Fri,11 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Mengenal Sexy Lamp Theory, Ketika Karakter Perempuan Bisa Diganti Benda Mati

Mengenal Sexy Lamp Theory, Ketika Karakter Perempuan Bisa Diganti Benda Mati

mengenal-sexy-lamp-theory,-ketika-karakter-perempuan-bisa-diganti-benda-mati
Mengenal Sexy Lamp Theory, Ketika Karakter Perempuan Bisa Diganti Benda Mati
service

Bincangperempuan.com– Pernahkah kamu melihat adegan film di mana tokoh perempuan berada dalam bahaya misalnya nyaris jatuh ke jurang, lalu tiba-tiba datang pahlawan laki-laki yang menyelamatkannya?

Skenario semacam ini mungkin sudah sangat akrab bagi kita. Tokoh perempuan sering kali hanya ditempatkan sebagai pihak yang diselamatkan. Tapi, tahukah kamu bahwa narasi ini timpang?

Dalam situasi tersebut, tokoh perempuan tidak diberi ruang untuk pengembangan karakter. Kehadirannya hanya menjadi pelengkap cerita untuk menonjolkan kepahlawanan karakter laki-laki, tanpa diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Mengenal Sexy Lamp Theory

Istilah Sexy Lamp Theory awalnya dicetuskan oleh penulis komik Kelly Sue DeConnick sebagai sindiran tajam untuk industri hiburan. Jika 

karakter perempuan dalam sebuah di film bisa diganti perannta dengan sebuah lampu hias yang berlekuk, lalu diangkat ke sana kemari oleh pahlawan laki-lakinya, dan jalan ceritanya tidak berubah sama sekali—maka karakter itu adalah sexy lamp.

Dalam skenario ini, perempuan murni hanya dijadikan pajangan. Mereka tidak memiliki kehendak bebas (agency), tidak punya andil untuk memajukan alur cerita, dan eksistensinya hanya ada untuk mendukung karakter utama laki-laki.

Baca juga: Kerja Secukupnya, Waras Selamanya: Membedah Tren Lazy Girl Jobs

Mengujinya dengan Bechdel Test

Lalu, bagaimana cara menguji apakah suatu film memberikan peran yang utuh bagi karakter perempuan? Kita bisa menggunakan tolok ukur yang populer bernama Bechdel Test.

Melansir dari publikasi HuffPost, tes ini adalah cara cepat dan standar untuk melihat apakah perempuan direpresentasikan sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar properti naskah. Sebuah film atau cerita dianggap lulus Bechdel Test jika memiliki:

  1. Lebih dari satu karakter perempuan (yang memiliki nama).
  2. 2 Mereka saling berbicara satu sama lain.
  3. 3 Topik yang dibicarakan adalah hal lain di luar laki-laki.
  4. Tambahan kriteria dari kritikus: karakter perempuan tersebut tetap hidup di akhir cerita.

Jika sebuah film gagal memenuhi syarat dasar teraebut, ada kemungkinan besar tokoh perempuan di dalamnya tidak benar-benar punya peran penting. Sehingga bisa dengan mudah digantikan oleh sebuah lampu hias tadi.

Contoh Film yang Gagal Dalam Bechdel test Dalam Superman: Man of Steel (2013). Hal utama yang dilakukan Lois Lane (karakter perempuan) seolah hanya jatuh dari langit untuk ditangkap oleh Superman. Agak aneh membayangkan karakternya adalah seorang jurnalis hebat peraih penghargaan Pulitzer. Sebab, perannya di layar lebih mirip boneka yang dilempar dari pesawat ketimbang perempuan cerdas dan mandiri.

Kalau peran Lois diganti menjadi “lampu hias” yang jatuh dari awan, aksi heroik Superman tidak akan berubah sama sekali. Bedanya, lampu itu mungkin tidak akan berteriak saat jatuh. Ini adalah bukti nyata betapa karakter Lois di naskah ini terjebak menjadi sexy lamp.

Lalu dalam Breakfast at Tiffany’s (1961), film ini memang ikonis dan menjadi mahakarya era 60-an. Tetapi kalau dikritisi, film ini dibintangi oleh sebuah lampu hias juga. Karakter Holly Golightly di sini adalah contoh klasik dari perempuan yang sekadar unik dan eksentrik, di mana kehadirannya hanya berfungsi untuk menghibur dan menginspirasi karakter utama laki-lakinya.

Holly memang punya gaya yang modis, tapi secara peran ia tidak mandiri dan selalu bergantung pada laki-laki. Seandainya karakter Holly diganti dengan sebuah lampu pajangan, jalan cerita si tokoh utama laki-laki akan tetap mengalir seperti biasa tanpa hambatan

Baca juga: Stop Romantisasi Pasangan Nurut! Mengenal Plastic Bag Theory

Mengapa Representasi Karakter Perempuan Penting?

Isu tentang peran perempuan di layar kaca ini pernah dibahas tuntas dalam wawancara Grapevine bersama kreator asal Islandia, Mjallhvít Ómarsdóttir, Þórey, dan Dögg Mósesdóttir. Þórey dan Dögg dikenal sebagai pendiri rumah produksi Freyja Filmwork, yang sering mengangkat isu perempuan lewat karya seperti film pendek ‘Munda’ dan dokumenter “Höfundur óþekktur”.

Lewat web series animasi terbaru mereka yang berjudul “Sköp”, mereka tampil sebagai karakter kartun untuk membedah habis-habisan berbagai kiasan (tropes), formula klise, dan stereotip gender di film dan TV. Dari kritik yang mereka bangun, kita bisa melihat kenapa representasi karakter perempuan yang utuh itu sangat penting.

Media Membentuk Pola Pikir Realitas

Tontonan bukan sekadar hiburan. Kalau kita terus-menerus disuapi narasi bahwa peran perempuan bisa digantikan drngan lampu pajanganyang pasif, secara tidak sadar masyarakat bisa menganggap wajar perlakuan tersebut di dunia nyata. 

Perempuan Bukan Sekadar Pelengkap

Karakter perempuan berhak punya kehendak bebas (agency), konflik personal, dan ambisi—layaknya manusia nyata. Keberadaan mereka di sebuah cerita tidak seharusnya melulu soal romansa atau sekadar menjadi batu loncatan agar pahlawan laki-lakinya terlihat hebat.

Menghentikan Kembalinya Stereotip Usang

Mengkritisi formula sexy lamp theory memaksa para pembuat film untuk putar otak. Industri hiburan harus sadar bahwa penonton sekarang lebih kritis dan butuh karakter perempuan yang punya kedalaman cerita, bukan cuma numpang lewat.

Ketika karakter perempuan digambarkan berdaya, bisa mengambil keputusan, dan berani menyelesaikan masalahnya sendiri, hal ini memberi validasi bagi penonton perempuan. Mereka butuh melihat bahwa di dunia nyata, mereka adalah tokoh utama untuk hidup mereka sendiri, bukan pihak yang harus selalu diselamatkan.

Representasi yang utuh di layar kaca pada akhirnya akan melahirkan keberanian di dunia nyata. Penonton membutuhkan cerminan bahwa suara, emosi, dan pilihan perempuan itu penting serta berdampak. Ketika industri media mulai membuang kiasan sexy lamp, mereka sebenarnya sedang membangun ruang bercerita yang lebih inklusif dan memanusiakan perempuan.

Referensi:

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.