yang tercatat di Indonesia, tidak terjadi perubahan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, di balik angka yang tampak stabil tersebut, terjadi perubahan penting dalam kajian ilmiah. Sebanyak lima spesies baru ditambahkan ke dalam daftar, sementara enam spesies lainnya dikeluarkan setelah adanya pembaruan kajian taksonomi.

“Perubahan ini tidak sekadar memengaruhi angka total spesies, tetapi juga berkaitan dengan peninjauan ulang identitas serta batasan antarspesies,” tulis rilis Burung Indonesia.

Spesies burung yang ditemukan

Contohnya terlihat pada kelompok kangkok (Hierococcyx) di Kalimantan. Menurut kajian terbaru, kangkok gelap (Hierococcyx bocki) yang sebelumnya dianggap satu spesies ternyata berubah menjadi dua spesies. Dari kajian mendalam, ditemukan populasi kangkok gelap yang berada di Kalimantan memiliki karakter vokal yang berbeda dibandingkan dengan wilayah lain yang menjadi persebarannya, yaitu Sumatra dan Semenanjung Malaysia.

Oleh karena itu, statusnya dinaikkan menjadi spesies yang berbeda, yakni kangkok tiga-nada (Hierococcyx tiganada). Perubahan lain juga terjadi pada kelompok myzomela di Kepulauan Banda. Kajian terbaru menunjukkan bahwa myzomela banda yang sebelumnya dianggap satu spesies ternyata memiliki perbedaan suara yang kuat dan tidak saling merespons kicauan satu sama lain antara spesies myzomela di Pulau Tanimbar dan Pulau Babar.

Hasil penelitian ini membuat populasi spesies di dua pulau tersebut diperlakukan sebagai spesies tersendiri, yaitu myzomela tanimbar (Myzomela annabellae) dan myzomela babar (Myzomela babarensis).

Selain itu, ada pula spesies yang ditambahkan karena perkembangan pengetahuan mengenai sebaran habitatnya.

Puyuh-siul dulit (Rhizothera dulitensis) dimasukkan ke dalam daftar burung Indonesia karena penelitian menunjukkan bahwa habitat alaminya di pegunungan Borneo kemungkinan juga mencakup wilayah Kalimantan di Indonesia, meskipun catatan perjumpaan langsung masih terbatas.

Di sisi lain, beberapa spesies dikeluarkan dari daftar setelah hasil kajian terbaru menunjukkan bahwa mereka menjadi subspesies. Misalnya, paok sangihe dan paok siau yang kini kembali digabungkan ke menjadi subspesies paok sulawesi (Erythropitta celebensis).

Empat takson lain, seperti myzomela rote, sikatan kalao, sikatan bubik-sulawesi, dan burung-madu wakatobi, juga tidak lagi diperlakukan sebagai spesies tersendiri. Saat ini, keempatnya ditempatkan sebagai subspesies dari spesies kerabatnya, yaitu Myzomela dammermani irianawidodoae, Cyornisdjampeanuskalaoensis, muscicapa dauurica sodhii, dan Cinnyris jugularis infrenatus.

Bisa menjadi rujukan ilmiah

Hal ini terjadi karena masih diperlukan bukti tambahan untuk memastikan statusnya sebagai spesies penuh. Meski pengetahuan tentang burung terus berkembang, berbagai tekanan terhadap populasi burung di alam masih berlangsung.

Perubahan penggunaan lahan yang menyebabkan hilangnya atau terpecahnya habitat menjadi salah satu ancaman utama. Selain itu, perburuan untuk perdagangan burung peliharaan juga masih menjadi tekanan besar bagi banyak spesies.

Menurut Head of Conservation & Development Burung Indonesia Adi Widyanto, publikasi Status Burung di Indonesia tidak hanya menjadi rujukan ilmiah, tetapi juga dimanfaatkan secara luas dalam praktik konservasi.

“Dokumen ini digunakan oleh berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah, organisasi non-pemerintah, hingga praktisi konservasi. Data di dalamnya dipakai untuk perencanaan program konservasi, survei, hingga identifikasi satwa. Rujukan taksonomi yang digunakan juga menjadi dasar bagi berbagai kerja prioritas konservasi, termasuk penilaian Daftar Merah IUCN kelompok burung serta identifikasi Daerah Penting bagi Burung dan Keanekaragaman Hayati (IBA) dan Daerah Keanekaragaman Hayati Utama (KBA),” ujarnya.

Sebagai catatan global, penyelarasan daftar burung dunia dilakukan melalui AviList, daftar burung dunia yang dihasilkan berdasarkan konsensus dan diluncurkan pada 11 Juni 2025. Tujuan AviList adalah menyatukan perbedaan utama antar daftar taksonomi global, sehingga batas spesies menjadi lebih konsisten dan data burung di Indonesia dapat dibandingkan dengan referensi global. Penyelarasan ini membantu menempatkan dinamika taksonomi burung Indonesia dalam konteks global, meski daftar utama edisi ini tetap menggunakan HBW/BirdLife Checklist.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.