Mubadalah.id – Sulit rasanya mendengarkan lagu Addicted milik “Vin Jay” tanpa merasa gundah. Bukan karena ia bercerita tentang Xanax atau gejala sakau. Lagu dengan style Rap semacam itu sudah terlalu sering kita dengar. Yang membuat lagu ini mengganggu justru karena di balik semua cerita tentang obat-obatan, ada seseorang yang seringkali mencoba mengatakan bahwa dia sedang hancur, namun dunia lebih tertarik untuk melihat pil di tangannya daripada luka di kepalanya.
“Memangnya separah itu?” Kalimat ini terdengar biasa saja, yang padahal di dalamnya tersembunyi syarat yang kejam, seseorang baru boleh mereka percaya sedang menderita jika penderitaannya berhasil ia tonton atau terlihat di depan mata. Kalau masih bisa tertawa, berarti belum depresi. Jika masih bisa bekerja, berarti belum cemas. Dan apabila belum mencoba bunuh diri, berarti masih baik-baik saja.
Lagu Addicted memotret logika yang mirip. kita lebih sibuk menghitung pil yang mereka minum daripada bertanya sejak kapan ia merasa hidupnya tidak lagi layak mereka jalani. Narator dalam lagu ini tidak pernah untuk mengatakan bahwa narkoba adalah jawabannya. Namun sebaliknya, ia mengakui bahwa semua itu berawal jauh sebelum pil pertama mereka telan.
Ada masa kecil yang kehilangan kehangatan rumah tangga, ada hubungan yang mulai runtuh, ada depresi yang terus mereka pendam, lalu ada keputusan-keputusan yang perlahan menyeretnya ke lingkaran kecanduan.
Namun sayangnya, masyarakat hampir selalu datang terlambat. Kita baru peduli ketika seseorang jatuh. Jarang ada yang bertanya bagaimana ia sampai berada di bibir jurang.
Luka yang Tidak Tampak Selalu Dipaksa Membuktikan Diri
Menjadi ironi ketika mereka para penyandang disabilitas Psikososial yang sedang berjuang bukan hanya untuk menghadapi kondisinya sendiri, namun juga harus meyakinkan orang lain bahwa penderitaan itu memang benar-benar ada. Jika seseorang menggunakan kursi roda, hampir semua orang akan memahami bahwa ia membutuhkan akses. Namun, ketika seseorang hidup dengan depresi, gangguan kecemasan, PTSD, atau kondisi psikososial lainnya, akses pertama yang justru hilang adalah bentuk kepercayaan.
Mereka harus lebih banyak bersyukur, lebih banyak berdo’a, lebih banyak mendengar nasihat agar tidak terlalu memikirkan masalahnya. Seolah-olah seluruh persoalan bisa selesai hanya dengan mengubah cara berpikir saja. yang padahal kesehatan mental tidak sesederhana itu.
Di titik inilah Addicted menjadi menarik. Lagu ini tidak sedang meminta belas kasihan. Ia hanya memperlihatkan bagaimana luka yang tidak pernah selesai akhirnya mencari jalannya sendiri. Sayangnya, jalan itu justru mengarah pada ketergantungan. Banyak orang akan membaca lagu ini sebagai kisah tentang pecandu narkoba. Saya justru melihatnya sebagai kisah tentang seseorang yang terlalu lama memikul luka sendirian.
Ada perbedaan besar di antara keduanya, ketika kita hanya melihat “Pecandu”, fokus kita berhenti pada perilakunya saja. Namun ketika kita melihat manusia yang terluka, pertanyaan kita berubah : Pengalaman apa yang membuat rasa sakit itu terasa lebih mudah mereka pikul bersama obat daripada bersama sesama manusia?
Ketika Kesalingan Berarti Percaya Sebelum Menghakimi
Perspektif Mubadalah sering kita pahami hanya sebatas relasi laki-laki dan perempuan. Padahal inti terbesarnya adalah menghadirkan relasi yang saling memuliakan antar sesama manusia.
Dalam konteks ini, kesalingan terbentuk dari kesediaan untuk mempercayai pengalaman orang lain, bahkan ketika kita tidak bisa melihat lukanya. Masyarakat kita masih terlalu mudah mengukur penderitaan dengan mata. Akibatnya, mereka yang memiliki disabilitas tak tampak harus terus membuktikan diri mereka sakit agar layak memperoleh bantuan. Namun ironisnya, proses membuktikan itu sering kali sama melelahkannya dengan kondisi yang sedang mereka hadapi.
Bukankah aneh? Ketika kita percaya seseorang sedang flu tanpa meminta hasil laboratorium. Teta[i kita sering meragukan orang yang berkata diri mereka mengalami Pannic attack. Kita percaya kaki yang patah membutuhkan waktu untuk pulih. Namun kita berharap depresi selesai hanya dalam hitungan hari saja. Padahal keduanya sama-sama membutuhkan proses, dukungan, dan lingkungan yang aman.
Dalam semangat Mubadalah, mendengarkan menjadi bentuk kasih sayang. Percaya pada pengalaman hidup orang lain juga merupakan bentuk keadilan. Sebab tidak semua luka dapat kita foto, tidak semua rasa sakit memiliki bekas yang bisa kita sentuh.
Mungkin yang Perlu Direhabilitasi Bukan Hanya Individunya
Di bagian akhir lagi, Vin Jay mengakui bahwa keputusan memakai obat adalah kesalahannya sendiri. Pengakuan itu penting karena dapat menunjukkan bahwa tanggung jawab pribadi tetap ada.
Namun berhenti pada kesimpulan itu saja terasa terlalu mudah. Sebab kalau lingkungan yang penuh stigma tetap kita pertahankan, kita hanya akan terus melahirkan orang-orang yang merasa lebih aman bercerita kepada zat adiktif daripada kepada manusia.
Barangkali yang perlu kita rehabilitasi bukan hanya individu yang sedang kecanduan, namun cara pandang masyarakat terhadap kesehatan mental juga perlu kita pulihkan. Cara kita memperlakukan penyandang disabilitas psikososial juga perlu kita perbaiki, cara kita mendengarkan orang yang sedang rapuh juga perlu kita pelajari kembali.
Lagu Addicted akhirnya tidak hanya berbicara tentang narkoba. Ia sedang mengingatkan bahwa manusia bisa kehilangan diri sendiri jauh sebelum kehilangan kendali atas tubuhnya. Ketika rasa sakit terus kita pertanyakan, ketika trauma kita anggap alasan untuk mencari perhatian, dan ketika gangguan mental hanya dijawab dengan stigma, yang lahir bukan masyarakat yang sehat, melainkan masyarakat yang membuat orang-orang paling rapuh merasa tidak punya tempat untuk pulang.
Mungkin itu sebabnya, bagi sebagian orang, yang paling membuat candu bukan zatnya. Melainkan harapan sederhana bahwa ada sesuatu—atau seseorang—yang akhirnya mau menerima rasa sakit mereka tanpa lebih dulu meminta bukti. []





Comments are closed.