Sun,23 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Tradisi Bubur Asyura Merawat Ukhuwah dan Warisan Ulama Aceh

Tradisi Bubur Asyura Merawat Ukhuwah dan Warisan Ulama Aceh

tradisi-bubur-asyura-merawat-ukhuwah-dan-warisan-ulama-aceh
Tradisi Bubur Asyura Merawat Ukhuwah dan Warisan Ulama Aceh
service

Banda Aceh, NU Online

Memasuki bulan Muharram, masyarakat Aceh kembali menghidupkan tradisi memasak dan membagikan Bubur Asyura jelang 10 Muharram di berbagai gampong, meunasah, masjid, dan dayah. Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun itu bukan sekadar kegiatan kuliner, tetapi menjadi sarana mempererat silaturahmi, memperkuat gotong royong, dan merawat warisan keislaman yang telah ditanamkan para ulama sejak dahulu.

Ketua PWNU Aceh, Tgk H Faisal Ali atau akrab disapa Abu Sibreh, mengatakan tradisi Bubur Asyura merupakan salah satu bentuk kearifan masyarakat Aceh dalam menghidupkan nilai-nilai Islam melalui budaya kebersamaan.

Menurutnya, tradisi tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar memasak makanan untuk dibagikan kepada masyarakat.

“Bubur Asyura adalah simbol kebersamaan. Di sana ada nilai silaturahmi, gotong royong, kepedulian sosial, dan semangat berbagi yang diwariskan para ulama kepada masyarakat Aceh,” ujar Abu Sibreh, Kamis, (25/6/2026) 

Tokoh yang juga Ketua MPU Aceh itu menjelaskan bahwa bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Karena itu, masyarakat Aceh sejak dahulu mengisinya dengan berbagai kegiatan keagamaan, termasuk kenduri dan pembuatan Bubur Asyura yang melibatkan banyak warga.

Menurutnya, tradisi tersebut menjadi sarana mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam suasana kekeluargaan dan kebersamaan. “Ketika masyarakat berkumpul memasak Bubur Asyura, yang terbangun bukan hanya makanan, tetapi hubungan sosial yang semakin erat. Nilai inilah yang harus terus dijaga,” katanya.

Abu Sibreh menilai tradisi Bubur Asyura juga menjadi bukti bahwa dakwah para ulama Aceh sejak dahulu tidak hanya dilakukan melalui mimbar dan pengajian, tetapi juga melalui tradisi-tradisi sosial yang mendekatkan masyarakat kepada nilai-nilai agama.

Sementara itu, penggiat sosial dan keagamaan Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga, Tgk Iswadi atau akrab disapa Abah Laweung, menjelaskan bahwa tradisi Bubur Asyura memiliki akar sejarah yang panjang dalam peradaban Islam.

Menurutnya, masyarakat Aceh sejak dahulu mengaitkan peringatan 10 Muharram dengan berbagai peristiwa besar dalam sejarah Islam, terutama kisah diselamatkannya Nabi Musa as bersama pengikutnya dari kejaran Fir’aun sebagaimana banyak diceritakan dalam literatur keislaman.

“Di kalangan masyarakat Aceh, Bubur Asyura lebih dikenal sebagai bentuk syukur dan kebersamaan dalam menyambut hari Asyura. Para ulama terdahulu menjadikan momentum ini sebagai sarana mempererat ukhuwah sekaligus berbagi makanan kepada masyarakat,” ujar Abah Laweung.

Ia menjelaskan bahwa dalam sejumlah riwayat yang berkembang di tengah masyarakat Muslim, Hari Asyura juga diperingati sebagai hari yang penuh keberkahan dan momentum memperbanyak amal kebajikan, sedekah, serta menyantuni anak yatim.

Karena itu, para ulama Aceh mengemas nilai-nilai tersebut dalam bentuk kenduri Bubur Asyura yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

“Tradisi ini bukan sekadar budaya, tetapi juga media dakwah. Masyarakat diajak berkumpul, bersedekah, mempererat hubungan sosial, dan mengingat kembali nilai-nilai keislaman yang diajarkan para ulama,” katanya.

Abah Laweung menjelaskan bahwa Bubur Asyura di Aceh dikenal menggunakan puluhan jenis bahan, mulai dari beras, jagung, kacang-kacangan, ubi, sayur-mayur, hingga berbagai rempah-rempah yang dimasak dalam satu kuali besar.

Menurutnya, keberagaman bahan tersebut memiliki filosofi yang sangat dalam. “Puluhan bahan yang berbeda itu disatukan dalam satu wadah dan menghasilkan rasa yang nikmat. Ini menggambarkan kehidupan masyarakat Aceh yang terdiri dari berbagai latar belakang tetapi tetap bersatu dalam ukhuwah dan kebersamaan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa proses memasak Bubur Asyura juga menjadi ruang pendidikan sosial bagi generasi muda. Anak-anak dan remaja belajar tentang kerja sama, gotong royong, serta penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan para pendahulu.

Menurut Abah Laweung, di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat modern, tradisi seperti Bubur Asyura menjadi semakin penting untuk dipertahankan.

“Jangan sampai generasi muda hanya mengenal kebersamaan melalui media sosial. Tradisi Bubur Asyura mengajarkan kebersamaan yang nyata, saling membantu, dan saling mengenal secara langsung,” katanya.

Baik Abu Sibreh maupun Abah Laweung sepakat bahwa Bubur Asyura bukan sekadar makanan khas yang hadir setiap Muharram. Di balik kuali besar yang diaduk bersama, tersimpan warisan ulama tentang pentingnya silaturahmi, gotong royong, sedekah, dan kepedulian sosial.

Bagi masyarakat Aceh, tradisi itu menjadi bukti bahwa nilai-nilai Islam dapat terus hidup melalui budaya yang mempersatukan. Dari generasi ke generasi, Bubur Asyura bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menghangatkan persaudaraan dan menjaga ikatan sosial yang menjadi kekuatan masyarakat Aceh.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.