Jakarta, Arina.id—Gunung Anak Krakatau tercatat kembali mengalami erupsi terbaru pada Jumat malam (4/9/2026) pukul 23.07 WIB yang berlanjut hingga Sabtu dini hari (5/9/2026) pukul 00.01 WIB.
Gunung berapi ini terletak di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra hal ini berdampak langsung pada kehidupan masyarakat sehari-hari.
Sejumlah warga di Jakarta, Bogor, Jawa Barat, hingga para pengendara di Sukabumi mulai merasakan sebaran abu vulkanik. Dampaknya bahkan meluas hingga mengganggu aktivitas penerbangan di bandara internasional.
Letusan pada awal September 2026 hanyalah letusan terbaru dari Gunung Anak Krakatau. Gunung ini telah aktif secara sporadis sejak muncul dari laut pada tahun 1920-an.
Dilansir dari laman resmi Badan Geologi ESDM, status aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026.
Awal Mula Kemunculan Gunung Anak Krakatau
Dilansir dari penelitian BRIN berjudul The Krakatau Eksplosion (1883) The Impacts On 1888 Social Movement In Banten disebutkan gunung ini merupakan salah satu gunung api aktif yang memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883.
Gunung yang kini berdiri di kawasan Selat Sunda tersebut bukan sekadar gunung api baru, tetapi merupakan bagian dari proses geologi panjang yang memperlihatkan bagaimana alam membangun kembali tubuh gunung setelah mengalami kehancuran besar.
Kelahiran Gunung Anak Krakatau bermula dari kawasan kaldera yang terbentuk setelah letusan besar Gunung Krakatau pada 26–27 Agustus 1883. Erupsi tersebut menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan memicu tsunami yang berdampak luas terhadap wilayah pesisir di sekitar Selat Sunda.
Letusan Krakatau menyebabkan gelombang tsunami yang mencapai ketinggian hingga 40 meter, menghancurkan permukiman di sepanjang pantai di Sumatra dan Jawa. Diperkirakan sekitar 36.000 orang meninggal akibat letusan ini dan dampak tsunami yang mengikutinya.
Abu vulkanik yang dilepaskan ke atmosfer menyebar ke seluruh dunia, menyebabkan perubahan iklim global. Suhu rata-rata dunia turun sekitar 1,2 derajat Celsius selama beberapa tahun setelah letusan karena debu vulkanik yang menghalangi sinar matahari.
Dari reruntuhan tersebut, aktivitas vulkanik kemudian kembali muncul. Material erupsi secara perlahan menumpuk di dasar laut hingga akhirnya menembus permukaan dan membentuk daratan baru. Daratan inilah yang kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau
Gunung Krakatau yang meletus pada Agustus 1883 mengalami kehancuran dalam skala sangat besar. Sebagian besar tubuh gunung runtuh ke dalam laut dan membentuk kaldera bawah laut di kawasan Selat Sunda.
Kaldera tersebut berada di antara Pulau Rakata, Sertung, dan Panjang. Kawasan ini kemudian menjadi lokasi munculnya aktivitas vulkanik baru beberapa dekade setelah tragedi Krakatau.
Setelah puluhan tahun relatif tenang, aktivitas magma kembali terdeteksi di kawasan tersebut. Letusan bawah laut menjadi tanda awal munculnya gunung api baru.
Pada periode 1929–1930, material vulkanik akhirnya menembus permukaan laut. Daratan baru tersebut terus berkembang menjadi sebuah pulau gunung api yang kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.
Sebab itu, Anak Krakatau dapat dipandang sebagai hasil dari proses konstruksi alam setelah kehancuran besar yang dialami Gunung Krakatau pada 1883.
Setelah muncul ke permukaan laut, Gunung Anak Krakatau mengalami pertumbuhan melalui aktivitas erupsi yang berlangsung berulang kali. Material berupa lava dan abu vulkanik secara bertahap menambah ukuran tubuh gunung.
Gunung Api Muda
Dalam perkembangannya, Anak Krakatau dikenal sebagai gunung api muda yang aktif. Erupsi yang terjadi secara berkala menjadi bagian dari proses pembentukan kerucut gunung api tersebut.
Pada periode 1930 hingga 2017, tubuh Anak Krakatau disebut bertambah tinggi sekitar 4–6 meter per tahun. Pertumbuhan tersebut membuat ketinggiannya terus meningkat selama beberapa dekade.
Hingga September 2018, ketinggian Anak Krakatau mencapai sekitar 338 meter di atas permukaan laut (mdpl). Namun, pertumbuhan tersebut kemudian berubah drastis akibat peristiwa besar pada akhir 2018.
Pada Desember 2018, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau meningkat. Kondisi tersebut kemudian diikuti oleh longsoran sebagian tubuh gunung atau flank collapse.
Material dalam jumlah besar longsor ke laut. Pergerakan massa gunung ke dalam perairan tersebut memicu tsunami yang menerjang sejumlah kawasan pesisir Banten dan Lampung.
Tsunami tersebut melanda kawasan Banten dan Lampung, menewaskan lebih dari 400 orang dan menyebabkan kerusakan signifikan di daerah-daerah pantai. Runtuhnya sebagian gunung juga mengurangi ketinggian Anak Krakatau dari 338 meter menjadi sekitar 110 meter.
Peristiwa tersebut kembali menunjukkan karakter Anak Krakatau sebagai gunung api yang terus mengalami proses pembentukan sekaligus penghancuran.
Longsoran pada 2018 juga mengubah bentuk tubuh gunung secara signifikan. Ketinggian Anak Krakatau menyusut drastis dari sekitar 338 mdpl menjadi sekitar 110 mdpl. Artinya, gunung tersebut kehilangan lebih dari dua pertiga volume tubuhnya akibat proses keruntuhan tersebut.
Sejarah Gunung Anak Krakatau memperlihatkan sebuah siklus geologi yang panjang. Gunung Krakatau mengalami kehancuran besar pada 1883, kemudian aktivitas magma kembali membangun struktur gunung baru dari dasar kaldera.
Anak Krakatau selanjutnya tumbuh selama puluhan tahun sebelum sebagian tubuhnya kembali runtuh dalam peristiwa 2018..
“Kemungkinan terjadinya tsunami lebih lanjut di Selat Sunda akan tetap tinggi selama gunung berapi Anak Krakatau masih dalam fase aktifnya. Pasalnya, hal itu dapat memicu longsor bawah laut lebih lanjut,” kata Richard Teeuw, dari Portsmouth University.
Di sisi lain, Anak Krakatau juga memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Meskipun letusan gunung berapi menyimpan risiko, banyak orang yang tertarik untuk melihat langsung gunung api yang terus tumbuh ini.
Wisatawan dapat mengamati aktivitas vulkanik dari jarak aman dan menyaksikan fenomena alam yang luar biasa ini. Hal ini mendukung sektor pariwisata di daerah sekitar, terutama bagi komunitas lokal yang memanfaatkan potensi wisata gunung berapi untuk meningkatkan perekonomian.




Comments are closed.