Mon,17 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Khutbah Jumat: Tanda-tanda Haji Mabrur dalam Kehidupan Sosial dan Keagamaan

Khutbah Jumat: Tanda-tanda Haji Mabrur dalam Kehidupan Sosial dan Keagamaan

khutbah-jumat:-tanda-tanda-haji-mabrur-dalam-kehidupan-sosial-dan-keagamaan
Khutbah Jumat: Tanda-tanda Haji Mabrur dalam Kehidupan Sosial dan Keagamaan
service

Salah satu harapan besar setiap muslim yang menunaikan ibadah haji adalah meraih predikat haji mabrur. Karena dengan predikat tersebut, ia akan mendapatkan jaminan surga dari Allah swt. Haji mabrur dapat tercermin dalam kehidupan setiap orang setelah pulang dari menunaikan ibadah haji, yaitu hidupnya berubah menjadi lebih baik, baik dalam kehidupan sosial maupun keagamaan.

Naskah khutbah Jumat berikut ini berjudul “Tanda-tanda Haji Mabrur dalam Kehidupan Sosial dan Keagamaan”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَظْهَرَ لَنَا ثَمَرَ الرَّوْضِ مِنْ كِمَامِهِ، وَأَسْبَغَ عَلَيْنَا بِفَضْلِهِ مَلَابِسَ إِنْعَامِهِ، وَبَصَّرَنَا مِنْ شَرْعِهِ بِحَلَالِهِ وَحَرَامِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ذُوْ الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُؤَيَّدُ بِمُعْجِزَاتِهِ الْعِظَامِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْغُرِّ الْكِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Puji syukur al-hamdulillahi rabbil ‘alamin, atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah berikan kepada kita semua, khususnya nikmat iman dan kesehatan sehingga kita semua bisa menunaikan ibadah shalat Jumat ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita semua, Nabi Agung Muhammad saw, beserta para sahabat, keluarga, dan para pengikutnya.

Selanjutnya, sebagaimana Rasulullah senantiasa mengawali khutbahnya dengan wasiat takwa, izinkan kami selaku khatib pada kesempatan ini untuk mengajak diri sendiri dan jamaah sekalian untuk senantiasa berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. Mari gunakan sisa umur kita ini untuk terus berusaha memperbanyak bekal pahala menuju akhirat, dengan senantiasa mengerjakan kebajikan dan menjauhi keburukan.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Saat ini, kita semua dan seluruh umat Islam di seluruh dunia baru saja menyaksikan berakhirnya rangkaian ibadah haji tahun ini. Jutaan jamaah haji telah menyelesaikan wukuf di Arafah, menginap di Muzdalifah dan Mina, melempar jumrah, melakukan tawaf, sai, serta berbagai manasik lainnya. Bahkan, sebagian dari mereka juga telah kembali ke kampung halaman masing-masing.

Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang diwajibkan sekali dalam seumur hidup bagi semua kaum muslim yang mampu, baik secara fisik, finansial, maupun keamanan dalam perjalanan pulang dan pergi. Berkaitan dengan hal ini, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:

وَلِلَّه عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Artinya, “(Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam.” (QS. Ali ‘Imran: 97).

Puncak ibadah haji pada hakikatnya bukanlah ketika seseorang membaca talbiah atau melaksanakan ihram dan wukuf di Arafah, tidak juga ketika ia pulang ke kampung halamannya dengan selamat, melainkan ketika ia meraih predikat haji yang mabrur. Orang yang mendapatkan predikat ini akan mendapatkan balasan spesial dari Allah berupa surga, sebagaimana yang ditegaskan oleh Baginda Nabi dalam salah satu riwayat, yaitu:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Artinya, “Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari & Muslim).

Namun, ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah, bagaimana cara kita mengetahui bahwa haji yang kita laksanakan termasuk dalam kategori haji yang mabrur? Caranya adalah dengan melihat kebiasaan-kebiasaan kita sehari-hari. Sebab, haji yang mabrur memiliki tanda-tanda khusus baik secara sosial maupun keagamaan.

Pertama, tanda-tanda secara sosial. Adapun tanda-tanda haji mabrur dalam kehidupan sosial adalah semakin tumbuhnya kepedulian terhadap sesama, mulai dari semakin ringan tangan dalam membantu orang lain, serta semakin baik pula tutur kata dan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah ketika ditanya tentang tanda-tanda haji mabrur, Nabi menjawab bahwa di antaranya adalah memberi makan kepada orang lain dan bertutur kata yang baik. Dalam riwayat yang berasal dari sahabat Jabir bin Abdullah, Nabi bersabda:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ. قَالَ: وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلاَمِ

Artinya, “Dari Jabir bin Abdullah, dari Nabi saw, Nabi bersabda: ‘Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga’. Lalu sahabat bertanya, ‘Apa tandanya kemabrurannya?’ Nabi menjawab: ‘Memberi makan (orang lain) dan bertutur kata yang baik’.” (HR. At-Thabrani dalam Mu’jamul Awsath).

Kedua, tanda-tanda secara keagamaan. Sedangkan tanda haji mabrur secara keagamaan sebagaimana disampaikan oleh Imam al-Ghazali adalah ia akan kembali dalam keadaan semakin tidak terikat dan tidak tamak pada dunia dan segala isinya, sebaliknya ia akan semakin condong pada akhirat, serta senantiasa bersiap diri dengan amal saleh untuk bertemu dengan Allah, setelah ia selesai menunaikan ibadah haji di Baitullah.

Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin, jilid I, halaman 261, mengatakan:

عَلَامَتُهُ أَنْ يَعُودَ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا، رَاغِبًا فِي الْآخِرَةِ، مُتَأَهِّبًا لِلِقَاءِ رَبِّ الْبَيْتِ بَعْدَ لِقَاءِ الْبَيْتِ

Artinya, “Tandanya adalah ia pulang (dari haji) dalam keadaan zuhud terhadap dunia, sangat menginginkan kebaikan akhirat, serta bersiap diri untuk bertemu dengan Tuhan Pemilik Baitullah, setelah ia berjumpa dengan Baitullah.”

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Dengan demikian, pelajaran penting yang dapat kita ambil dari khutbah ini adalah bahwa haji mabrur tidak cukup hanya dinilai dari sah atau tidaknya segala rangkaian manasik yang dilaksanakan di Tanah Suci, tetapi yang tak kalah penting adalah perubahan nyata yang tampak dalam keseharian setiap Muslim setelah kembali ke kampung halaman.

Secara sosial, haji mabrur dapat dilihat dari kedermawanan dalam memberi makan kepada sesama serta lembutnya tutur kata yang keluar dari mulutnya. Sedangkan secara keagamaan, ia ditandai dengan sikap zuhud terhadap dunia, cinta pada akhirat, serta kesiapan diri melalui amal kebajikan untuk berjumpa dengan Allah, Pemilik Baitullah.

Namun perlu kita pahami kembali, bahwa meskipun haji mabrur memiliki tanda-tanda baik dalam kehidupan sosial maupun keagamaan, hal itu tidak berarti kita boleh menilai dan memvonis kemabruran haji seseorang. Sebab, diterima atau tidaknya suatu ibadah pada hakikatnya merupakan rahasia dan hak prerogatif Allah. 

Adapun tanda-tanda yang telah disebutkan hendaknya dipahami sebagai panduan muhasabah bagi setiap jamaah haji untuk terus memperbaiki diri setelah kembali dari Tanah Suci. Adapun bagi orang lain, tanda-tanda tersebut tidak boleh dijadikan alat untuk mengukur kesalehan orang lain.

Demikian khutbah Jumat tentang tanda-tanda haji mabrur dalam kehidupan sosial dan keagamaan. Semoga menjadi khutbah yang membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.