Jakarta, Arina.id—Masa depan Nahdlatul Ulama (NU) dalam jangka panjang diprediksi akan menghadapi tantangan berat seiring dengan perubahan sosiografis Indonesia.
Pendiri Alvara Institute, Hasanuddin Ali menilai untuk bertahan, NU wajib menggeser pola geraknya dari basis komunitas tradisional menuju ekosistem ekonomi dan intelektual yang lebih modern.
Ia memetakan empat tekanan utama mulai dari Urban, Education, Middle-Class, dan Digital yang dianggap bakal melemahkan pengaruh NU.
Namun, Cak Hasan juga menawarkan “obat penawar” melalui strategi penguatan jaringan kota dan otoritas berbasis pengetahuan agar NU tidak kehilangan relevansinya.
Pertama, faktor urban (U). Menurutnya, semakin urban Indonesia, semakin lemah reproduksi identitas berbasis desa, keluarga besar, dan komunitas tradisional. Padahal, NU selama ini tumbuh kuat dalam struktur sosial tersebut.
Hal ini sejalan dengan proyeksi Bappenas yang menyebut urbanisasi Indonesia akan terus meningkat tajam hingga 2045.
“Ini penting karena NU historisnya sangat kuat justru pada struktur sosial semacam itu. Ketika proporsi urban naik, identitas sosial cenderung menjadi lebih cair,” kata Hasanuddin, dikutip Sabtu (18/4).
Kedua, education (E). Cak Hasan, sapaan akrabnya, menyebut pendidikan yang lebih tinggi tidak serta-merta menurunkan religiusitas, tetapi membuat hubungan individu dengan institusi menjadi lebih reflektif.
“Dalam konteks Indonesia, berbagai riset menunjukkan pendidikan berkorelasi dengan penurunan self-reported religiousness, sehingga secara teoritis juga bisa memperlemah loyalitas organisasional yang diwariskan begitu saja,” jelasnya.
Ketiga, Middle-Class (M). Ia menilai, pertumbuhan kelas menengah mendorong perubahan pola hidup masyarakat yang semakin rasional dan berbasis pilihan personal.
Data World Bank menunjukkan kelas menengah Indonesia mencapai sekitar 52 juta orang atau satu dari lima penduduk. “Kelompok ini menjadi motor konsumsi sekaligus pembentuk aspirasi sosial baru,” jelasnya.
Keempat, Digital (D). Perkembangan teknologi digital juga dinilai menggeser otoritas keagamaan. Generasi muda kini tidak lagi selalu belajar agama melalui lembaga tradisional, melainkan melalui ekosistem digital dan jejaring horizontal.
Temuan Pew Research Center menunjukkan generasi muda secara global cenderung memiliki keterikatan kelembagaan yang lebih longgar dibanding generasi sebelumnya.
“Itu berarti ancaman utamanya bukan hilangnya agama, melainkan bergesernya perantara otoritas,” ujarnya.
Meski demikian, Hasanuddin menilai NU masih memiliki peluang untuk bertahan jika mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Kelima, Relevance Renewal (R). NU dinilai perlu bergeser dari identitas warisan menjadi identitas yang dipilih karena relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
“Praktisnya, Apakah NU hadir di isu pendidikan, kesehatan, kerja, keluarga muda, dan etika digital? Apakah orang merasa NU membantu hidup mereka sekarang, bukan hanya mewakili masa lalu,” tulisnya.
Keenam, Networked Urban NU. Ia menekankan pentingnya perubahan basis organisasi dari community–based menjadi network–based, terutama di wilayah perkotaan. Di kota, afiliasi tidak dibangun terutama lewat tetangga, melainkan melalui jaringan profesi, kampus, komunitas minat, serta masjid atau majelis.
“Penetrasi NU di kampus, profesi, dan komunitas kota. Kehadiran NU dalam ekosistem kota besar, bukan hanya dalam struktur formal,” jelasnya.
Ketujuh, Knowledge–based Authority (K). Menurutnya, otoritas keagamaan ke depan tidak cukup bertumpu pada kharisma, tetapi harus berbasis pengetahuan.
“Kekuatan intelektual publik NU, kapasitas kader dalam isu ekonomi, teknologi, lingkungan, keluarga, dan kebijakan, serta kredibilitas tokoh NU di ruang argumentasi modern,” tulisnya.
Kedelapan, Economic Ecosystem (X). Ia menambahkan, organisasi sosial akan lebih bertahan lama jika menjadi bagian dari ekosistem mobilitas sosial karena kelas menengah Indonesia besar dan penting bagi pertumbuhan.
“NU akan lebih tahan bila tidak hanya menjadi simbol identitas, tetapi juga memiliki sekolah yang baik, layanan kesehatan, jejaring usaha, filantropi produktif, dan social enterprise,” jelasnya.





Comments are closed.