Mon,27 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Kerumunan yang Lupa Menjadi Manusia, Sentil FSTVLST dalam Lagunya

Kerumunan yang Lupa Menjadi Manusia, Sentil FSTVLST dalam Lagunya

kerumunan-yang-lupa-menjadi-manusia,-sentil-fstvlst-dalam-lagunya
Kerumunan yang Lupa Menjadi Manusia, Sentil FSTVLST dalam Lagunya
service

Dunia maya agaknya telah menghadirkan sebuah kerumunan dikotomis baru yang sungguh menyeramkan. Seakan setiap orang hanya memiliki dua pilihan: menjadi pro atau kontra, mendukung atau menghina. Seperti istilah cebong dan kadrun atau anak abah dan kaum 58%. Pada akhirnya identitas personal menjadi bias karena tertutup oleh stigmatisasi.

Persoalan ini lah yang kemudian mengingatkan saya pada sebuah lagu berjudul “Orang-orang di Kerumunan” karya FSTVLST. Dalam horizon pendengar, lagu ini membawa pada kesadaran akan segmentasi dikotomis masyarakat yang radikal. Ia menggambarkan sebuah kerumunan yang seakan menyembah sebuah objek—yang bisa dalam bentuk apapun—secara buta, hingga menyampingkan eksistensi diri.

Orang-orang di kerumunan berjejalan di lingkaran

Mengitari satu altar sesembahan

Mereka menari dengan mata terpejam

Kerasukan

Jiwanya sudah tak lagi bersemayam

Lirik di atas telah menghujam pendengarnya secara telak. Ketika menggunakan pisau hermeneutika Gadamer, maka teks tidak berdiri sendiri. Sebuah teks, bagi Gadamer, bisa disandingkan dengan horizon pembaca untuk kemudian mendapat makna yang layak untuk dipahami (Hardiman, 2018). Untuk itu, lirik tersebut begitu terasa dekat dengan horizon pendengar hari ini.

Lalu meracau

Tak setuju maka beda kubu

Tak sepaham lantas baku hantam

Yang seiman saling menerakakan

Merekalah kerumunan yang lupa

Kerumunan yang lupa

Bahwasanya aku kau mereka sama

Bait selanjutnya, FSTVLST menerangkan dengan jelas bagaimana kondisi orang-orang di kerumunan. Secara konteks, ciri-ciri ini sering kita jumpai, baik di dunia maya maupun nyata. Dikotomi masyarakat yang sangat kompleks dan radikal membuat mereka lupa jati dirinya: sebagai manusia. 

Sikap seperti itu lah yang kemudian di kritik oleh Nietzsche—seorang filsuf Jerman abad-19—bahwa kerumunan hanya akan membawa diri manusia pada sebuah kepalsuan. Sampai membuat Nietzsche memilih menepi ke hutan daripada mendekam di keramaian, karena terlalu banyak orang yang bernafsu—hasrat akan kekuasan, pengakuan, dan status sosial. Hal ini disebabkan oleh tekanan sosial yang menghilangkan otonomi diri manusia.

Bagi Nietzsche, mentalitas kerumunan membawa manusia pada kejatuhan dirinya: menjadi inferior, mencari aman, dan menggalang dukungan. Dengan mentalitas seperti itu, ia akan menjauhkan kesempatannya menjadi ubermensch—manusia unggul menurut Nietzsche (Lika, 2021). Namun, menjadi manusia unggul juga memiliki resiko: menjadi egois. Untuk itu, FSTVLST mencoba mengingatkan kita:

Hanya manusia

Sama manusianya

Yang seharusnya saling peluk selayak saudara

Saling jaga seperti keluarga

Berbagi cinta berbagi bahagia

Menjauhi kerumunan yang lupa

Kerumunan yang lupa

Tidak berada di kerumunan, bukan berarti menjadi individualistik. Manusia, seperti yang diistilahkan oleh Aristoteles, merupakan zoon politicon (Russell, 2019). Itu berarti, manusia adalah seorang makhluk yang sewajarnya bersosial: saling berinteraksi, saling menjaga, saling menghormati, dan saling mencintai—sebagai sesama manusia.

Untuk itu, sudah sepatutnya kita menghindari kerumunan-kerumunan “lupa” yang hanya ingin benar sendiri. Menjadi manusia, berarti memanusiakan manusia lainnya. Dengan menghilangkan sisi kemanusiaan, maka konflik akan terus terjadi. Dan konflik tidak membawa kebahagiaan sejati, ia bersifat temporal dan membutuhkan korban.

Turut berbela sungkawa

Atas sekaratnya jiwa

Para berkerumun tertawa-tawa

Di se se se se sempitnya ruang bahagia

Yang seharusnya luas tak terbatas

Pada akhirnya, FSTVLST menyampaikan kepedihan, ia berbela sungkawa atas penjara sosial yang dibuat oleh para kerumunan. Penjara yang membuat jiwa orang-orang di dalamnya menjadi sekarat karena tekanan sosial, dan menertawakan diri di sempitnya ruang bahagia. Padahal, untuk menjadi bahagia kita tidak harus berada di kerumunan: cukup menjadi diri sendiri.

Dalam bait terakhir, FSTVLST kembali menitipkan pesan duka:

Dan turut berduka cita

Atas tak berartinya bunga

Berganti

Umpat benci

Caci maki

Bunuh dan lukai

Benci dan lukai

Bunga, selayaknya kemanusiaan, ia kini mulai layu dan berganti rupa menjadi beragam tindakan keji: kebencian, umpatan, cacian, dan pembunuhan. Baik ruang maya maupun nyata, telah membawa ketakutan tersendiri. Kebahagiaan yang seharusnya dapat diraih dengan semudah menghargai, kini menjadi rumit karena nafsu akan kerumunan. 

Pada akhirnya, lagu ini hadir ke dalam horizon pendengar sebagai pentungan untuk orang-orang yang berkerumun tanpa makna: kerumunan yang membawa manusia kehilangan identitasnya sebagai manusia. Dengan mendengarkan lagu ini dengan seksama, kita akan menemukan hentakan keras untuk segera sadar. FSTVLST telah menghadirkan sebuah lagu yang bukan saja tajam, tapi reflektif. Dengan menghadirkan lirik-lirik yang vulgar, ia membuat pendengarnya mau merenungi hidup yang sedang mereka jalani.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.