Jakarta (ANTARA) – “…perhatian saya terhadap seni lukis nasional, yang berawal sebelum masa kemerdekaan pun, telah senantiasa terdorong bukan saja oleh apresiasi dari segi seni saja, tapi juga karena kesadaran betapa vitalnya daya seni lukis itu sebagai salah satu ekspresi cita-cita perjuangan nasional bangsa Indonesia dari zaman ke zaman,” demikian kata Adam Malik dalam buku “Lukisan-lukisan Koleksi Adam Malik, Wakil Presiden Republik Indonesia”, 1978.
Adam Malik (1917–1984) dikenal sebagai aktivis anti-kolonial, jurnalis dan salah satu pendiri Kantor Berita ANTARA, diplomat, dan kemudian Wakil Presiden Indonesia periode 1978-1983.
Namun, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa ia juga kolektor seni. Dia membangun koleksi, yang kemudian disebut Koleksi Adam Malik, melalui persahabatan dengan para seniman, seperti S Sudjojono sejak 1940-an, yang merupakan tokoh kunci seni rupa modern Indonesia dan diberi sebutan “Bapak Seni Lukis Indonesia Modern”.
Adam Malik bersahabat dengan para seniman, antara lain di Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi), Seniman Indonesia Muda (SIM), Pelukis Rakyat, bahkan dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).
Jaringan persahabatan itulah yang kemudian membantunya membangun koleksi seni, khususnya lukis, sejak 1949. Kedekatan Adam Malik dengan peristiwa bersejarah dan dengan para senimannya membentuk koleksi lukisan yang khas.
Beberapa lukisan yang dia koleksi merekam kisah-kisah intim masyarakat yang berada dalam transisi antara tradisi dan modernitas, identitas dan perjuangan sosial di masa awal era Orde Baru.
Melalui pameran “The Adam Malik Collection” di Museum Seni Rupa dan Keramik (MSRK) Jakarta pada 15-23 Agustus 2026, kurator Farah Wardani dan Amir Sidharta memperlihatkan kekhasan koleksi lukisan sang diplomat kepada publik. Pameran ini, sekaligus menandai 50 tahun sejak pendirian Balai Seni Rupa Jakarta, pendahulu Museum Seni Rupa dan Keramik (MSRK) Jakarta, yang dibuka pada 20 Agustus 1976.
Total terdapat 22 lukisan yang dipamerkan, beberapa di antaranya pernah dihadirkan dalam pameran perdana “Se-Abad Seni Rupa Indonesia” (1876-1976), yang menyatukan 131 karya koleksi publik dan swasta, termasuk 15 dari Adam Malik.
Sejumlah lukisan dari Koleksi Adam Malik yang jarang dipamerkan juga dihadirkan, termasuk karya S Sudjojono, berjudul “Maka Lahirlah Angkatan 66”, yang merangkum kompleksitas dan arti penting koleksi tersebut, sekaligus memperlihatkan keterkaitan antara seni dan politik serta hubungan antara seniman dan patron.
Karya tersebut dilukis di tengah pergolakan politik tahun 1966, merekam suasana Jakarta ketika ruang publik dipenuhi slogan, grafiti, dan tuntutan perubahan.
Memperlihatkan seorang pemuda berjaket merah yang menggenggam kaleng cat, dikelilingi tulisan-tulisan protes yang merujuk pada peristiwa politik saat itu. Identitas sang pemuda sengaja dibiarkan ambigu, sehingga mengundang beragam penafsiran tentang perubahan dan ketidakpastian zaman.
Ini menjadi satu-satunya dan merupakan lukisan terakhir yang dibuat Sudjojono dengan narasi yang secara langsung merujuk pada situasi politik faktual negara.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.





Comments are closed.