Wed,2 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Profil KH Nurul Huda Djazuli Ploso, Anggota Ahwa yang Fokus Belajar dan Mengajar

Profil KH Nurul Huda Djazuli Ploso, Anggota Ahwa yang Fokus Belajar dan Mengajar

profil-kh-nurul-huda-djazuli-ploso,-anggota-ahwa-yang-fokus-belajar-dan-mengajar
Profil KH Nurul Huda Djazuli Ploso, Anggota Ahwa yang Fokus Belajar dan Mengajar
service

Jakarta, NU Online

KH. Nurul Huda Djazuli, atau yang akrab disapa Mbah Yai Da, terpilih sebagai salah satu anggota Ahlul Halli wal Aqdi pada Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur pada Ahad (30/8/2026).

Kiai Huda merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Mojo, Kediri. Ia lahir dari pasangan ulama besar, pendiri (muassis) Pesantren Al-Falah KH. Ahmad Djazuli Utsman dan Nyai Hj. Rodliyah Djazuli.

Dalam portal resmi Al-Falah Ploso, dari 11 bersaudara, ia tercatat sebagai anak keempat (setelah dua saudaranya, Siti Azizah dan Hadziq, meninggal saat bayi/balita), dan merupakan putra kedua yang hidup hingga dewasa setelah KH. A. Zainuddin Djazuli. Saudara-saudaranya yang lain dan hidup hingga dewasa adalah KH. Hamim Djazuli (Gus Miek), KH. Fuad Mun’im Djazuli, KH. Munif Djazuli, dan Nyai Hj. Lailatul Badriyah Djazuli.

Sepeninggal sang ayah, Kiai Huda bersama saudara-saudaranya melanjutkan estafet kepemimpinan dan pengelolaan Pesantren Al-Falah Ploso. Kiai Huda juga terkenal sebagai sosok yang memegang teguh thariqoh ta’lim wa ta’allum” (tarekat belajar dan mengajar).

Kiai Huda pernah menceritakan momen KH Mahrus Ali bertanya padanya soal tarekat.

“Da, bapakmu itu thariqahnya apa?”  tanya Kiai Mahrus.

Kiai Huda lantas menjawab dengan mengutip prinsip ayahnya.

“Afdlalut thuruq ilallaah, thariqatut ta’lim wat ta’allum (sebaik-baik jalan menuju Allah adalah jalan mengajar dan belajar,” jawab Kiai Huda sebagaimana dikutip dari NU Online, Sabtu (29/8/2026). Menariknya, KH. Mahrus Ali kemudian menjawab bahwa ayahnya sendiri memiliki keyakinan yang identik. 

KH Nurul Huda Djazuli secara konsisten menekankan pentingnya menjaga tradisi ta’lim wa ta’allum (belajar dan mengajar) yang ditanamkan ayahnya. Prinsip ini sejalan dengan yang tercatat di alfalahploso.net, bahwa KH. Djazuli Utsman tidak mengamalkan wiridan tertentu, melainkan menjadikan thariqoh ta’lim wa ta’allum sebagai jalan spiritual utamanya.

Dedikasi tersebut diwujudkannya melalui konsistensi dan keistiqamahan mendampingi para santri serta mengampu pengajian kitab-kitab kuning klasik, seperti ngaji Al-Hikam setiap Wethonan.

Di kancah kebangsaan dan keumatan, Kiai Huda menduduki posisi sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sosoknya yang sejuk dan sarat kebijaksanaan membawanya terpilih sebagai salah satu dari sembilan ulama sepuh dalam jajaran Ahlul Halli wal Aqli (Ahwa) pada Muktamar ke-34 NU di Lampung. 

Dalam berbagai kesempatan, Kiai Huda terus menyerukan pentingnya ikhlas berkhidmah di NU, menjaga persatuan dan kerukunan, serta menegaskan bahwa pesantren dan Nahdlatul Ulama merupakan dua pilar utama yang tak terpisahkan.

Saat memimpin doa dalam pembukaan Munas-Konbes PBNU 2026 di Pesantren Al-Falah Ploso pada Sabtu (20/6/2026) lalu, misalnya. Kiai Huda menitipkan pesan mendalam kepada jajaran struktural NU sebelum memanjatkan doa. Beliau mengingatkan bahwa di tengah situasi NU yang terus bergulir, NU tetap mampu bertahan berkat keteguhan para masyayikh terdahulu. 

“Maka semoga para pimpinan dan pengurus NU ini bisa berjuang dengan tulus dan ikhlas,” tutur Kiai Huda, dikutip dari NU Online.

Ia juga mengutarakan sebuah kaidah yang beliau pegang, intinya bahwa hidup-matinya NU akan berbanding lurus dengan hidup-matinya pondok pesantren. Kiai Huda mengaku senantiasa berdoa kepada Allah agar syiar Islam di tubuh NU beserta pesantren-pesantrennya terus dihidupkan.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.