Mon,27 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Popok Bayi, Sampah, dan Beban Ibu

Popok Bayi, Sampah, dan Beban Ibu

popok-bayi,-sampah,-dan-beban-ibu
Popok Bayi, Sampah, dan Beban Ibu
service

Mubadalah.id – Bau itu mulai akrab beberapa hari terakhir. Petugas belum mengangkut kantong-kantong sampah yang mulai menumpuk. Halaman-halaman rumah semakin sesak dan popok-popok bekas tidak bisa segera terbuang. Ketika TPA Pakusari tutup, sampah seolah kembali ke rumah.

Di berbagai sudut kota Jember, warga mulai mencari cara agar sampah tidak harus menumpuk. Ada yang membakar sampahnya sendiri, menguburnya dipekarangan rumah, dan ada yang malah membiarkan berada dalam kantong-kantong plastik. Berharap truk pengangkut segera datang.Di tengah situasi itu, saya justru mengingat satu jenis sampah yang jarang kebanyakan orang bicarakan, tetapi selalu ada setiap harinya, yakni popok sekali pakai.

Bagi keluarga yang memiliki bayi atau balita, popok bayi bukan sekadar benda sekali pakai yang dibuang lalu selesai. Ia adalah bagian dari rutinitas pengasuhan. Setiap pagi, siang, sore, bahkan tengah malam, popok berganti dan terus bertambah menjadi sampah. Ketika sistem pengelolaan sampah berjalan normal, keberadaan popok makin tidak terlalu terasa. Namun ketika sampah tertahan lebih lama di rumah, persoalannya menjadi berbeda.

Kita tidak bisa mengabaikan bau menyengat dari popok bekas begitu saja. Semakin lama kita menyimpan, semakin kuat aromanya memenuhi udara. Lalat mulai berdatangan. Tempat sampah cepat penuh. Ruang yang semula terasa nyaman perlahan berubah menjadi ruang yang dipenuhi kegelisahan.

Di titik itulah saya mulai bertanya, siapa yang paling sering berhadapan dengan persoalan ini?

Popok yang Tidak Pernah Absen

Beberapa waktu terakhir, penutupan TPA Pakusari membuat persoalan sampah menjadi perhatian banyak orang. Tempat penampungan sementara menjadi sesak. Pemerintah daerah berupaya mencari berbagai solusi agar pengelolaan sampah tetap berjalan.

Akan tetapi, di balik persoalan yang terlihat di ruang publik, ada persoalan lain yang berlangsung di dalam rumah. Bayi tetap buang air. Mengganti popok tetap harus dilakukan. Sampah terus bertambah setiap hari.

Ironisnya, popok sekali pakai bukan jenis sampah yang mudah kembali menyatu dengan alam. Lebih dari separuh bahan penyusunnya berupa plastik. Artinya, popok yang hanya digunakan beberapa jam dapat meninggalkan jejak di lingkungan selama puluhan hingga ratusan tahun. Kita mungkin membuangnya hari ini, tetapi alam harus menanggungnya jauh lebih lama.

Di dalam popok juga terdapat Super Absorbent Polymer (SAP), senyawa yang membuat popok mampu menyerap cairan dengan cepat dan mengubahnya menjadi gel. Bahan inilah yag membuat popok terasa sangat praktis untuk digunakan bagi banyak orang tua.

Namun ketika mengelola limbah secara tidak baik dan berakhir di lingkungan, persoalan baru akan muncul. Mungkin popok hadir untuk memudahkan, tetapi saat yang sama menyisakan persoalan lingkungan yang tidak sederhana. Semakin banyak menggunakan popok bayi, semakin besar pula sampah yang harus ditanggung kembali ke lingkungan itu sendiri.

Ketika berbicara tentang sampah popok, saya merasa ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita semua. Kita sibuk menghitung jumlah sampah yang menumpuk. Tetapi jarang bertanya siapa yang harus mengurusnya.

Pekerjaan mengganti popok bayi masih lebih dekat dengan ibu. Karena ibulah yang selalu membersihkan tubuh anaknya. Ibu yang membungkus popok bekas. Ibu yang memastikan bau tidak menyebar ke seluruh rumah. Ketika sampah tidak segera terangkut, ibu pula yang sering kali memikirkan cara menyimpannya agar tidak mengganggu kesehatan keluarga.

Penutupan TPA Pakusari memperlihatkan bagaimana krisis lingkungan dapat memperbesar beban yang selama ini sudah ada. Membuang sampah yang tidak segera akan menambah pekerjaan ibu yang setiap hari mengurus rumah tangga. Mereka harus membungkus popok lebih rapat lagi, mencari tempat penyimpanan, dan mengatasi bau yang terus muncul.

Melihat Sampah dari Sudut yang Lebih Jelas

Selama ini, kita sering membahas terkait isu sampah. Berapa ton sampah, kapasitas tempat pembuangan dan ketersediaan mengangkutnya. Semua itu penting. Namun ada pengalaman manusia yang kadang hilang di balik deretan tersebut.

Padahal, persoalan lingkungan selalu bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari. Ia hadir di dapur, di halaman rumah, di tempat sampah belakang rumah, bahkan di tangan seorang ibu yang sedang mengganti popok anaknya.

Karena itu, pembicaraan menangani krisis sampah perlu melihat pengalaman perempuan sebagai bagian dari persoalan yang utuh. Kita perlu memahami bahwa setiap orang tidak merasakan dampak lingkungan dengan cara yang sama. Apalagi yang merasakannya adalah seorang perempuan.

Dalam banyak keluarga, perempuan masih menjadi pihak yang paling banyak terlibat dengna kerja-kerja domestik. Ketika persoalan lingkungan masuk ke dalam rumah, merekalah yang pastinya lebih dahulu berhadapan dengan dampaknya. Mereka yang harus pula membersihkan, mengelola, dan memastikan rumah tetap nyaman untuk dihuni. Beban perempuan menjadi sangat kompleks.

Karena itu, persoalan sampah tidak selalu berhenti pada urusan lingkungan. Ia merembet hingga ke ruang-ruang yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika popok terus menumpuk menjadi sampah dan pengelolaannya tidak berjalan sebagaimana mestinya, ibu harus menyelesaikan pekerjaan tambahan. Dalam banyak keluarga, ibu juga masih sering menangani urusan tersebut.

Mungkin itulah yang membuat saya terus teringat pada popok-popok bayi yang menumpuk beberapa hari terakhir. Di tengah pembicaraan tentang krisis sampah dan penutupan TPA Pakusari, ada pekerjaan-pekerjaan kecil yang tetap berlangsung setiap hari. Pekerjaan yang sering tidak terlihat, tetapi tidak pernah benar-benar berhenti. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.