Sun,26 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Top News
  3. Nyobeng: Ritual sakral yang menjaga nafas leluhur Dayak Bidayuh

Nyobeng: Ritual sakral yang menjaga nafas leluhur Dayak Bidayuh

nyobeng:-ritual-sakral-yang-menjaga-nafas-leluhur-dayak-bidayuh
Nyobeng: Ritual sakral yang menjaga nafas leluhur Dayak Bidayuh
service

Ini adalah hari ketika kampung kembali hidup dalam ritus adat yang menyatukan seluruh warga dalam satu kesadaran budaya

Pontianak (ANTARA) – Hari masih sangat gelap dan sunyi di Desa Hlibuei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, ketika kehidupan justru mulai bergerak dalam cara yang berbeda. Bukan oleh aktivitas harian biasa, melainkan oleh denyut ritual yang telah hidup ratusan tahun di tengah masyarakat Dayak Bidayuh.

Kesunyian itu perlahan pecah oleh langkah seorang tetua adat yang menyusuri jalan kampung yang masih basah oleh embun pagi. Keluar dari sebuah rumah sederhana, sosok itu adalah Pak Amin, Ketua Adat Dusun Sebujit Baru, yang mulai bergerak menuju Rumah Baluk.

Tempat yang dituju ialah sebuah rumah adat berbentuk bundar bertiang tinggi yang menjadi pusat sakral pelaksanaan ritual Nyobeng (Gawia Nibakng), salah satu tradisi paling dihormati dalam kehidupan masyarakat Dayak Bidayuh di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia.

“Rumah Baluk bagi kami bukan sekadar bangunan adat. Ia adalah ruang spiritual, tempat doa-doa adat dipanjatkan, tempat leluhur ‘dihadirkan’, dan tempat di mana hubungan antara manusia, alam, serta dunia tak kasat mata dijaga tetap seimbang,” kata Ketua Panitia Nyobeng 2026 Gregorius Gunawan di Bengkayang, belum lama ini.

Di tempat itulah seluruh rangkaian Nyobeng akan bermula, sebuah ritual yang dalam catatan tradisi lama berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur serta ungkapan syukur atas kehidupan yang terus berlanjut.

Meski langkahnya tidak lagi sekuat dahulu, dan kondisi kesehatannya tidak sepenuhnya prima, semangat Pak Amin tetap menyala di tengah dinginnya pagi. Dengan tubuh yang sesekali harus dipapah oleh putranya, Gubawan, ia tetap melangkah pelan namun pasti.

Setiap langkah menuju Rumah Baluk seakan menjadi bagian dari perjalanan batin, sebuah pengabdian yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga spiritual, menghubungkan dirinya dengan jejak panjang leluhur yang telah lebih dahulu menjaga adat ini.

Di dalam keheningan pagi itu, tidak ada kata-kata yang berlebihan. Hanya suara langkah kaki, desir angin yang menyapu pepohonan, dan cahaya samar fajar yang mulai merayap dari balik perbukitan Siding.

Masyarakat yang mulai terbangun dari rumah masing-masing pun menyadari bahwa hari ini bukan hari biasa. Ini adalah hari ketika kampung kembali hidup dalam ritus adat yang menyatukan seluruh warga dalam satu kesadaran budaya.

Sejak malam sebelumnya, kampung telah berubah menjadi ruang persiapan besar yang dilakukan secara gotong royong. Di setiap rumah, warga menata berbagai perlengkapan upacara dengan penuh ketelitian dan rasa hormat.

Sesaji disiapkan bukan sekadar sebagai hidangan, tetapi sebagai simbol komunikasi dengan leluhur: tuak adat yang diseduh dalam wadah bambu atau botol, nasi manis yang melambangkan harapan baik, telur ayam sebagai simbol kehidupan, serta perlengkapan adat seperti kapur sirih, tembakau, daun gambir, dan daun pinang yang memiliki makna filosofis dalam tradisi Dayak Bidayuh.

Di luar rumah, suasana kampung semakin kuat menunjukkan tanda-tanda perayaan adat. Janur-janur kuning digantung di depan rumah Baluk, melambai pelan diterpa angin pagi sebagai penanda bahwa kampung sedang berada dalam suasana sakral. Hiasan sederhana itu bukan sekadar dekorasi, melainkan penanda batas antara kehidupan sehari-hari dan ruang ritual, antara dunia profan dan dunia adat yang penuh makna spiritual.

Para tokoh adat Dayak Bidayuh di Dusun Siding Baru melakukan ritual penyucian bagi para tamu yang hadir dalam perayaan Nyobeng 2026 di Desa Hlibuei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. ANTARA/Rendra Oxtora/aa.

Paduom

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.