Sat,16 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Shadr Al-Din Al Qunawi: Pewaris Ibnu Arabi yang Menyaksikan Dunia Islam Dibakar Mongol

Shadr Al-Din Al Qunawi: Pewaris Ibnu Arabi yang Menyaksikan Dunia Islam Dibakar Mongol

shadr-al-din-al-qunawi:-pewaris-ibnu-arabi-yang-menyaksikan-dunia-islam-dibakar-mongol
Shadr Al-Din Al Qunawi: Pewaris Ibnu Arabi yang Menyaksikan Dunia Islam Dibakar Mongol
service

Di antara tokoh besar yang lahir dari rahim tradisi tasawuf Islam, nama Shadr al-Din al-Qunawi menempati posisi yang unik. Ia bukan sekadar murid dari Ibn Arabi, tetapi juga anak angkat, pewaris intelektual, sekaligus penyebar paling sistematis ajaran sang ‘Asy-Syaikh al-Akbar”.

Jika Ibn Arabi dikenal sebagai lautan gagasan metafisik yang dalam dan kompleks, maka al-Qunawi adalah jembatan yang membuat lautan itu dapat diseberangi. Ia merapikan, menjelaskan, dan mengembangkan pemikiran gurunya hingga menjadi fondasi penting dalam tradisi tasawuf falsafi Islam.

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ishaq bin Muhammad bin Yusuf bin Ali, dengan gelar Shadr al-Din dan kunyah (sebutan) Abu al-Ma’ali. Ia lebih dikenal dengan nisbah “al-Qunawi”, merujuk pada kota Konya (Quniyah) yang kelak menjadi pusat aktivitas intelektualnya.

Ia lahir pada 1209 M di Malathiyyah, Anatolia. Ayahnya, Ishaq, merupakan sosok terpandang dengan kedudukan sosial tinggi. Namun kehidupan al-Qunawi berubah ketika ayahnya wafat saat ia masih kecil. Ia tumbuh sebagai anak yatim, sementara ibunya kemudian menikah dengan Ibn Arabi menurut sebagian riwayat.

Dari titik itulah hubungan antara murid dan guru berubah menjadi hubungan keluarga dan spiritual sekaligus.

Di bawah asuhan Ibn Arabi, al-Qunawi dididik dengan disiplin keras dalam ilmu, adab, dan laku spiritual. Ia mulai belajar kepada gurunya di usia sekitar 11 atau 12 tahun. Sejak itu ia nyaris tidak pernah berpisah dengan Ibn Arabi hingga sang guru wafat pada 1240 M.

Sepeninggal Ibn Arabi, al-Qunawi tinggal di Damaskus sebelum melakukan perjalanan ke Hijaz untuk berhaji, lalu menetap beberapa waktu di Mesir. Di sana ia bertemu tokoh-tokoh sufi filosofis seperti Ibn Sab’in, pemikir yang dikenal dengan gagasan Wahdat al-Mutlaqah atau paham kesatuan mutlak.

Setelah selesai menunaikan haji dan sekembalinya dari Mesir, dia menetap di Quniyah hingga wafat. Di kota itu, al-Qunawi menjelma menjadi pusat gravitasi intelektual. Para pencari ilmu datang dari berbagai wilayah Islam untuk belajar metafisika, tafsir, filsafat, dan tasawuf kepadanya.

Al-Qunawi sering berkomunikasi dengan tokoh-tokoh sufi dan filsuf di zamannya. Salah satu hubungan paling menarik dalam hidup al-Qunawi adalah kedekatannya dengan Jalaluddin Rumi.

Keduanya hidup sezaman di Konya dan saling menghormati secara mendalam. Pertautan mereka bukan sekadar hubungan ulama, tetapi juga persahabatan spiritual dua tokoh besar.

Dikisahkan bahwa Rumi meyakini kesempurnaan ada pada al-Qunawi, sebagaimana al-Qunawi melihat kemuliaan pada Rumi. Kedekatan itu begitu kuat hingga Rumi berwasiat agar al-Qunawi yang menyalatkan jenazahnya ketika wafat.

Di titik ini, Quniyah bukan hanya kota. Ia berubah menjadi salah satu pusat spiritual terbesar dunia Islam.

Dialog Besar antara Tasawuf dan Filsafat

Salah satu warisan paling penting al-Qunawi adalah korespondensinya dengan Nasir al-Din al-Tusi, pakar filsafat Paripatetik dan astronom dari Persia.

Dialog mereka —melalui surat menyurat— menjadi salah satu percakapan intelektual paling penting dalam sejarah Islam: tasawuf berhadapan langsung dengan filsafat rasional.

Al-Qunawi menekankan bahwa pengetahuan tertinggi tentang Tuhan tidak bisa dicapai hanya melalui logika, tetapi juga melalui kasyf—penyingkapan spiritual. Sebaliknya, ath-Thusi lebih menekankan akal dan logika filosofis.

Menariknya, meskipun ath-Thusi tidak terlalu dekat dengan tradisi tasawuf populer pada masanya, ia tetap menghormati kedalaman pemikiran al-Qunawi. Bahkan di kemudian hari ia menulis buku kecil berjudul Awsaf al-Ashraf, yang membahas aspek filosofis dari tasawuf.

Korespondensi ini menjadi bukti pertukaran ilmu yang konstruktif meskipun tanpa pertemuan fisik. Diskusi mereka memperkaya khazanah pemikiran Islam dan mempengaruhi tokoh-tokoh besar setelahnya, seperti Mulla Sadra.

Hubungan dengan Awhaduddin al-Kirmani

Al-Qunawi bertemu dan belajar langsung dari Awhaduddin al-Kirmani. Pertemuan ini terjadi ketika al-Qunawi masih berusia remaja, sekitar tahun 1220-an, saat ia tinggal di Damaskus bersama gurunya, Ibnu Arabi

Peran  Al-Kirmani menjadi salah satu guru spiritual penting bagi al-Qunawi di masa mudanya, selain bimbingan utama dari Ibnu Arabi.

Al-Qunawi hidup di masa keemasan pemikiran Islam. Al-Qunawi menjadi pusat ilmu pengetahuan di Konya, sehingga banyak cendekiawan datang dari berbagai negeri untuk belajar dengannya. Beberapa muridnya yang menjadi tokoh besar antara lain:

  • Qutbuddin al-Shirazi. Dikenal sebagai filsuf dan ilmuwan yang menulis komentar terkenal atas karya Suhrawardi dan Ibnu Sina.
  • Muayyaduddin al-Jandi. Penulis komentar pertama dan paling berpengaruh atas kitab Fusus al-Hikam karya Ibnu Arabi.
  • Fakhruddin al-Iraqi. Penyair dan sufi besar yang memperkenalkan ajaran Ibnu Arabi ke dalam sastra Persia dengan gaya yang sangat indah.
  • Sa’duddin al-Farghani: Ahli metafisika yang menyusun ringkasan ajaran gurunya dengan sistematis.
  • Afifuddin al-Tilmisani seorang pemikiran sufi, teolog, dan filsuf, memberikan komentar banyak atas karya ulama-ulama sufi dan filsuf.

Hubungan-hubungan ini menjadikan al-Qunawi sebagai jembatan penting yang menghubungkan berbagai aliran pemikiran, sehingga ajaran tasawuf falsafi dapat berkembang dan bertahan hingga masa sekarang.

Menyaksikan Dunia Islam Dibakar Mongol

Ketika ia menetap di Konya, pasukan Mongol meluluhlantakkan wilayah-wilayah Islam di Timur, diantaranya Khawarizim Syah (Asia Tengah), Seljuq A’zhim (Khorasan), Balkh, termasuk Azerbaijan, Bahlawan, dan kesultanan Atabek Persia. Dinasti-dinasti besar ini runtuh. Kota-kota ilmu dibakar. Perpustakaan dihancurkan. Para ulama dibunuh.

Pada bagian kitab Syarah al-Arba’in Haditsah, al-Qunawi menceritakan pengalaman spiritualnya bermimpi melihat Nabi Muhammad Saw dibalut kain kafan di atas usungan jenazah.

Melalui kasyf, ia menafsirkan mimpi itu sebagai pertanda jatuhnya Baghdad ke tangan Hulagu Khan—peristiwa yang memang kemudian menjadi salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Islam.

Baghdad, pusat Kekhalifahan Abbasiyah sekaligus jantung intelektual Islam, dibumihanguskan. Khalifah Al-Musta’sim Billah dibunuh. Sungai Tigris disebut menghitam oleh tinta kitab-kitab yang dilempar ke sungai.

Al-Qunawi meninggal pada 1274 M, tidak lama setelah wafatnya Jalaluddin Rumi. Ia sempat berwasiat ingin dimakamkan di dekat gurunya, Ibn Arabi, di Damaskus. Namun keinginan itu tidak terlaksana. Ia akhirnya dimakamkan di Konya, di depan masjid yang kini memakai namanya.

Pemikiran Al-Qunawi

Di antara pemikiran menarik al-Qunawi adalah penjelasannya tentang hadis Nabi mengenai takbir ketika mendaki dan tasbih ketika turun.

Bagi al-Qunawi, mendaki mengandung simbol “ketinggian” dan “keunggulan”. Karena itu manusia diperintahkan bertakbir agar sadar bahwa kebesaran sejati hanya milik Allah.

Diantara pemikiran al-Qunawi;

من جامع الأصول رواية ابى داود رضي الله تعالى عنه قال : كان رسول الله صلي الله عليه وسلم “وجيوشه إذا علوا الثنايا كبروا، وإذا هبطوا سبحوا، فوضعت الصلوة على ذلك.

كشف سره، وايضاح معانيه

أعلم أن الرفعة والارتفاع استعلاء وأنه من التكير فإن كان الاستعلاء ظاهرا فهو صورة من صورة التكبر، وإن كان باطنا، فهو معنى التكبر، ولما كان الكبرياء لله تعالى وحده وكان فى الصعود على الثنايا ضرب من الاستعلاء موجود وشبيه به أيضا، لذلك سن التكبير فيه، أى أن الله أكبر واعلى من أن يشارك فى كبريائه وإن ظهر بصورة حال يوهم الاشتراك، وأما الأمر بالتسبيح فى الهبوط، فهو من أجل سر المعية المشار إليها، بقوله : ” وهو معكم أينما كنتم”.

فإذا آمنا أنه معنا ايمنما كنا، فحال كوننا فى هبوط يكون معنا، وهو يتنزه من التحت والهبوط، لأنه سبحانه فوق التحت كما أنه فوق الفوق ونسبة الجهات إليه على السواء لنزاهته عن التقيد بالجهات واحاطته بها، فلهذا شرع التكبير فى الصعود والتسبيح فى الهبوط على الوجه المنبه عليه فافهم

Dari jami al-Ushul riwayat Abu Dawud ra, dijelaskan bahwa ketika Rasullullah Saw dan bala tentaranya mendaki gunung-gunung, mereka bertakbir. Ketika mereka turun, mereka bertasbih. Maka ketika itu dilakukan shalat.

Penyingkapan Rahasia dan Penjelasan Maknanya

Ketahuilah, bahwa tinggi dan naik adalah keunggulan, dan itu termasuk takabur. Jika ketunggalan itu tampak, maka itu merupakan bentuk (shurat) dari bentuk takabur. Jika ketunggalan itu tersembunyi, maka itulah makna dari takabur. Karena kesombongan hanya milik Allah Ta’ala semata dan karena ketika menaiki gunung-gunung itu sesuatu bentuk keunggulan itu ada dan muncul, maka pada saat tersebut disunahkan bertakbir. Allah Yang Maha Besar dan Maha Tinggi dari adanya sekutu di dalam Kebesaran-Nya jika tampak dalam bentuk mengisyaratkan persekutuan. Adapun perintah untuk bertasbih ketika turun, maka itu karena rahasia kesertaan yang ditunjukkan dengan firman Allah Ta’ala, “Dia bersamamu di mana saja kamu berada.” (QS. Al-Hadid: 4).

Apabila kita percaya bahwa Dia ada bersama kita di mana saja kita berada, maka ketika turun, Dia ada bersama kita. Padahal, Allah disucikan dari sifat bawah dan turun. Karena Dia Maha Suci dari sifaf “bawah” sebagaimana mana Dia Maha Suci dari sifaf “atas”.  Penisbahan arah kepada-Nya secara seimbang adalah karena Dia tersucikan dari ikatan dengan arah dan karena Dia melingkupinya. Karena itu, di isyaratkan bertakbir ketika naik dan bertasbih ketika turun seperti yang diingatkan. Maka fahamilah. (Kitab Syarah al-Arba’in Haditsan, Intisharat Baydapor, Teheran hal 22-23 )
 

إِنَّ غَايَةَ السُّلُوكِ هِيَ الْحَقُّ
كُلُّ سَالِكٍ – سَلَكَ عَلَى أَيِّ طَرِيقٍ – كَانَ غَايَتُهُ الْحَقُّ بِشَرْطِ فَوْزِهِ مِنْهُ سُبْحَانَهُ بِسَعَادَةِ مَا، فَإِنَّ ذَلِكَ السَّالِكَ صَاحِبُ مِعْرَاجٍ وَسُلُوكُهُ عُرُوجٌ، فَافْهَمْ.

Sesungguhnya tujuan akhir dari perjalanan spiritual (sulūk) adalah Al-Haqq.

Setiap penempuh jalan (sālik) – yang menempuh jalan apa pun – tujuannya adalah Al-Haqq, dengan syarat ia memperoleh kebahagiaan (tertentu) dari-Nya Subhanahu. Karena penempuh jalan tersebut adalah pemilik mi’rāj (tangga naik), dan perjalanannya adalah pendakian ( ‘urūj). Maka pahamilah. (Kitab Risalatul al-Nushus, Intisharat al-Isyraqi Isfahani- Teheran, hal 90-92 )

Karya-karya Shadr al-Din Al-Qunawi: 

  1. I’jāz Al-Bayān Fī Tafsir  Umm Al-Kitāb.  juga berjudul “Tafsir al-Fatiha”) Tafsir mistik yang panjang dari ayat-ayat Al-Qur’an terpilih, dan karya terpentingnya.
  2. Kitāb Al-Fukūk (juga berjudul “Fakk Al-Khutum”).  Ini adalah komentar singkat tentang “Fuṣūṣ al-ḥikam” karya Ibn ‘Arabī.
  3. Kitab Rasa’il Shadr al-Qunawi “wal-Ajwibah”, Nashir ad-Din ath-Thusi”. kumpulan korespondensi antara Al-Qunawi dan ath-Thusi.
  4. Kitāb Al-Nafaḥāt Al-Ilāhīyah (atau Kitāb Al-Nafaḥāt Al-Rabbānīyah) yang berisi penyingkapan rahasia ketuhanan (kasyf) berdasarkan pengalaman spiritual al-Qunawi.
  5. Kitāb Al-Nuṣūṣ, salah satu karya membahas prinsip-prinsip ajaran Wahdatul al-Wujud dengan Syarahan oleh Alauddin Ali Mahyaimi al-Hindi bernama Musara’ Al-Khushus Ila Ma’ani Al-Nusus.
  6. Miftāḥ Al-Ghayb Al-Jam’ Wa Al-Wujūd. Tidak tuntas diselesaikan karena wafatnya al-Qunawi akan tetapi kitab ini telah di syarahkan oleh . Syamsuddin Muhammad  Ḥamzah Ibn al-Fanārī al-Ḥanafī yang berjudul Misbah al-Uns Bayna Ma’qul wal Mashud. Dan Syarahan kedua oleh Muhammad Qutbuddin al-Iznik berjudul Mafatih Al-Ghayb fi Syarah Miftāḥ Al-Ghayb.Salah satu karya kunci Al-Qunawi. Ini telah lama diajarkan kepada siswa di madrasah Iran yang telah menguasai teks filosofis yang paling sulit.
  7. Syarah Al-Arba’īn Hadīthan.  Sebuah karya yang belum selesai pada 40 ucapan Nabi yang terkenal. Qunawi meninggal sebelum menyelesaikan pekerjaan ini tetapi dia mengomentari dua puluh sembilan hadits. Ini memberikan penjelasan penting tentang “imajinasi” dan konsep lainnya.
  8. Syarah Al-Asmā’ Al-Husnā (Penjelasan singkat tentang sembilan puluh sembilan nama Tuhan dan pengaruhnya pada tingkat manusia.
  9. Risalah Al-Murshidiyyah (juga dikenal sebagai R. al-tawajjuh al-atamm) adalah salah satu karya penting dalam tasawuf.

$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Budi Handoyo
Dosen Prodi Hukum Tatanegara, Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam, STAIN Teungku Dirundeng, Meulaboh, Aceh.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.