Mubadalah.id – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) ISIF Cirebon menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita di halaman kampus ISIF, Sabtu (25/4/2026). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi kritis bagi mahasiswa dan publik untuk memahami situasi masyarakat adat Papua, khususnya terkait perampasan tanah dalam proyek strategis nasional food estate.
Film berdurasi 1 jam 35 menit tersebut disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale, hasil kolaborasi sejumlah lembaga, di antaranya Watchdoc, Jubi Media, Greenpeace Indonesia, Pusaka Bentala Rakyat, serta Ekspedisi Indonesia Baru. Film Pesta Babi ini mengangkat perjuangan masyarakat adat Papua, terutama dari suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu, dalam menghadapi ekspansi proyek food estate yang dinilai mengancam ruang hidup mereka.
Panitia menghadirkan seorang Orang Asli Papua yang tengah merantau di Cirebon, Melianus—akrab disapa Meli—sebagai narasumber diskusi. Ia menegaskan bahwa realitas yang ditampilkan dalam film tersebut sesuai dengan kondisi yang dialami masyarakat Papua saat ini.
Berhadapan dengan Aparat
“Film ini menggambarkan apa yang benar-benar terjadi di Papua. Ketika masyarakat menolak atau menyuarakan keberatan, sering kali mereka berhadapan dengan aparat bersenjata,” ujar Meli dalam diskusi. Ia juga membagikan pengalaman hidupnya sejak kecil yang, menurutnya, tidak lepas dari tekanan dan kekerasan struktural.
Menurutnya, dokumenter tersebut menjadi salah satu medium penting untuk membuka realitas Papua yang belum banyak terekspos di ruang publik, termasuk di media sosial. Ia berharap lebih banyak masyarakat Indonesia dapat mengakses informasi yang berimbang terkait situasi di Papua.
Pemutaran film tersebut memantik respons emosional dari para penonton. Banyak di antara mereka mengaku terkejut dan prihatin terhadap realitas yang ada di dalam film.
Sejumlah pertanyaan muncul dalam sesi diskusi, di antaranya mengenai posisi Papua dalam kebijakan nasional. Serta langkah konkret yang dapat masyarakat lakukan setelah mengetahui situasi tersebut.
Salah satu kutipan dalam film Pesta Babi yang sering mereka ulang-ulang adalah “Kami hidup di bawah naungan bendera Merah Putih. Tetapi negara tidak dapat melindungi kami.” Ini semakin menegaskan kegelisahan masyarakat adat Papua terhadap perlindungan negara.
Dalam diskusi juga diungkapkan bahwa selama lebih dari enam dekade, Papua mengalami eksploitasi sumber daya alam dalam skala besar. Pembukaan hutan yang mencapai sekitar 2,5 juta hektare disebut sebagai salah satu yang terbesar di dunia.
Kondisi ini berdampak langsung pada keberlangsungan hidup masyarakat adat, termasuk perempuan yang memegang peran penting dalam menjaga kehidupan komunitas.
Perjuangan Perempuan Adat Papua
Film tersebut turut menyoroti peran perempuan adat Papua yang berada di garis depan perjuangan. Mereka tidak hanya menghadapi dampak ekologis dan sosial. Tetapi juga menjalankan peran reproduktif dalam kondisi serba terbatas. Salah satu adegan memperlihatkan seorang ibu yang melahirkan di tengah hutan, menggambarkan keterbatasan akses layanan dasar akibat konflik ruang hidup.
Sosok perempuan adat yang menjadi lakon dalam film adalah Mama Yasinta. Ia berasal dari suku Marind dan aktif menyuarakan penolakan terhadap eksploitasi tanah adat. Dalam berbagai aksi, Mama Yasinta menegaskan bahwa Papua bukanlah tanah kosong yang bebas mereka eksploitasi.
Ia memimpin komunitasnya dalam berbagai bentuk perlawanan, mulai dari aksi simbolik seperti pemasangan salib merah di wilayah yang terancam penggusuran hingga upaya hukum melalui pengadilan. Perjuangannya tidak hanya terkait sengketa lahan, tetapi juga menyangkut upaya menjaga identitas budaya dan keberlanjutan generasi mendatang.
Bagi masyarakat adat Papua, hutan bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan ruang hidup yang menyediakan pangan, obat-obatan, dan kebutuhan sehari-hari. Hutan bahkan mereka maknai sebagai “rahim” yang menopang kehidupan. Karena itu, upaya mempertahankan hutan dipandang sebagai bagian dari menjaga keberlangsungan hidup komunitas.
Melalui kegiatan ini, DEMA ISIF berharap mahasiswa dan masyarakat luas dapat lebih peka terhadap isu-isu keadilan sosial dan lingkungan. Serta turut menyuarakan solidaritas terhadap masyarakat adat Papua. Diskusi ditutup dengan ajakan untuk meningkatkan kesadaran publik bahwa persoalan di Papua merupakan bagian dari tanggung jawab bersama sebagai warga negara. []





Comments are closed.