EURO/USD1,17
%-0.02
Oil61,12
%-0.26
BTC0,000000
%0
ETH0,000000
%0
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Sempurna dan Kesalehan Kita

Sempurna dan Kesalehan Kita

sempurna-dan-kesalehan-kita
Sempurna dan Kesalehan Kita
0
Share

Share This Post

or copy the link

Ada kematian yang membuat kita berhenti karena ia terasa dekat dengan kehidupan manusia. Ada pula kematian yang seharusnya membuat kita berhenti justru karena ia bukan manusia.

Pada akhir Agustus lalu, seekor orang utan ditemukan dalam kondisi lemah di sebuah perkebunan masyarakat di Ketapang, Kalimantan Barat. Tubuhnya tidak mampu berdiri, geraknya terbatas, dan ia mengalami gangguan pernapasan. Tim penyelamat membawanya untuk mendapatkan pertolongan, tetapi kondisinya terus memburuk. 

Ia kemudian mati. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya gangguan serius pada paru-paru dan organ lain yang diduga berkaitan dengan paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Orang utan itu bernama Sempurna.

Nama itu penting. Sebab ketika seekor satwa diberi nama, ia tidak lagi sepenuhnya hadir sebagai angka, jenis, populasi, atau bagian dari statistik keanekaragaman hayati. Ia menjadi seekor makhluk tertentu yang pernah hidup, bergerak, bernapas, lalu mati.

Tetapi persoalan yang lebih penting dari sebuah nama adalah pertanyaan yang ditinggalkan kematiannya – apa arti keberagamaan kita ketika penderitaan terjadi pada makhluk yang tidak dapat mengucapkan doa, mengadu, atau menuntut pertanggungjawaban?

Tradisi Keagamaan

Pertanyaan ini sebenarnya tidak baru dalam tradisi keagamaan. Dalam Islam, manusia tidak ditempatkan sebagai pemilik mutlak kehidupan. Manusia disebut sebagai khalifah dan dibebani amanah.

Dua kata itu sering terdengar dalam ceramah, tulisan keagamaan, dan berbagai pernyataan tentang lingkungan. Namun, keduanya sesungguhnya membawa konsekuensi yang jauh lebih berat daripada sekadar anjuran untuk “mencintai alam”.

Khalifah bukan gelar kehormatan. Ia adalah posisi yang mengandung tanggung jawab. Demikian pula amanah bukan sekadar kepercayaan, tapi sesuatu yang kelak dimintai pertanggungjawaban. Di situlah persoalannya menjadi lebih konkret.

Kita sering memahami kekuasaan manusia atas alam sebagai tanda kemampuan. Kita membuka lahan, menebang pohon, membangun jalan, mengubah bentang alam, mengambil hasil bumi, lalu menyebut semua itu pembangunan. Selama memberikan manfaat kepada manusia, tindakan tersebut mudah dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Yang jarang kita tanyakan adalah seberapa jauh kekuasaan boleh digunakan sebelum berubah menjadi kesewenang-wenangan?

Agama semestinya memberi batas pada kekuasaan semacam itu. Sebab inti dari amanah justru terletak pada kesediaan untuk tidak menggunakan seluruh kemampuan yang kita miliki hanya karena kita mampu melakukannya. Tidak semua yang bisa dikuasai berarti boleh diperlakukan sesuka hati. Tidak semua yang tidak mampu melawan berarti boleh dikorbankan.

Sempurna tidak pernah punya suara dalam keputusan tentang lahan. Ia tidak ikut menentukan bagaimana hutan dikelola. Ia tidak mengenal istilah konsesi, produktivitas, investasi, ataupun pertumbuhan ekonomi. Tetapi ketika keputusan-keputusan manusia menghasilkan asap yang mengganggu pernapasan, ia ikut menanggung akibatnya.

Di sinilah religiositas berhadapan dengan kenyataan. Kita mungkin begitu fasih berbicara tentang dosa, pahala, ibadah, kesalehan, dan kemuliaan manusia. Kita membangun rumah ibadah, memperbanyak kegiatan keagamaan, memperingati hari-hari besar keagamaan. 

Semua itu penting. Tetapi ada satu ukuran kesalehan yang sering luput yaitu bagaimana seseorang memperlakukan kehidupan yang tidak dapat memberikan apa-apa kepadanya?

Menolong manusia yang kelaparan relatif mudah dipahami sebagai tindakan kemanusiaan. Menolong hewan yang terluka mungkin dianggap sebagai pilihan tambahan. Padahal justru di sana terdapat ujian moral yang menarik. 

Ketika makhluk di hadapan kita tidak bisa membalas kebaikan, tidak bisa berterima kasih, bahkan tidak bisa mengetahui siapa yang telah menolongnya, apa yang membuat kita tetap memilih untuk peduli? Jawabannya adalah karena kepedulian tidak seharusnya selalu bergantung pada balasan.

Dalam khazanah Islam terdapat kisah dan ajaran tentang kasih sayang kepada makhluk hidup. Larangan menyiksa hewan, anjuran memberi makan dan minum, serta kisah-kisah tentang pahala dan dosa yang berkaitan dengan perlakuan terhadap binatang menunjukkan bahwa kehidupan nonmanusia bukan sesuatu yang sama sekali berada di luar pertimbangan moral. Artinya, hubungan manusia dengan makhluk lain bukan hanya persoalan ekologis. Ia juga persoalan etis dan spiritual.

Karena itu, kebakaran hutan dan lahan tidak cukup dibicarakan sebagai persoalan cuaca, titik panas, luas wilayah terbakar, atau keberhasilan pemadaman. Semua itu penting untuk kebijakan. Tetapi agama seharusnya mengajukan pertanyaan yang berbeda: mengapa kita sampai membiarkan kehidupan lain menanggung akibat dari keputusan kita?

Pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk menggantikan kerja ilmiah, hukum, atau kebijakan. Justru sebaliknya. Ia memberi dasar moral mengapa semua itu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Penyelamatan satwa seperti Sempurna adalah tindakan penting. Begitu pula evakuasi orang utan lain yang terancam kebakaran. Namun, keberhasilan menyelamatkan beberapa ekor tidak boleh membuat kita merasa persoalan selesai. Menyelamatkan korban adalah kewajiban kemanusiaan; mencegah lahirnya korban berikutnya adalah kewajiban yang lebih besar.

Persoalan Lingkungan

Di sinilah agama dapat mengambil peran yang lebih berarti dalam persoalan lingkungan. Bukan dengan menambah daftar khotbah tentang menjaga alam, melainkan dengan mengubah cara kita memahami tanggung jawab. 

Alam bukan sekadar latar tempat manusia menjalankan kehidupan. Makhluk lain bukan sekadar pelengkap ciptaan yang boleh dipikirkan setelah kebutuhan manusia selesai. Ada kehidupan yang berada di luar jangkauan suara kita, tetapi bukan di luar jangkauan tanggung jawab kita.

Sempurna mungkin tidak pernah tahu bahwa manusia menyebutnya khalifah. Ia juga tidak tahu apa arti amanah. Yang ia tahu hanyalah sakit, sesak, lapar, takut, dan kemudian kehilangan hidupnya. Justru karena ia tidak tahu, manusialah yang harus mengerti.

Mungkin pada akhirnya ukuran religiositas tidak hanya terlihat dari seberapa sering kita berbicara tentang Tuhan, tetapi juga dari bagaimana kita memperlakukan ciptaan-Nya ketika tidak ada keuntungan yang bisa kita dapatkan darinya.

Sempurna telah mati. Yang tersisa bagi kita bukan hanya kesedihan atas seekor orang utan, tapi sebuah pertanyaan tentang (ke)manusia(an): ketika Tuhan mempercayakan kehidupan kepada kita, apakah kita benar-benar sedang menjaganya, atau hanya sedang menggunakan kepercayaan itu untuk memperbesar kuasa kita sendiri?

0
mutlu
Mutlu
0
_zg_n
Üzgün
0
sinirli
Sinirli
0
_a_rm_
Şaşırmış
0
vir_sl_
Virüslü
Sempurna dan Kesalehan Kita
+ - 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.