Washington, Arina.id—Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memilih istilah military conflict atau konflik militer untuk menyebut ketegangan bersenjata dengan Iran.
Istilah itu digunakan Trump saat serangan antara AS dan Iran kembali meningkat. Ia tidak menyebut situasi tersebut sebagai perang.
Dalam pernyataannya pada Jumat (4/9/2026), Trump mengatakan konflik dengan Iran masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan perang besar yang pernah dihadapi AS.
Ia bahkan menyebut konflik tersebut sebagai small potatoes. Trump juga mengatakan operasi militer AS tidak berlangsung secara terus-menerus.
Sikap Trump tersebut sejalan dengan pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya. Vance mengatakan dirinya tidak menyebut situasi dengan Iran sebagai perang.
Padahal, AS dan Iran masih terlibat dalam aksi militer. Washington telah menyerang sejumlah sasaran di Iran, sementara Teheran membalas dengan serangan terhadap posisi yang berkaitan dengan AS dan sekutunya.
Ketegangan kembali meningkat pada awal September. AS melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran militer Iran, termasuk radar dan sistem pertahanan udara.
Serangan juga menyasar fasilitas yang berkaitan dengan kemampuan militer Iran di sekitar Selat Hormuz.
Iran kemudian membalas menggunakan rudal dan drone. Serangkaian serangan tersebut membuat situasi di kawasan kembali memanas setelah sebelumnya sempat terjadi jeda.
Trump pada 2 September mengatakan operasi militer terbaru terhadap Iran tidak akan berlangsung lama. Namun, ia tetap membuka kemungkinan adanya serangan tambahan.
Sehari kemudian, Trump juga menyebut kemungkinan AS menyerang Pickaxe Mountain, kawasan di dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz, Iran.
Penggunaan istilah military conflict terjadi di tengah tekanan politik terhadap pemerintahan Trump. Reuters melaporkan pemerintah AS berupaya agar konflik dengan Iran tidak menjadi isu utama menjelang pemilu paruh waktu pada November.
Dukungan masyarakat AS terhadap perang juga disebut relatif rendah. Konflik tersebut telah menimbulkan korban di pihak AS dan memunculkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga energi.
Meski menyebutnya bukan perang, pemerintahan Trump tetap menjalankan tekanan terhadap Iran. Langkah tersebut mencakup serangan militer, tekanan ekonomi, blokade, hingga ancaman terhadap fasilitas strategis Iran.





Comments are closed.