Fri,1 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Legenda Tumenggung Mertalaya, Cerita Rakyat dari Yogyakarta

Legenda Tumenggung Mertalaya, Cerita Rakyat dari Yogyakarta

legenda-tumenggung-mertalaya,-cerita-rakyat-dari-yogyakarta
Legenda Tumenggung Mertalaya, Cerita Rakyat dari Yogyakarta
service

11 Maret 2026 16.00 WIB • 2 menit

Legenda Tumenggung Mertalaya, Cerita Rakyat dari Yogyakarta


Legenda Tumenggung Mertalaya merupakan salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Yogyakarta. Legenda ini berkisah tentang orang kepercayaan Sultan Agung yang berhasil memimpin pasukan dalam penaklukkan Kadipaten Wirasaba.

Bagaimana kisah lengkap dari legenda Tumenggung Mertalaya tersebut? Berikut kisah dari cerita rakyat Yogyakarta tersebut.

Legenda Tumenggung Mertalaya, Cerita Rakyat dari Yogyakarta

Dinukil dari buku Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, suatu hari Sultan Agung tengah dilanda rasa sedih yang mendalam. Orang kepercayaannya, Tumenggung Suratani baru saja gugur di medan perang.

Kondisi ini terus dialami Sultan Agung berbulan-bulan lamanya. Hingga akhirnya diangkatlah Tumenggung Mertalaya untuk menggantikan Tumenggung Suratani.

Tumenggung Mertalaya kemudian menghibur Sultan Agung agar bisa terlepas dari rasa sedih. Apalagi Kerajaan Mataram masih butuh kegembiraan dari rajanya.

Sultan Agung akhirnya mendengarkan saran dari Tumenggung Mertalaya. Apalagi masih ada banyak masalah yang menanti di depan mata.

Salah satu ancaman ini berasal dari Kadipaten Wirasaba yang dipimpin Pangeran Arya. Untuk itu, Tumenggung Mertalaya berdiskusi dengan Sultan Agung untuk menaklukkan daerah tersebut.

Beberapa minggu kemudian, keputusan pun diambil. Sultan Agung menyatakan dirinya menjadi senapati perang secara langsung dalam penyerangan itu.

Ribuan pasukan Mataram kemudian bergerak menuju Kadipaten Wirasaba. Genderang ditabuh untuk membakar semangat para prajurit yang hendak turun di medan perang.

Setelah berjalan beberapa waktu, sampailah pasukan Mataram di daerah Kadipaten Wirasaba. Mereka kemudian membangun perkemahan di tapal batas wilayah tersebut.

Namun cuaca yang terjadi pada waktu itu tidaklah bersahabat. Banyak prajurit yang gugur akibat cuaca buruk yang melanda daerah tersebut.

Kondisi ini membuat Sultan Agung bimbang. Dia kemudian berdiskusi dengan Tumenggung Mertalaya dan Pangeran Purbaya terkait situasi ini.

Sultan Agung merasa jika mereka mesti menarik pasukan kembali mundur ke Mataram. Namun ide ini ditolak oleh kedua orang kepercayaan Sultan Agung.

Tumenggung Mertalaya dan Pangeran Purbaya merasa jika pasukan ditarik mundur, maka wibawa Sultan Agung akan sirna saat itu juga. Selain itu, hal ini tentu makin membuat Pangeran Arya dan Kadipaten Wirasaba makin percaya diri dengan kondisi mereka.

Diskusi ini akhirnya berakhir menggantung begitu saja. Sultan Agung tidak mengeluarkan titah terkait keputusan yang akan dia ambil pada waktu itu.

Di sisi lain, Tumenggung Mertalaya dan Pangeran Purbaya merasa mereka tidak boleh mundur saat itu juga. Akhirnya kedua tokoh ini sepakat untuk melancarkan serangan ke Kadipaten Wirasaba.

Malam itu juga, Tumenggung Mertalaya mengirimkan mata-mata ke Kadipaten Wirasaba. Dari mata-mata inilah akhirnya Tumenggung Mertalaya mengetahui bagaimana kondisi di dalam benteng Kadipaten Wirasaba.

Keesokan paginya, genderang perang langsung ditabuh begitu saja. Ribuan pasukan Mataram langsung menyerbu Kadipaten Wirasaba dengan semangatnya.

Tumenggung Mertalaya memimpin langsung memimpin serangan tersebut. Tumenggung Mertalaya langsung melancarkan serangan tanpa menunggu izin dari Sultan Agung.

Pada awalnya, serangan dari pasukan Mataram berhasil diredam oleh Kadipaten Wirasaba. Namun serangan kedua yang dilancarkan ternyata berhasil membuahkan hasil.

Pasukan Mataram berhasil menjebol pertahanan Kadipaten Wirasaba. Tidak hanya itu, Pangeran Arya juga berhasil dilumpuhkan dalam serangan tersebut.

Kabar kemenangan Mataram langsung tersiar secara luas. Kabar ini juga disambut dengan gembira oleh Sultan Agung.

Atas jasanya ini, Tumenggung Mertalaya kemudian diberi penghargaan serta kedudukan yang tinggi oleh Sultan Agung. Nama dan kebesaran Tumenggung Mertalaya atas kontribusinya di masa lalu terus melegenda di tengah masyarakat hingga saat ini.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.