Thu,23 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Savic Ali Dorong Nahdliyin Hidupkan Kembali Semangat Intelektual dan Kemandirian Ekonomi

Savic Ali Dorong Nahdliyin Hidupkan Kembali Semangat Intelektual dan Kemandirian Ekonomi

savic-ali-dorong-nahdliyin-hidupkan-kembali-semangat-intelektual-dan-kemandirian-ekonomi
Savic Ali Dorong Nahdliyin Hidupkan Kembali Semangat Intelektual dan Kemandirian Ekonomi
service

Batang, NU Online

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Mohammad Syafi’ Alielha (Savic Ali) mengajak warga Nahdlatul Ulama (NU) untuk kembali menghidupkan semangat kemandirian ekonomi dan tradisi intelektual yang diwariskan para pendiri organisasi.

Hal itu ia sampaikan dalam Musyawarah Besar (Mubes) Nahdliyin Muda Batang yang diselenggarakan di Aula Masjid RSNU Batang pada Ahad (31/5/2026).

Menurut Savic, forum-forum diskusi seperti Mubes penting sebagai ruang pertemuan berbagai kegelisahan warga NU, baik terkait dinamika internal organisasi maupun persoalan kebangsaan yang lebih luas.

“Saya kira memang forum kumpul-kumpul seperti ini penting. Ada banyak kegelisahan yang terjadi di masyarakat, di teman-teman NU kegelisahannya terhadap internal NU. Tapi juga sebagai masyarakat bagian Indonesia kegelisahannya terkait Indonesia. Jadi, forum-forum untuk saling ketemu, share, bertukar pikiran atau berpikir apa yang bisa dikerjakan itu memang penting,” ujarnya.

Dalam paparannya mengenai dinamika NU, Savic menekankan bahwa pemahaman terhadap Khittah NU harus dikembalikan pada semangat awal berdirinya organisasi. Menurutnya, banyak orang menganggap bahwa khittah itu berarti tidak lagi berpolitik praktis, padahal maknanya jauh lebih luas.

“Khittah menurut saya adalah spirit awal didirikannya NU. Khittah menurut saya adalah semangat awal didirikannya itu apa. Di dalamnya ada perjuangan politik, politik melawan kolonial zaman dulu. Zaman dulu NU juga mengkiritisi kolonial,” kata dia.

Savic menjelaskan, sebelum NU berdiri pada 1926, para muassis telah membangun berbagai gerakan yang menjadi cikal bakal organisasi. Salah satunya adalah Nahdlatul Wathan yang menunjukkan komitmen kebangsaan para pendiri NU dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Selain itu, terdapat Taswirul Afkar yang menjadi ruang belajar dan diskusi lintas persoalan, tidak hanya membahas masalah keagamaan.

“Kalau kita bicara Khittah NU, generasi NU harus tetap belajar dan berdiskusi. Tradisi bahtsul masail di pesantren yang berkembang sampai sekarang adalah kelanjutan dari semangat Taswirul Afkar,” ujarnya.

Savic juga mengingatkan bahwa para pendiri NU bukan hanya ulama, melainkan juga pedagang, dan pendidik. Karena itu, semangat ekonomi yang tercermin dalam Nahdlatut Tujjar perlu dihidupkan kembali.

“Pada dasarnya para muassis NU mayoritas adalah pedagang atau pebisnis. Mereka memiliki mobilitas tinggi dan banyak menopang perjuangan melalui aktivitas usaha. Semangat Nahdlatut Tujjar menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi merupakan bagian dari perjuangan keumatan,” jelasnya.

Menurut Savic, seiring perjalanan sejarah, basis sosial NU memang lebih banyak berasal dari masyarakat agraris. Hal itu membuat citra NU identik dengan komunitas petani dan masyarakat pedesaan. Namun, ia menegaskan bahwa akar kewirausahaan para pendiri NU tidak boleh dilupakan.

“NU lahir dari masyarakat dengan kultur agraria yang kuat, tetapi generasi awalnya juga memiliki tradisi kewirausahaan yang kuat. Karena itu, jika ingin mengembalikan semangat para muassis, kita harus menghidupkan masjid, musala, pesantren, sekaligus membangun lapisan entrepreneur dari kalangan nahdliyin,” katanya.

Lebih lanjut, Savic menyoroti pentingnya kemandirian finansial organisasi. Ia menilai kedekatan sebagian kalangan NU dengan pusat-pusat kekuasaan pascareformasi tidak boleh membuat organisasi kehilangan semangat membangun kekuatan ekonomi sendiri.

Menurutnya, potensi ekonomi warga NU sangat besar apabila dikelola secara kolektif melalui zakat, infak, sedekah, maupun berbagai instrumen pemberdayaan ekonomi lainnya.

“Kalau kita mengumpulkan sumber daya finansial dari warga sendiri, jumlahnya tidak kecil dan bisa melahirkan kemaslahatan yang luar biasa. Kemandirian finansial membuat kita lebih leluasa bekerja sama dengan siapa pun tanpa kehilangan independensi,” tegasnya.

“Kita bisa bekerja sama dengan siapa pun. Tetapi kalau ketergantungan terlalu besar, ruang gerak kita menjadi terbatas. Karena itu, kemandirian ekonomi menjadi sangat penting bagi masa depan NU,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.