Peluncuran kampanye “Berani Bicara Berat” di Jakarta pada Jumat (14/08/2026)./Istimewa
Obesitas jadi momok bagi banyak orang. Faktanya, meski obesitas bisa terjadi karena faktor genetik, bukan berarti hal tersebut tidak bisa dihindari.
Setiap orang memang punya potensi atau risiko obesitas yang berbeda. Perbedaan ini terjadi karena berbagai hal, salah satunya pengaruh genetik, di samping juga faktor lain seperti kecepatan metabolisme tubuh, usia, dan gaya hidup sehari-hari. Itu pula mengapa ada orang yang tetap kurus meski banyak makan, namun ada pula yang berat badannya amat mudah naik.
Menurut Ketua Umum Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, setiap orang pada dasarnya memiliki peta genetiknya masing-masing. Itulah yang membuat sebagian orang punya “gen kurus” dan sebagian lainnya punya “gen gemuk”.
“Jadi gen gemuk itu yang men-driver seseorang ini, ‘oh punya bakat akan jadi gemuk’ di kemudian hari. Nah, ini mungkin menunjukkan juga basal metaboliknya yang rendah,” ujar Em Yunir dalam peluncuran kampanye edukasi kesehatan “Berani Bicara Berat” yang diselenggarakan PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL) di Jakarta pada Jumat (14/08/2026).
Ada baiknya setiap orang mengenal sejak dini perihal gen yang dimilikinya. Dengan demikian, pola dan gaya hidupnya dapat diatur agar jika seseorang diketahui memiliki “gen gemuk”, risiko obesitas dapat ditekan.
“Jadi artinya kalau kita dari kecil sudah ketahuan, oh ini ada bakat gemuk, hati-hati. Environment-nya harus dijaga supaya dia aktivitas fisiknya tetap baik,” lanjut Em Yunir.
Dipaparkan Em Yunir, di dalam peta genetik manusia juga terdapat gen yang berkaitan dengan peluangnya untuk terkena penyakit diabetes, terutama saat usianya menginjak 30 atau 40-an tahun. Guna mencegah diabetes itu terjadi, penanganannya pun masih sama, yakni mengendalikan pola dan gaya hidup.
“Lifestyle-nya jelek, makannya banyak, karbonya melulu, kurang gerak. Nah, itu suatu saat si gen yang tadinya adem-adem aja, tapi lingkungannya men-support dia untuk muncul. Sudah, keluarlah diabetesnya,” papar Em Yunir.

Beragam Cara Menangani Obesitas
Obesitas memang masalah nyata di Indonesia. Laporan hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan prevalensi penderita obesitas pada kelompok usia dewasa mencapai angka 23,4 persen dari total populasi. Pada perempuan, persentasenya bahkan mencapai 31,2 persen secara nasional.
Jelas, obesitas perlu ditangani secara serius guna mencegah munculnya penyakit lain. Sebab, obesitas memang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular seperti jantung, diabetes, dan stroke.
Lantas, seberapa besar dampak mengatur pola dan gaya hidup sebagai upaya menangani obesitas?
“Mengatur makan bisa turun 10 persen. Memang itu maksimal ya. Kalau lifestyle sama ngatur makan itu maksimal bisa turun 30 persen dari berat badannya,” jelas Em Yunir.
Selain mengatur pola dan gaya hidup, khususnya makan, ada pula cara lain yang kini banyak ditempuh untuk menangani obesitas. Salah satunya dengan suntik Ozempic, obat untuk mengontrol gula darah pada diabetes tipe 2 dan menekan nafsu makan. Meski fungsi utamanya adalah sebagai obat diabetes, Ozempic sering diresepkan untuk pasien obesitas karena efeknya dapat menurunkan berat badan.
Em Yunir menjelaskan jika suntik Ozempic pada dasarnya aman. Meski demikian, bagi yang berat badannya sangat berlebihan, akan ada dampak lain, yakni kulit yang menggelambir karena ditinggalkan oleh lemak.
“Pada waktu lemak itu berkurang, kulitnya itu tidak bisa mengerut lagi, sudah kendur. Jadi, begitu lemak di bawah kulitnya hilang, otomatis seperti kita pakai baju kegedean, jadi bajunya harus dikecilin, diapain? Operasi plastik,” pungkasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.
Tim Editor




Comments are closed.