Pernah pada salah satu workshop di Wisma Sargede (2006) yang mempertemukan simpul-simpul jaringan Syarikat dari beberapa kota di Jawa, diperbincangkanlah berbagai langkah atau hal yang sudah dilakukan seperti ‘audiensi’ ke lembaga-lembaga terkait level nasional, dan juga silaturahmi dengan para ‘tetua’ NU struktural dalam hal ini PBNU.
Secara gagasan, perbincangan atau semacam review ini bukan hal baru. Karena teman-teman simpul ini memang sudah lebih setengah dekade melakukan “sambangan duduk dan forum bersama” dengan para eks tapol-65 maupun tetua NU di level daerah kota dan kabupaten.
Tetapi suasana forum di workshop tersebut tampaknya masih menyisakan banyak hal terutama tanggapan situasi mutakhir secara umum dan kondisi mentalitas subyektif jejaring. Dan pembicaraan pun diperpanjang. Muncul pembacaan situasi kondisi eksternal yang dirasakan berkembang sangat reaktif.
Ada temen simpul yang bilang kondisi eksternal saat itu memang tampak semakin tidak ramah. Ini ditandai dengan semakin maraknya kemunculan ribuan spanduk (biasanya rutinitas di akhir bulan September) di tempat-tempat strategis di seluruh pelosok Jawa.
Tebaran dan pemasangan spanduk-spanduk itu bertuliskan peringatan akan bahaya PKI komunis anti-Tuhan. Itu terjadi tak lama sejak beberapa kota menggelar temu silaturahmi dan ‘wawancara’ dengan para ‘Korban Eks Tapol 65’. Berkembang juga pembicaraan di forum itu, bagaimana refleksi terkait situasi internal untuk dapat menemukan kesepahaman pandangan dan sikap yang lebih kokoh.
Bahkan kalau perlu menemukan cara yang lebih intens dan meluas pada segmen-segmen di dalam jaringan nahdliyin muda sendiri. Karena kondisi semakin ke sini tampaknya cenderung merenggang dan menjauh. Sudah kurang lebih lima tahun program Syarikat berjalan, namun situasi internal terutama dari beberapa intelektual muda yang selama ini satu perspektif tampaknya sekarang juga menunjukan sikap yang berbeda dengan menyayangkan permintaan maaf Gus Dur yang kata mereka sudah terlanjur itu; dan menuntut mestinya ditafsirkan secara lebih seksama, untuk tidak mengatakan bahwa mereka sebenarnya mau mengatakan tindakan maaf Gus Dur tidak diperlukan.
Tambahan lagi ada juga yang terasa lebih menekan, yakni munculnya anggapan dari beberapa pengurus puncak dalam hal ini PBNU dan Ormas Islam lainnya tentang kerja rekonsiliasi akar rumput anak muda NU dalam jejaring Syarikat ini sebagai pembela PKI yang atheis.
Namun persis di tengah perbicangan tentang label hantu PKI-Anti Tuhan yang terasa mulai menguat itu, tiba-tiba Mas Imam berseloroh dengan gaya khasnya : “Jan jan-e kita mestinya ndak perlu terlalu cemas lah, karena ada yang selalu bareng ngancani awake dewe, temen temen. “ Yang anti tuhan itu ya tuhan sendiri, he he…”.
Sontak forum pun sedikit tercenung sesaat, namun kemudian segera pecah tawa semua yang hadir di situ, berbarengan dengan ketawa Mas Imam yang khas. Itulah Mas Imam selorohnya bukan hanya memecah kebuntuan tapi sekaligus menggerakkan. Bagaimana pun ungkapan “Yang anti Tuhan itu ya Tuhan sendiri” menunjukkan wawasan dan pemikiran Mas Imam yang geniun plus cerdik.
Yang menariknya disampaikan dengan ketawa. Bagi saya dan teman-teman di forum saat itu lalu segera mafhum. Ya, mafhum mukhalafahnya langsung terbesit dengan mukhalafatul lil hawadisti: Allah adanya dengan sendiri yang berbeda, karena ia tiada di ada-adakan sebagai oleh yang baru seperti mahluknya; qiyamuhu binafsihi: berdiri dan ada dengan sendirinya. Suatu yang kami kenal sejak lama di waktu kecil pada kebiasaan (trasdisi) pujian-pujian (kalam sifat wajib Allah) saat menunggu kedatangan imam sholat berjamaah di surau (langgar).
Ya, yang paling anti tuhan itu ya tuhan sendiri, karena itu, tak baik mengutuk dan ‘biasa sajalah’ terhadap fenomena cara berpiikir manusia yang anti tuhan. Kita yakin seyakinnya terhadap tuhan Allah bahwa ia tuhan tidak akan co’el karenanya. Dan perjalanan pemahaman tentang ketuhanan bagi manusia seringkali bisa saja seolah tidak menuhankan pada Ilahi, tapi pada akhirnya jatuh juga tetap sangat mudah menuhankan tuhan-tuhan kecil lainnya.
Ketika Mas Imam seloroh soal hantu anti tuhan ini, yang sejatinya menunjukkan kritik terhadap narasi anti tuhan dalam politik, saya juga jadi ingat ketika suatu saat main bertamu di kontrakannya. Saat itu Mas Imam lagi ngecek hasil translite seseorang, dan ada di depannya satu buku saku tipis. Di cover buku itu tertulis, ‘what desires are politically important?’ oleh Bertrand Russell. “Bur ini pidato Nobel Betrand Russel yang menarik,” terusin translitenya ya, begitu ia berucap pendek. Saya pun menjawabnya dengan “nggih” dan mencoba membacanya sekilas. Dan ternyata ada yang relevan dengan topik narasi anti tuhan dalam politik di atas.
Buku Betrand Russel membahas ‘hasrat berkuasa (love of power) sebagai penggerak politik terbesar.’ Ketika masuk ke topik Perang Dingin, ia membongkar ironi psikologis kaum anti-komunis Barat dan bagaimana narasi anti-Tuhan dijadikan kedok politik dan juga tak lebih sebagai propaganda. Dan ironi itu berupa “kita membenci komunis karena mereka tidak beragama (anti-Tuhan). Tetapi orang-orang Tiongkok telah tidak beragama sejak abad kesebelas, dan kita baru mulai membenci mereka ketika mereka mendepak Chiang Kai-shek.”
Di sini bagi Russell, kebencian berbasis agama ini hanyalah manifestasi dari odium theologicum (kebencian teologis) yang berakar dari psikologi kelompok (herd feeling). Seseorang menganggap orang yang berbeda teologi sebagai ancaman murni karena mereka “asing”, dan apa pun yang asing dianggap berbahaya. Ideologi atau agama sengaja dipakai oleh penguasa untuk menciptakan kepatuhan kelompok demi memenangkan persaingan kekuasaan.
Begitulah Mas Imam, beberapa ungkapannya sekilas seperti seloroh, tapi itu adalah dari buah refleksi dan ketekunan dari bacaannya yang beragam. Dan ia juga piawai mengapresiasi dan memposisikan genuitas pemikiran dari tokoh-tokoh pesantren seperti Mbah Sahal Mahfud, K.H. Ahmad Sidiq dan Gus Dur di mana ketiganya adalah pemikir dari kalangan tradisional yang demikian ia kagumi juga.
Karena itu dapat dikatakan, pemikiran dan pemahaman Mas Imam terkait pribumisasi Islam, misalnya memanglah sama dan sebangun dengan pemikiran Gus Dur. Karena itu sempat pula pada suatu momen ia menyampaikan dengan gayanya yang jenaka tapi tetap tajam. Mestinya kalau kita mengusahakan terus dengan sungguh-sungguh upaya demokratisasi, “di negara demokrasi, tidak ada orang kafir,” ungkapnya. Karena demikian lah konsep negara demokrasi dan orang kafir dalam perspektif Mas Imam.
Siapa pun orang pada perjumpaan kali pertama dengan Mas Imam tak bisa atau tidak akan menganggapnya sebagai pribadi pendiam atau-yang belum pernah kenal-biasanya malah sudah berkesan susah untuk mengawali obrolan. Namun sebenarnya itu hanya kesan sementara. Segera setelah pada tahap percakapan berikutnya, apalagi dapat ngobrol sedikit lebih panjang, Mas Imam adalah karakter pribadi yang rendah hati, sederhana, supportif sekaligus telaten dan mudah empati.
Dan yang asyik seperti cerita di atas, Mas Imam seringkali dalam momen pribadi atau bersama menunjukkan ‘kejutan’ dengan mengemukakan ungkapan yang mampu membelah kebekuan, dan mengembalikan ruang percakapan ke nurani-akal sehat.
Bersambung…





Comments are closed.