Lakon ‘Rumah Sakit Jiwa’ pertama kali dipentaskan oleh Teater Koma pada tahun 1991, dan 35 tahun kemudian sutradara Rangga Riantiarno mempertemukan isu kesehatan mental dengan kondisi negeri yang sedang carut marut menghadapi korupsi, kolusi, dan nepotisme. Pendalaman karakter yang disesuaikan dengan penonton usia muda layak diacungi jempol.
Komunitas Teater Koma adalah para penonton setia yang menonton pertunjukan mereka bertahun-tahun, lakon demi lakon, bahkan turun temurun antargenerasi. Tak heran banyak yang datang bersama keluarga sembari bernostalgia. Seorang rekan jurnalis mengaku masih ingat pertunjukan ‘Rumah Sakit Jiwa’ versi 1991 yang saat itu dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).
“Aku masih ingat dulu (menonton) ‘Rumah Sakit Jiwa’ di GKJ, datang sama bapakku. Di pintu masuk paling depan sudah tercium bau karbol dan yang menyobek tiket juga memakai seragam seperti petugas di rumah sakit, pokoknya benar-benar kita dibawa ke suasana rumah sakit jiwa, aku masih SMP,” kata Donny Anggoro.
Pada pementasan di Graha Bhakti Budaya, suasana semacam itu tak dihadirkan lagi. Tapi layar di atas panggung sempat menampilkan cuplikan pementasan ‘Rumah Sakit Jiwa’ lawas. Hanya sesaat, tapi cukup berhasil membawa memori tatkala Nano Riantiarno masih memimpin kelompok legendaris ini. Lakon ini kemudian dipentaskan ke Yogyakarta pada Februari 1992 dan pada 10-15 Maret 1992 di Teater Tertutup TIM, dalam rangka ulang tahun Teater Koma ke-15.
Isu Kesehatan Mental dan Kegelisahan Masyarakat
‘Rumah Sakit Jiwa’ berkisah tentang Rogusta, seorang dokter baru di sebuah rumah sakit jiwa yang dipimpin oleh Profesor Sidarta. Berbekal keyakinan bahwa pendekatan yang penuh empati dan persahabatan mampu membantu proses penyembuhan pasien, Rogusta berupaya membawa perubahan bagi kehidupan para pasien. Namun, upaya tersebut justru memicu benturan dengan sistem yang telah lama mengakar serta pihak-pihak yang merasa kekuasaan dan posisinya mulai terancam.
Melalui konflik tersebut, lakon ini mengajak penonton merefleksikan apakah manusia masih mampu memperlakukan sesamanya sebagai manusia di tengah dunia yang perlahan berubah menjadi sebuah “rumah sakit jiwa”, tempat relasi antarmanusia dipenuhi ketakutan, prasangka, dan perebutan kuasa.
“Semakin lama tekanan dari seluruh dunia itu semakin menghimpit kita, jadi bukan hanya di Indonesia saja. Saya dulu teringat kata-kata almarhum Papa bahwa tekanan itu menjadikan masyarakat berubah, lebih seperti di rumah sakit jiwa. ‘Saya merasa dunia sedang berubah menjadi Rumah Sakit Jiwa.’ Itu tagline dari Papa,” ungkap Rangga Riantiarno, putra sulung pasangan Ratna dan Nano Riantiarno.
Banyak idiom-idiom terkini yang digunakan dalam dialog hingga memancing tawa penonton, seperti adegan saat para pasien menyanyi dan musik tiba-tiba berhenti. Salah satu pemain menengok ke arah penonton sambil berkata,” Masih nungguin ya, udah siap belum?” Ini potongan kalimat yang diambil dari lagu ‘Rollerblade’ milik No Na yang sedang populer di kalangan muda. Idiom lain yang muncul adalah “cacah jiwa”, istilah yang merujuk pada ‘sensus’ yang kini sedang gencar dilakukan pemerintah. Masih banyak lagi. Pokoknya, bukan Teater Koma kalau tak piawai memainkan sindiran dan plesetan jargon pemerintah.
Naskah Lama dengan Interpretasi Baru
‘Rumah Sakit Jiwa’ versi 2026 hadir dengan pendekatan artistik sesuai perubahan zaman. Perbedaan konteks sosial, perkembangan teknologi, hingga meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan mental menjadi bagian dari proses kreatif yang membentuk pementasan kali ini.
Isu lain yang turut diangkat adalah korupsi dan kongkalikong yang dalam lakon ini melibatkan pemilik yayasan pengelola rumah sakit dengan direkturnya yang puluhan tahun tak berganti. Tidakkah ini terdengar familiar di negeri kita?
“Naskah tetap menjadi pedoman, tetapi konsep pementasan tahun 1991 bukanlah batas. Justru menjadi titik awal agar Rumah Sakit Jiwa 2026 dapat berkembang dengan kreativitas baru. Dunia yang berbeda menghadirkan tantangan sekaligus peluang untuk menafsirkan kembali naskah ini dengan kreativitas baru tanpa terbebani pementasan sebelumnya,” ujar Ratna Riantiarno, Produser Teater Koma, yang pada pementasan ini berkolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation.
Selain penyegaran naskah, penonton juga akan disuguhkan komposisi musik garapan Fero A. Stefanus yang dirancang mengikuti dinamika emosi setiap adegan. Busana para pemain dibuat oleh Samuel Wattimena dengan desain etnik khas Indonesia Timur. Ini cocok dengan warna properti dan setting panggung.
‘Rumah Sakit Jiwa’ menyimpan sejarah penting dalam perjalanan Teater Koma. Naskah ini lahir setelah kelompok teater tersebut mengalami sejumlah pencekalan pementasan pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an. Berangkat dari diskusi bersama para anggota Teater Koma mengenai berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat, almarhum Nano Riantiarno kemudian merangkumnya menjadi sebuah naskah yang tidak hanya berbicara tentang sebuah institusi rumah sakit jiwa, tetapi juga tentang manusia, kekuasaan, dan harapan untuk menghadirkan perubahan.
“Komposisi pemain kali ini juga menjadi pengalaman yang menarik. Dari total 115 orang yang terlibat, hanya enam orang yang pernah terlibat dalam Rumah Sakit Jiwa tahun 1991. Selebihnya adalah generasi baru Teater Koma yang memiliki kesempatan mengeksplorasi karakter-karakter dalam lakon ini dengan sudut pandang mereka sendiri. Harapannya, penonton tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga diajak pulang membawa refleksi untuk terus memperlakukan manusia lain sebagai manusia,” jelas Rangga.
Pementasan ‘Rumah Sakit Jiwa’ berlangsung pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tak tertutup kemungkinan lakon ini dibawa ke kota-kota lain seperti dulu.
“Kalau ada yang berminat kami siap!” kata Rangga.





Comments are closed.