Palembang, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menggelar Roadshow Ke-14 Gerakan Nasional Pesantrenku Aman di Pondok Pesantren Muqimus Sunnah, Palembang, Sumatra Selatan, Sabtu (25/7/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 1.000 peserta ini menjadi bagian dari ikhtiar PBNU dalam memperkuat perlindungan santri sekaligus mendorong transformasi pesantren agar semakin adaptif menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan jati diri dan tradisi kepesantrenannya.
“Gerakan Nasional Pesantrenku Aman merupakan ikhtiar PBNU dalam membangun sistem perlindungan santri yang lebih kuat sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pesantren,” ujar Sekretaris RMI PBNU Gus Ulun Nuha dalam keterangannya diterima NU Online.
Menurutnya, gerakan tersebut lahir dari meningkatnya perhatian publik terhadap kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk pesantren. Karena itu, PBNU memilih membangun solusi melalui penguatan sistem pengasuhan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia pesantren, serta penyusunan mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan yang lebih komprehensif.
“Kalau ada satu korban saja, itu sudah menjadi musibah yang harus kita cegah. Karena itu, Gerakan Nasional Pesantrenku Aman bukan untuk menutupi persoalan, tetapi memastikan kekerasan tidak terjadi lagi dan pesantren memiliki sistem perlindungan yang semakin kuat,” ujar Gus Ulun.
Ia menjelaskan, Gerakan Nasional Pesantrenku Aman merupakan tindak lanjut dari berbagai inisiatif PBNU yang diawali dengan pembentukan Tim Lima, penyelenggaraan halaqah ulama pengasuh pesantren, pembentukan SAKA Pesantren PBNU, hingga pelaksanaan pelatihan bagi musyrif-musyrifah, pengasuh, dan fasilitator di berbagai daerah. Roadshow di Palembang menjadi penyelenggaraan ke-14 sejak gerakan tersebut dimulai.
Menurut Gus Ulun, perlindungan santri tidak cukup dilakukan melalui penanganan kasus, tetapi harus dimulai dari pembenahan sistem. Karena itu, PBNU terus mendorong lahirnya budaya pengasuhan yang aman, penyusunan standar operasional pencegahan dan penanganan kekerasan, serta peningkatan kapasitas para pengasuh agar mampu mencegah terjadinya kekerasan sejak dini.
Ketua RMI PBNU KH Hodri Ariev mengatakan bahwa Gerakan Nasional Pesantrenku Aman merupakan bagian dari agenda besar Transformasi Pesantren yang dijalankan RMI PBNU atas arahan Ketua Umum PBNU. Transformasi tersebut diarahkan untuk memperkuat berbagai aspek fundamental pesantren, mulai dari sistem pengasuhan, kurikulum, tata kelola, kelembagaan, hingga infrastruktur.
“Transformasi pesantren berpijak pada prinsip al-muhafazhatu ‘ala al-qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yakni menjaga tradisi yang baik sekaligus mengambil hal-hal baru yang lebih maslahat. Kemajuan tidak boleh menghilangkan karakter pesantren,” katanya.
Menurut Kiai Hodri, transformasi tidak hanya bertujuan mencegah kekerasan, tetapi juga memastikan pesantren tetap relevan dengan perkembangan zaman. Karena itu, RMI PBNU terus mengembangkan berbagai program peningkatan kualitas sumber daya manusia, di antaranya beasiswa santri ke Maroko dan Mesir, penguatan tata kelola kelembagaan, serta pengembangan jejaring pesantren di tingkat nasional maupun internasional.
Dukungan terhadap Gerakan Nasional Pesantrenku Aman juga disampaikan Ketua PWNU Sumatra Selatan H Hendra Zainuddin Al Qodiri. Ia menyebut Sumatra Selatan memiliki sekitar 670 pondok pesantren, dengan sekitar 90 persen di antaranya berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama.
“Ini menunjukkan bahwa NU memikul amanah yang sangat besar dalam menjaga kualitas pendidikan, pengasuhan, dan perlindungan bagi ribuan santri di Sumatra Selatan. Karena itu, kami mengajak seluruh pesantren dan warga Nahdliyin untuk bersama-sama mendukung Gerakan Nasional Pesantrenku Aman,” ujarnya.
Senada dengan itu, Asisten I Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan H Apriyadi Mahmud menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan mendukung penuh berbagai upaya penguatan pesantren, termasuk melalui Gerakan Nasional Pesantrenku Aman.
Menurutnya, pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, akhlak, etika, dan kemandirian generasi muda. Oleh sebab itu, pemerintah daerah terus memberikan dukungan melalui hibah operasional pesantren, pelatihan tata kelola keuangan, serta mendorong pemerintah kabupaten dan kota mengalokasikan anggaran pembinaan pesantren melalui APBD.
“Kita harus bersama-sama membangun keyakinan masyarakat bahwa pesantren merupakan tempat yang aman untuk mendidik putra-putri mereka sekaligus membentuk karakter, akhlak, dan kemandirian generasi bangsa,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa Gerakan Nasional Pesantrenku Aman bukan sekadar kampanye pencegahan kekerasan, melainkan bagian dari agenda besar transformasi pesantren yang sedang dijalankan PBNU dalam menyongsong abad kedua Nahdlatul Ulama.
Menurutnya, perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta dinamika masyarakat menuntut pesantren untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri sebagai lembaga pendidikan yang berakar pada tradisi keilmuan Islam.
“Kampanye Pesantrenku Aman ini merupakan bagian dari agenda transformasi pesantren. Tidak ada agenda yang lebih penting bagi Nahdlatul Ulama hari ini selain memastikan pesantren mampu terus berkembang menghadapi perubahan zaman,” tegas Gus Yahya.
Ia menambahkan bahwa transformasi bukan berarti meninggalkan tradisi pesantren, melainkan memperkuat sistem agar pesantren tetap mampu menjalankan fungsi pendidikan, pengasuhan, dan pembentukan akhlak secara relevan di tengah perubahan zaman.
Sebagai penegasan komitmen bersama, seluruh peserta membacakan dan menandatangani Deklarasi Palembang Mewujudkan Pesantrenku Aman yang memuat komitmen memperkuat perlindungan santri, mencegah segala bentuk kekerasan, membangun budaya pengasuhan yang sehat, serta memperkuat kolaborasi antara pesantren, pemerintah, dan masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, PBNU bersama RMI PBNU juga meluncurkan Digdaya Pesantren, sebuah platform digital yang dikembangkan untuk mendukung pendataan, tata kelola, dan penguatan ekosistem pesantren. Program ini diharapkan menjadi bagian dari transformasi kelembagaan yang mampu meningkatkan kemandirian, akuntabilitas, serta daya saing pesantren di era digital.
Roadshow tersebut dihadiri Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Wakil Ketua Umum PBNU H Amin Said Husni, Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU KH Hodri Ariev, Sekretaris RMI PBNU Gus Ulun Nuha yang mewakili Ketua Satuan Tugas Penanggulangan Kekerasan (SAKA) Pesantren PBNU Nyai Hj. Alissa Wahid, Ketua PWNU Sumatera Selatan KH Hendra Zainuddin Al Qodiri, Asisten I Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan H Apriyadi Mahmud, para kiai, nyai, pengasuh pondok pesantren, serta unsur pemerintah dan masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama, dilanjutkan pembacaan dan penandatanganan Deklarasi Palembang Mewujudkan Pesantrenku Aman, serta peluncuran Digdaya Pesantren sebagai bagian dari penguatan tata kelola dan digitalisasi pesantren.
Melalui penyelenggaraan Roadshow Ke-14 Gerakan Nasional Pesantrenku Aman di Palembang, PBNU menegaskan komitmennya untuk terus memperluas gerakan perlindungan santri di berbagai daerah. Gerakan ini diharapkan menjadi bagian dari transformasi pesantren yang tidak hanya memperkuat sistem perlindungan anak, tetapi juga menjaga marwah pesantren sebagai pusat pendidikan Islam, pembinaan akhlak, dan pengembangan peradaban yang adaptif terhadap tantangan masa depan.




Comments are closed.