Sun,19 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Mitos tentang pencarian kerja di era modern–dan strategi yang sebenarnya efektif

Mitos tentang pencarian kerja di era modern–dan strategi yang sebenarnya efektif

mitos-tentang-pencarian-kerja-di-era-modern–dan-strategi-yang-sebenarnya-efektif
Mitos tentang pencarian kerja di era modern–dan strategi yang sebenarnya efektif
service

Mencari kerja kini lebih mudah, tetapi juga menjadi jauh lebih membingungkan. Lewat platform seperti LinkedIn, Indeed atau halaman karier perusahaan, pelamar hanya perlu beberapa klik untuk mengirim lamaran.

Namun, apa yang sebenarnya terjadi setelah tombol “submit” ditekan justru memicu banyak penyebaran informasi yang menyesatkan.

Media sosial dipenuhi oleh “influencer karier,” jasa penulis CV, perekrut dan perusahaan yang menjanjikan rahasia di balik proses rekrutmen. Banyak nasihat seperti ini berfokus pada klaim keliru tentang applicant-tracking systems (ATS) dan kecerdasan buatan (AI).

Layanan-layanan tersebut memperoleh keuntungan ketidakpastian para pencari kerja dan meyakinkan orang bahwa dibutuhkan jasa, alat, dan produk khusus agar bisa “lolos” ATS dan menjamin panggilan wawancara.

Akibatnya, banyak pencari kerja yang menghabiskan waktu dan uang untuk mengikuti saran yang tidak mempunyai bukti pendukung. Berikut empat mitos yang paling sering beredar tentang proses melamar kerja, dan apa yang sebenarnya yang ditemukan oleh berbagai hasil penelitian.


Read more: Susahnya cari kerja: tingginya pengangguran adalah masalah struktural?


Mitos 1: 75% CV langsung ditolak ATS

Salah satu klaim yang paling sering beredar di internet adalah bahwa 75% CV otomatis ditolak oleh ATS bahkan sebelum dilihat oleh perekrut.

Angka tersebut berasal dari materi promosi sebuah perusahaan optimasi CV bernama Preptel pada tahun 2012, yang tutup setahun kemudian. Tidak pernah ada penjelasan tentang metode perhitungannya, tetapi angka tersebut telah tersebar luas.

Faktanya, ATS hanya perangkat lunak yang digunakan perusahaan untuk mengelola lamaran kerja. Kemampuannya sangat bervariasi. Sebagian ATS hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan dan mengelompokkan CV secara digital.

ATS lainnya menyaring persyaratan dasar secara otomatis, seperti pertanyaan kelayakan wajib. Dalam versi yang paling canggih, sistem menggunakan AI untuk memberi peringkat kandidat, merekomendasikan pelamar, dan menganalisis wawancara video yang dilakukan secara asinkron.

Seseorang menyerahkan surat lamaran

Influencer karier and jasa penulis CV meraup keuntungan dari klaim-klaim berlebihan tentang cara kerja ATS. (Unsplash+)

Alat bantu AI secanggih ini umumnya hanya digunakan oleh organisasi-organisasi besar, termasuk banyak perusahaan dalam daftar Fortune 500, yang menerima jumlah lamaran yang banyak.

Di Kanada, sebagian besar perusahaan tidak menggunakan AI dalam proses perekrutan, dan usaha kecil—yang menyerap lebih dari 60% angkatan kerja—kecil kemungkinannya mengandalkan ATS.

Usaha kecil umumnya tidak menerima jumlah lamaran kerja yang cukup untuk membenarkan penggunaan ATS, termasuk sumber daya untuk membeli dan mengelola sistem tersebut.

Bagi sebagian besar pencari kerja, strategi yang lebih tepat untuk digunakan seharusnya berfokus untuk menyampaikan secara bagaimana keterampilan dan pengalaman mereka sesuai dengan posisi yang dilamar, serta membangun relasi dalam lingkup profesi mereka.

Mitos 2: AI bisa menulis CV yang pasti lolos

Pesan yang sering disampaikan para influencer karier adalah AI dapat membuat CV atau surat lamaran terpersonalisasi yang meningkatkan peluang diterima kerja secara drastis. AI bisa membantu kandidat mempersiapkan dokumen lamaran dengan lebih efektif, tetapi AI bukan jalan pintas untuk menghasilkan lamaran yang lebih berkualitas.

Dengan semakin banyaknya pelamar yang menggunakan alat dan prompt yang sama, lamaran turut semakin mirip satu dengan lainnya. Perekrut pun mulai menyadari hal tersebut.

Alih-alih memberikan nilai tambah, lamaran dihasilkan AI justru bisa memberikan efek kebalikannya. Sebanyak 74% manajer perekrutan mengaku dapat mengenali lamaran yang dibuat menggunakan AI, dan 80% di antaranya menilai lamaran tersebut secara negatif.

Pendekatan terbaik adalah menggunakan AI untuk memperkaya kata-kata pelamar itu sendiri. Artinya, AI digunakan untuk menyempurnakan dan mempertajam draf, bukan menggantikan isinya.

Penelitian mengenai proses rekrutmen di Kanada menunjukkan bahwa pelamar cenderung mendapatkan lebih banyak panggilan wawancara ketika lamarannya berisi informasi yang lebih jelas, rinci, dan terstruktur. Di tengah banyaknya lamaran yang terlihat dan terdengar serupa, perekrut cenderung merespons lamaran yang lebih menonjol dengan cara penyampaian kualifikasi dengan cara yang autentik.

Mitos 3: Menggunakan template CV yang ‘ATS-friendly’

Penulis CV dan career influencer menyatakan bahwa penggunaan template yang “ramah ATS” itu wajib. Bahkan, ada yang menjual template dengan klaim dapat ““mengoptimalkan” CV untuk menjamin panggilan wawancara.

Realitanya, tidak ada format CV yang “ramah ATS” karena sistem yang digunakan setiap perusahaan berbeda-beda. Selain itu, ATS modern umumnya sudah mampu membaca format CV umum, termasuk yang mengandung kolom atau tabel.

Keterbatasan utama ATS terletak pada kemampuannya yang hanya dirancang untuk memproses teks, bukan gambar, grafik, atau ikon. Artinya, tujuan sebenarnya adalah membuat lamaran yang rapi dan mudah dibaca, bukan template yang dibeli secara daring.

Jika ATS tidak menolak lamaran secara otomatis seperti yang diklaim oleh para influencer, mengoptimalkan CV untuk lolos sistem ATS adalah penyelesaian masalah yang salah. Pembaca CV yang sebenarnya adalah seorang manusia, bukan sebuah algoritma.

Pendekatan yang lebih tepat adalah membuat CV yang mudah dipahami baik oleh sistem maupun oleh manusia. Gunakan judul yang jelas, kata kunci yang relevan, dan contoh konkret yang menunjukkan pengalaman yang sesuai dengan posisi yang dilamar.

Mitos 4: Semakin banyak melamar, semakin banyak dipanggil wawancara

Mitos lainnya adalah, dengan prompt yang tepat, proses pencarian kerja bisa sepenuhnya terotomatisasi sehingga memungkinkan pelamar untuk mengirim ratusan lamaran tanpa banyak usaha. Logikanya, semakin banyak lamaran dikirim, panggilan untuk wawancara juga semakin banyak.

Layar laptop menampilkan sebuah dokumen resume, sementara seorang pria di depannya sedang memeriksa beberapa dokumen di atas meja

AI paling efektif ketika digunakan untuk mengembangkan lamaran kerja kandidat, bukan menggantikan isinya. (Unsplash+)

Dalam praktiknya, pendekatan ini sering kali mengorbankan pencarian kerja yang lebih bijaksana, seperti mengidentifikasi posisi dan perusahaan yang benar-benar sesuai dengan keterampilan dan minat, serta menyusun lamaran relevan.

AI paling efektif ketika digunakan untuk memoles, bukan menggantikan, lamaran yang dibuat oleh kandidat sehingga membantu menghindari apa yang kini dikenal sebagai workslop: sebuah istilah untuk konten generik yang dihasilkan oleh AI.

Para kandidat akan mendapatkan manfaat terbaik ketika menggunakan AI untuk brainstorming dan proses penyempurnaan sembari memastikan bahwa versi akhirnya mencerminkan pengalaman, prestasi, dan gaya penulisan pribadi secara akurat dan autentik.


Read more: Di balik kalimat “lebih baik capek kerja daripada capek cari kerja” yang berujung eksploitasi


Prinsip-prinsip dasarnya belum berubah

Pasar kerja saat ini mungkin terlihat berbeda, tetapi prinsip dasar untuk sukses mencari pekerjaan sebenarnya tidak banyak berubah.

Karena itu, hal terbaik yang bisa dilakukan pencari kerja mungkin justru mengabaikan sebagian besar hal yang ditawarkan kepada mereka.

Lamaran yang paling kuat adalah lamaran yang mampu menunjukkan hubungan jelas antara pengalaman kandidat dengan posisi yang dilamar, memberi bukti konkret mengenai kemampuan yang dimiliki, dan menyampaikannya dengan gaya penulisan yang autentik.

Teknologi mungkin dapat membantu perusahaan mengelola lamaran kerja, tetapi manusia lah yang akhirnya memutuskan. Hal itu membuat jaringan profesional, rekomendasi yang dapat dipercaya, keterampilan komunikasi dan kepemimpinan yang kuat semakin berharga.

Daripada kamu menghabiskan waktu mengoptimalkan template, lebih baik waktu itu kamu gunakan untuk mengobrol dengan seseorang di bidang yang relevan. Penelitian menunjukkan bahwa cara itu akan memberikan hasil yang lebih baik.

Ignatia Sarasvati Wahyuputro menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.