Sat,16 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Pulau Kembang: Pulau Kecil yang Tidak Dihuni Manusia, tapi Jadi Rumah Bagi Kawanan Kera Ekor Panjang

Pulau Kembang: Pulau Kecil yang Tidak Dihuni Manusia, tapi Jadi Rumah Bagi Kawanan Kera Ekor Panjang

pulau-kembang:-pulau-kecil-yang-tidak-dihuni-manusia,-tapi-jadi-rumah-bagi-kawanan-kera-ekor-panjang
Pulau Kembang: Pulau Kecil yang Tidak Dihuni Manusia, tapi Jadi Rumah Bagi Kawanan Kera Ekor Panjang
service

Pulau Kembang: Pulau Kecil yang Tidak Dihuni Manusia, tapi Jadi Rumah Bagi Kawanan Kera Ekor Panjang


Pulau Kembang adalah sebuah pulau kecil seluas 60 hektare di Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan. Alih-alih dihuni oleh manusia, populasi kera di sini sangat besar. Pulau ini menjadi rumah bagi kawanan kera ekor panjang.

Pulau Kembang bertanahkan rawa, sehingga tak banyak buah-buahan yang bisa tumbuh. Namun, jumlah kera yang hidup justru sangat banyak. Dengan populasi kera yang sangat banyak itulah tak Pulau Kembang sampai dijuluki sebagai Pulau Kera.

Pulau ini berjarak kurang lebih 1,5 km dari Kota Banjarmasin. Untuk menuju ke Pulau Kembang, pengunjung bisa menyewa perahu klotok. Perjalanan yang ditempuh hanya sekitar 15 menit saja.

Sejarah Pulau Kembang

Pulau Kembang bisa dibilang memiliki kisah yang misterius. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh M. Rezky N.H., M.Pd., dari Universitas Lambung Mangkurat, ada dua versi sejarah yang berkembang di kalangan masyarakat terkait pulau ini.

Pertama, sejarah Pulau Kembang berawal dari salah seorang keturunan Raja di Kuin yang tidak dianugerahi anak. Ahli nujum saat itu mengatakan, jika ia ingin memiliki anak, maka ia harus pergi ke sebuah pulau (Pulau Kembang) untuk melakukan upacara badudus atau mandi-mandi.

Keluarga kerajaan pun melakukan nasihat si peramal itu. Uniknya, selang beberapa waktu, istri keturunan raja yang belum dikaruniai anak tadi betul-betul hamil.

Kerajaan sangat senang mendengar kabar tersebut. Walhasil, raja pun memerintahkan petugas kerajaan untuk menjaga pulau itu agar tidak ada yang merusak dan mengganggunya.

Orang kerajaan yang mendapatkan titah raja itu kemudian membawa dua ekor warik atau kera besar, jantan dan betina. Konon, dari cerita yang beredar, dijelaskan bahwa petugas kerajaan ini tiba-tiba menghilang entah ke mana. Sementara itu, dua kera yang ditinggalkan justru berkembang biak dan menjadi penghuni tetap Pulau Kembang.

Banyak yang percaya jika kera-kera tersebut merupakan jelmaan dari makhluk ghaib yang. Kelompok kera ini dipimpin oleh seekor kera besar yang bernama Anggur.

Kemudian, pulau ini dijadikan sebagai tempat bernazar. Orang yang datang ke pulau itu membawa sesajen, seperti pisang, telur, dan lainnya. Tak hanya itu, ada pula kembang-kembang dan mayang pinang yang dibawa untuk diberikan pada kawanan monyet. Pada akhirnya, pulau yang banyak ditaburi bunga ini disebut dengan Pulau Kembang.

Sementara itu, versi kedua mencatat sejarah keberadaan Pulau Kembang pada tahun 1698. Saat itu, banyak pedagang Inggris yang berusaha membuka kantor dagang di Banjarmasin. Namun, hubungan Inggris dan Kerajaan Banjar kala itu tidak begitu baik.

Demi menyingkirkan Inggris, Sultan Banjar meminta bantuan penduduk asli pedalaman dari golongan Biaju yang hidup di pesisisr Barito. Dikisahkan jika ada sekitar 3.000 orang Biaju yang turun ke Muara Cerucuk dan menyerang tempat tinggal dan benteng Inggris. Bahkan, kapal-kapal mereka pun dibakar.

Puing bekas kapal itu lambat laun berevolusi menjadi pulau dan ditumbuhi kembang warna-warni yang didiami kera. Kera-kera ini dikatakan dipimpin oleh seekor kera besar berwarna putih.

Bagian dari Situs Geopark Meratus

Secara geologis, Pulau Kembang merupakan delta yang terbentuk dari sedimentasi Sungai Barito selama ribuan tahun. Pulau Kembang memiliki banyak flora dan fauna khas di dalamnya, termasuk monyet ekor panjang.

Selain itu, banyak flora yang tumbuh seperti rambai, jambu, tancang, rengas, nipah, dan sebagainya. Di sisi lain, ada pula bekantan yang jadi ikon khas Kalimantan, elang hitam, elang tikus, dan sebagainya yang ikut menghuni Pulau Kembang.

Pulau ini tercatat sebagai hutan wisata berdasarkan SK Menteri Pertanian Tahun 1979. Pulau ini juga masuk ke dalam situs Geopark Pegunungan Meratus. Artinya, pulau ini sangat dilindungi oleh pemerintah.

Pulau Kembang sudah dijadikan objek wisata sejak masa Hindia Belanda pada 1920-2942. Oleh orang Belanda, pulau ini disebut sebagai Apeneiland atau Pulaunya Para Kera.

Sampai sekarang, Pulau Kembang dijadikan salah satu tujuan wisata di Barito Kuala. Pemerintah juga berupaya untuk terus menjaga pulau ini mengingat statusnya sebagai kawasan konservasi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.