- Temuan spesies baru kembali datang dari hutan Sulawesi. Kali ini, tim peneliti Indonesia melaporkan temuan tumbuhan berbunga oranye cerah dari kawasan Pegunungan Tokorondo, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.
- Spesies itu diberi nama Rhododendron yombuwurii, sebagai penghormatan kepada mendiang Pendeta Yombu Wuri, seorang tokoh agama dan pejuang kelestarian lingkungan di Danau Poso.
- Para peneliti menyebut spesies ini merupakan anggota baru subgenus Vireya, kelompok Rhododendron tropis yang banyak ditemukan di kawasan Asia Tenggara.
- K.P. Bandjolu, salah satu tim ribet mengatakan, tumbuhan ini secara alami berbunga dua kali setahun, pada Juni–Juli dan November, serta berbuah pada Januari dan Agustus. Spesies ini diketahui hanya berasal dari wilayah Pegunungan Tokorondo, Sulawesi Tengah.
Temuan spesies baru kembali datang dari hutan Sulawesi. Kali ini, tim peneliti Indonesia melaporkan temuan tumbuhan berbunga oranye cerah dari kawasan Pegunungan Tokorondo, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.
Spesies itu diberi nama Rhododendron yombuwurii, sebagai penghormatan kepada mendiang Pendeta Yombu Wuri, seorang tokoh agama dan pejuang kelestarian lingkungan di Danau Poso.
Temuan ini rilis dalam jurnal ilmiah Taiwania International Journal of Biodiversity dengan judul “Rhododendron yombuwurii (Ericaceae), a new orange-flowered species of subgenus Vireya from Central Sulawesi, Indonesia” oleh P. W. K. Hutabarat, Zulfadli, K. P. Bandjolu, Basrul, M. R. Hariri, A. Senatama dan S. H. Larekeng.
Dalam publikasi itu, para peneliti menyajikan deskripsi morfologi terperinci, pengamatan mikroskopis komparatif, catatan mengenai distribusi, habitat, dan ekologi, serta penilaian konservasi awal.
Sebelumnya, spesies ini berasal dari bahan koleksi di Pegunungan Tokorondo, sebelah barat laut Danau Poso. Saat ini dibudidayakan di ketinggian lebih rendah dekat Air Terjun Saluopa, tempat ia tumbuh secara menumpang pada tumbuhan lain (epifit) dan menghasilkan bunga-bunga kecil berwarna oranye cerah.
Para peneliti menyebut spesies ini merupakan anggota baru subgenus Vireya, kelompok Rhododendron tropis yang banyak ditemukan di kawasan Asia Tenggara.
Pemberian nama spesies “yombuwurii” sebagai penghormatan kepada almarhum Pendeta Yombu Wuri, aktivis, tokoh agama dan budaya terkemuka dari Suku Pamona, yang dikenal karena perjuangan dalam melawan perusakan lingkungan dan kampanye pada upaya pelestarian keanekaragaman hayati, kebudayaan dan perdamaian di Poso.

Yombu Wuri meninggal dunia pada 20 Mei 2024. Hingga akhir hayat Yombu Wuri kerap membawa isu perdamaian, lingkungan, keanekaragaman hayati dan kebudayaan Suku Pamona pada khotbah maupun lagu ciptaannya.
“Dengan harapan pasti, jejak perjuangan almarhum Pendeta Yombu Wuri dapat abadi melalui nama spesies tumbuhan ini,” tulis peneliti.
Penemuan ini merupakan hasil kolaborasi riset Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara, Perkumpulan Konservasi Membumi, Lentera Matia Ndano, Universitas Lampung dan Universitas Hasanuddin.
Spesies baru ini bermula dari penelitian lapangan pada Juni 2023 di sekitar Tentena, Sulawesi Tengah. K. P. Bandjolu, salah satu peneliti, mengatakan, timnya saat itu menemukan tanaman hidup dari genus Rhododendron yang tidak menyerupai spesies mana pun di Sulawesi yang telah terdeskripsi sebelumnya.
Tanaman itu tumbuh pada substrat anggrek epifit dan ditemukan telah dibudidayakan di area yang sangat terganggu di sekitar Air Terjun Saluopa, objek wisata populer di sana.
Kawasan ini merupakan hutan alam yang mengalami modifikasi karena aktivitas pariwisata. Di lokasi itu, tanaman asli dari hutan sekitar terkadang diperjualbelikan.
“Saat penemuan awal, tidak mungkin untuk menyiapkan spesimen herbarium,” kata Bandjolu.

Pada Februari 2024, dia kembali menemukan tanaman hidup itu dan memperoleh informasi dari penjual anggrek bahwa seluruh substrat, termasuk Rhododendron, awalnya jatuh dari pohon besar di Petirorano. Daerah ini merupakan bagian dari Pegunungan Tokorondo di sebelah barat Tentena dan Danau Poso, pada ketinggian sekitar 1.000–1.800 mdpl.
Menariknya, tanaman itu bertahan hidup walau pindah ke ketinggian lebih rendah di Air Terjun Saluopa (560 m). Spesimen yang sedang berbunga kemudian mereka kumpulkan dan olah sebagai spesimen herbarium pada Juli dan November 2024.
“Spesimen yang diperiksa berasal dari Kecamatan Pamona Puselemba, Tentena, Air Terjun Saluopa, 560 m, ditanam di kebun pribadi dari bahan yang dikumpulkan di alam liar,” ungkap. Bandjolu.
Hasil diagnosis menunjukkan, Rhododendron yombuwurii memiliki kekerabatan terdekat dengan R. celebicum (Blume) DC. Ia menunjukkan kemiripan morfologis dengan R. impressopunctatum J.J.Sm. dan R. vidalii subsp.brachystemon Argent.
Spesies ini berbeda dari R. celebicum (Blume) DC. karena memiliki urat tengah dan urat samping yang menonjol, dan perbungaan setengah tegak hingga horizontal. Kemudian, kelopak tidak berbulu di bagian luar, serta mahkota berwarna oranye yang jauh lebih kecil, dan berwarna merah muda hingga merah.
Dibandingkan dengan R. impressopunctatum J.J.Sm., spesies ini memiliki daun lebih kecil, jumlah bunga dalam malai lebih sedikit, mahkota oranye lebih kecil, serta filamen yang terkumpul di mulut mahkota, bukan menonjol keluar.
Spesies ini juga berbeda dari R. vidalii subsp. brachystemon Argent. dalam hal ranting muda yang bersisik lalu menjadi hampir gundul, daun lebih panjang dengan urat yang menonjol, kelopak gundul di bagian luar, mahkota oranye lebih kecil, serta ovarium yang bersisik jarang hingga hampir gundul.
Peneliti menyebut, studi morfologi terperinci, disertai perbandingan dengan bahan herbarium yang tersedia dan uraian monografis terkait, menegaskan bahwa takson ini merupakan spesies yang belum dideskripsikan.
Untuk mengevaluasi lebih lanjut status taksonominya dan menilai kemungkinan asal-usul hibrida, dilakukan pula analisis molekuler.
Pemeriksaan morfologi dan pencitraan menggunakan mikroskop stereoskopik dan mikroskop elektron pemindai dengan sinar ion terfokus (FIB) dua sinar, Aquilos 2, di BRIN, Cibinong.
Pengamatan ini untuk mendokumentasikan karakter diagnostik dan membandingkan spesies baru dengan takson terkait secara morfologi.
“Spesimen herbarium yang ditetapkan sebagai tipe diperiksa dan dibandingkan dengan deskripsi serta ilustrasi dalam monografi terkait, sekaligus dengan spesimen fisik takson terkait yang tersimpan di Herbarium Bogoriense, khususnya Rhododendron celebicum, R. impressopunctatum, dan spesies lain dari Sulawesi maupun Kepulauan Maluku,” sebut peneliti.
Selain itu, spesimen herbarium digital dari R. celebicum, R. impressopunctatum, dan R. vidalii subsp. brachystemon juga diperiksa melalui portal Global Biodiversity Information Facility (GBIF). Pemeriksaan mencakup materi dari Royal Botanic Gardens, Kew (K), Royal Botanic Garden Edinburgh (E), Naturalis Biodiversity Center (L), Muséum national d’Histoire Naturelle (P), dan Harvard University Herbaria (A).
Namun, penilaian konservasi sementara IUCN masih berstatus data deficient (DD), berarti informasi yang tersedia belum memadai untuk menilai risiko kepunahan secara langsung maupun tidak langsung.
“Spesies ini diketahui hanya berdasarkan satu penemuan di dekat hutan primer Air Terjun Saluopa, Desa Wera, Kabupaten Poso. Lokasi penemuan tidak dapat dipetakan secara pasti, dan populasi spesies ini belum pernah diamati langsung di lapangan,” kata. Bandjolu.

Sebenarnya, survei lapangan sudah mereka lakukan di Petirorano dan sekitar beberapa kali sejak 2020. Namun, survei bersifat terbatas, sebagian besar hanya mencakup area dekat jalan dan jalur yang dapat terakses. Dia bilang, belum lakukan eksplorasi sistematis ke bagian dalam hutan.
“Wilayah ini masih belum sepenuhnya dieksplorasi secara botani, sehingga individu atau populasi tambahan mungkin dapat ditemukan melalui penelitian lapangan yang lebih luas,” ujarnya.
Bandjolu bilang, tumbuhan ini secara alami berbunga dua kali setahun, pada Juni–Juli dan November, serta berbuah pada Januari dan Agustus. Spesies ini diketahui hanya berasal dari wilayah Pegunungan Tokorondo, Sulawesi Tengah.
Berdasarkan informasi dari pengumpul lokal, spesies ini diduga berasal dari hutan pegunungan di Petirorano di Pegunungan Tokorondo, ketinggian sekitar 1.000–1.800 MDPL, sekitar 19 km sebelah barat Air Terjun Saluopa.
“Karena distribusinya terbatas, perlu upaya konservasi eks-situ terhadap spesies ini. Kolaborasi antara pemerintah, peneliti, akademisi dan masyarakat diharapkan dapat membuat spesies ini lestari di alam.”

Referensi
Hutabarat P. W. K., Zulfadli, Bandjolu, K.P., Basrul, Hariri, M. R., Senatama, A., & Larekeng, S. H., 2026. Rhododendron yombuwurii (Ericaceae), a new orange-flowered species of subgenus Vireya from Central Sulawesi, Indonesia. Taiwania 71(2): ‒ , 2026 DOI: 10.6165/tai.2026.71.
*****





Comments are closed.