
Ruben Amorim/Rizky Kusumo
Pertandingan pramusim antara Chelsea dan AC Milan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Sabtu (8/8/2026), bukan sekadar menjadi panggung adu kekuatan dua raksasa Eropa. Duel tersebut juga menghadirkan pertunjukan atmosfer sepak bola yang membuat para pelatih kedua tim terkesan.
Laga ini merupakan bagian dari rangkaian tur pramusim kedua klub di Indonesia. Kehadiran Chelsea dan AC Milan menjadi kesempatan langka bagi publik sepak bola Tanah Air untuk menyaksikan langsung dua klub elite Eropa berlaga di Jakarta. Selain pertandingan, duel tersebut juga menjadi momentum mempertemukan basis suporter kedua klub di Indonesia dalam satu stadion.
Sebanyak 40.856 penonton tercatat memadati SUGBK. Gemuruh nyanyian, koreografi, giant flag hingga bentangan scarf membuat stadion kebanggaan Indonesia tersebut berubah menjadi panggung sepak bola Eropa.
Xabi Alonso Terpukau Atmosfer SUGBK
Di atas lapangan, Chelsea tampil dominan dan sukses mengalahkan AC Milan dengan skor telak 3-0. Joao Pedro menjadi bintang kemenangan The Blues setelah mencetak dua gol, sementara satu gol lainnya disumbangkan Moises Caicedo.
Namun, bukan hanya hasil pertandingan yang menjadi perhatian Xabi Alonso. Pelatih Chelsea itu justru memberikan apresiasi tinggi terhadap atmosfer yang diciptakan puluhan ribu suporter di SUGBK.
Alonso mengaku sangat terkesan melihat militansi pendukung Chelsea dan AC Milan yang terus memberikan energi kepada pemain sejak sebelum pertandingan dimulai.
“Dukungan mereka sangat fantastis, sorak-sorai setelah pertandingan, bahkan sebelum kick-off,” ujar Alonso di sesi jumpa pers.
Pelatih asal Spanyol itu bahkan menyoroti suara bising dari kedua kelompok suporter yang membuat suasana pertandingan terasa sangat autentik.
“Ujung tribun kami, sangat berisik. Pendukung AC Milan di ujung sana juga sangat berisik, jadi tadi adalah atmosfer sepak bola yang hebat di Jakarta,” tambah eks pelatih Real Madrid itu.
Pujian tersebut menunjukkan bahwa atmosfer SUGBK tidak hanya dirasakan oleh penonton di stadion, tetapi juga mampu meninggalkan kesan bagi pelatih yang terbiasa menangani pertandingan dengan atmosfer besar di Eropa.
Amorim Ikut Puji Suporter Indonesia
Meski AC Milan harus menelan kekalahan telak, Ruben Amorim tetap memiliki kesan positif terhadap perjalanan timnya di Indonesia.
Pelatih asal Portugal tersebut memberikan apresiasi khusus kepada para penggemar yang menurutnya memberikan sambutan luar biasa selama berada di Tanah Air.
“Pertama-tama, para penggemar di sini sangat luar biasa,” kata Amorim.
Tak berhenti di situ, Amorim mengaku terkesan dengan dukungan yang diterima AC Milan bahkan sejak beberapa hari sebelum pertandingan.
“Dukungan yang mereka berikan kepada kami selama tiga hari ini sungguh tidak bisa dipercaya,” sambung pelatih asal Portugal itu.
Milanisti Bikin SUGBK Serasa San Siro
Jika suporter Chelsea tampil dominan sepanjang pertandingan, Milanisti Indonesia punya senjata tersendiri untuk mencuri perhatian.
Pemandangan menakjubkan tersaji ketika komunitas Milanisti Indonesia menghadirkan koreografi tifo megah di tribune SUGBK. Tifo tersebut menampilkan sosok ultras yang disandingkan dengan Il Diavolo Rosso, maskot ikonik AC Milan.
Di tengah kemeriahan tribune, terbentang tulisan:
“Bentornato Amore,”
Kalimat yang berarti “Selamat Datang Kembali Cintaku” itu menjadi ungkapan emosional Milanisti Indonesia setelah AC Milan kembali menginjakkan kaki di Indonesia.
Koreografi tersebut juga memiliki makna historis. Milanisti membentangkan spanduk raksasa bertuliskan angka 1994 dan 2026. Angka 1994 merujuk pada kunjungan AC Milan ke Indonesia pada masa lalu, sementara 2026 menandai kembalinya Rossoneri setelah puluhan tahun.
Atraksi tersebut semakin lengkap dengan giant flag yang dikibarkan di area tribune selatan. Kreativitas Milanisti bahkan membuat suasana SUGBK seolah berubah menjadi San Siro, markas legendaris AC Milan di Italia.
Di sisi lain, komunitas pendukung Chelsea, CISC Indonesia, juga tak mau kalah. Mereka kompak membentangkan scarf klub dan memberikan dukungan kepada The Blues sepanjang pertandingan.
Kemenangan 3-0 akhirnya membuat Chelsea menutup laga dengan sempurna. The Blues bukan hanya membawa pulang kemenangan, tetapi juga mengangkat trofi Indonesia Super Cup 2026 setelah pertandingan.
Bagi publik sepak bola Indonesia, pertandingan Chelsea kontra AC Milan menjadi pengalaman istimewa. Dua klub besar Eropa bertemu di Jakarta, sementara puluhan ribu suporter menciptakan atmosfer yang ternyata mampu membuat dua pelatih kelas dunia ikut angkat topi.
SUGBK malam itu bukan sekadar stadion. Untuk beberapa jam, Jakarta terasa seperti salah satu kota sepak bola terbesar di Eropa.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.
Tim Editor




Comments are closed.