Tue,28 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Risiko Transisi Energi Ketika Bersumber dari Ekstraksi Mineral Kritis

Risiko Transisi Energi Ketika Bersumber dari Ekstraksi Mineral Kritis

risiko-transisi-energi-ketika-bersumber-dari-ekstraksi-mineral-kritis
Risiko Transisi Energi Ketika Bersumber dari Ekstraksi Mineral Kritis
service

Transisi energi global menuju target dekarbonisasi total kerap digadang-gadang sebagai solusi penyelamat krisis iklim. Di balik narasi hijau itu, permintaan terhadap mineral kritis seperti litium, nikel, tembaga, dan kobalt menciptakan banyak masalah di lapangan dan mengancam target pembatasan suhu global 1,5 derajat Celcius sesuai Kesepakatan Paris. “Jadi,  transisi energi dalam implementasinya ternyata tidak benar-benar mentransmisikan energi,” kata Astuti N. Kilwauw, Direktur Eksekutif Walhi Maluku Utara dalam peluncuran riset kolaborasi Greenpeace dengan Universitas Teknologi Sydney, Jakarta, Mei lalu. Di sektor nikel misal, menjadi primadona global untuk memenuhi kebutuhan industri kendaraan listrik dan energi terbarukan. Berdasarkan data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), produksi nikel global melonjak signifikan. Dalam enam tahun ini, pada 2020, produksi nikel global 2,50 juta ton, meningkat menjadi 3,90 juta ton pada 2025. Kelompok Studi Nikel Internasional International Nickel Study Group (INSG) memperkirakan, produksi meningkat jadi 4,08 juta ton di 2026. Indonesia menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global dengan cadangan bijih nikel mencapai 5,9 miliar ton dan logam nikel 62 juta ton, terbesar di dunia. Deposit nikel Indonesia terkonsentrasi di Maluku dan Sulawesi. Narasi pertumbuhan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat dalam hilirisasi nikel tak sejalan dengan kenyataan. Alih-alih menjaga bumi dari krisis iklim, pertambangan dan industri nikel justru menyebabkan deforestasi, merusak biodiversitas, memicu bencana ekologis, merampas ruang hidup masyarakat hingga menciptakan kemiskinan struktural. Satu contoh masyarakat Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Tambang dan kawasan industri nikel Harita di pulau ini membuat masyarakat harus hidup dalam jurang ekonomi. Hutan sagu yang menjadi lumbung pangan mereka tergusur sampai laut tercemar…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.