Wed,19 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Warga Aceh Istiqamah Lestarikan Tradisi Saweu Syedara pada Momentum Idul Adha

Warga Aceh Istiqamah Lestarikan Tradisi Saweu Syedara pada Momentum Idul Adha

warga-aceh-istiqamah-lestarikan-tradisi-saweu-syedara-pada-momentum-idul-adha
Warga Aceh Istiqamah Lestarikan Tradisi Saweu Syedara pada Momentum Idul Adha
service

Banda Aceh, NU Online

Di Aceh, Idul Adha bukan hanya tentang gema takbir, penyembelihan hewan kurban atau pembagian daging kepada masyarakat. Lebih dari itu, hari raya ini juga menjadi momentum memperkuat saweu syedara—tradisi silaturahim khas Aceh yang telah diwariskan turun-temurun oleh para ulama dan leluhur masyarakat Serambi Mekkah.

Tradisi itu terasa semakin bermakna pada Idul Adha 1447 Hijriah tahun ini. Setelah banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir 2025 lalu menyisakan luka panjang, masyarakat justru terlihat semakin erat menjaga hubungan kekeluargaan dan persaudaraan.

Rumah-rumah boleh rusak diterjang banjir, sawah tertimbun lumpur, dan ekonomi warga belum sepenuhnya pulih. Namun budaya saling mengunjungi, menyapa, serta menguatkan satu sama lain tetap hidup di tengah masyarakat.

Di berbagai gampong terdampak banjir, suasana Idul Adha masih dipenuhi tradisi anak-anak pulang menjumpai orang tua, saudara mengunjungi saudara lainnya, hingga keluarga besar berkumpul menikmati kuah beulangong dan hidangan qurban bersama.

Tradisi saweu syedara itu tampak sederhana, tetapi memiliki makna sosial yang sangat kuat. Banyak warga rela menempuh perjalanan pulang kampung hanya untuk duduk bersama orang tua, menyalami saudara, dan menjaga hubungan kekeluargaan yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Aceh.

Wakil Ketua PWNU Aceh, Tgk Iskandar Zulkarnaen, mengatakan masyarakat Aceh memiliki modal sosial yang sangat kuat dalam menghadapi bencana, yakni budaya ukhuwah dan silaturahmi yang terus dijaga hingga sekarang.

“Musibah banjir memang meninggalkan luka dan kesulitan, tetapi masyarakat Aceh tetap istiqamah menjaga silaturahim. Itu yang membuat masyarakat kuat dan mampu bangkit bersama,” ujarnya, Jumat (29/5/2026) 

Menurutnya, tradisi saweu syedara bukan sekadar budaya sosial biasa, tetapi bagian dari ajaran agama dan warisan ulama Aceh yang menanamkan pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan.

“Ketika Idul Adha tiba, anak-anak pulang menjumpai orang tua, saudara berkumpul kembali di kampung. Tradisi ini yang membuat hubungan masyarakat Aceh tetap hangat,” katanya.

Ia menilai momentum Idul Adha tahun ini terasa lebih emosional bagi masyarakat yang sebelumnya diuji musibah banjir bandang. Banyak keluarga yang sempat terpisah karena mengungsi kini kembali berkumpul dalam suasana hari raya.

“Di tengah kesulitan ekonomi dan proses pemulihan pascabanjir, masyarakat tetap berusaha menjaga kebersamaan. Itu menunjukkan Aceh memiliki ketahanan sosial yang kuat,” ujarnya.

Sementara itu, Tgk Mukhtar Amin atau akrab disapa Abati Mukhtar yang perah berkhidmah sebagai Sekretaris PCNU Aceh Utara, mengatakan budaya silaturahim masyarakat Aceh selama ini menjadi penopang utama kehidupan sosial masyarakat.

Menurutnya, tradisi mengunjungi keluarga saat Idul Adha menghadirkan kekuatan batin tersendiri bagi masyarakat yang sedang menghadapi musibah. “Kadang orang yang terkena musibah tidak hanya membutuhkan bantuan materi, tetapi juga perhatian dan kehadiran keluarga. Tradisi saweu syedara menjadi penguat mental masyarakat,” kata Abati Mukhtar.

Pimpinan Dayah Ma’had Al-Ihsaniyah Al-Aziziyah Bayu itu menjelaskan bahwa dalam budaya Aceh, Idul Adha bukan sekadar momentum ibadah personal, tetapi juga ruang memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.

“Orang Aceh kalau lebaran pasti saling mengunjungi. Ada yang datang membawa makanan, ada yang sekadar duduk dan berbincang. Itu bentuk kasih sayang yang sangat bernilai,” ujarnya.

Menurutnya, budaya tersebut lahir dari perpaduan pendidikan dayah, adat Aceh, dan nilai agama yang sejak lama mengajarkan pentingnya ukhuwah.

Hal senada disampaikan penggiat budaya dan sosial keagamaan UNISAI Samalanga, Abah Iswadi. Ia menilai tradisi saweu syedara merupakan bagian dari identitas peradaban masyarakat Aceh yang harus terus dijaga di tengah perkembangan zaman.

“Silaturahim di Aceh bukan sekadar formalitas hari raya, tetapi bagian dari budaya hidup masyarakat. Orang tua dikunjungi, saudara disapa, tetangga didatangi. Itu yang membuat hubungan sosial masyarakat Aceh tetap kuat,” katanya.

Menurutnya, pascabanjir bandang masyarakat Aceh justru semakin merasakan pentingnya kebersamaan dan kepedulian sosial. Ia melihat banyak keluarga yang sebelumnya jarang bertemu kini kembali berkumpul dalam momentum Idul Adha. Bahkan di sejumlah gampong terdampak banjir, masyarakat tetap menggelar kenduri sederhana dan makan bersama sebagai bentuk rasa syukur.

“Kadang yang membuat masyarakat cepat bangkit bukan hanya bantuan besar, tetapi suasana kebersamaan dan perhatian dari keluarga serta tetangga,” ujarnya.

Abah Iswadi juga menyoroti pentingnya menjaga budaya berkumpul langsung di tengah pengaruh dunia digital yang semakin kuat. “Jangan sampai masyarakat kehilangan budaya saweu syedara karena terlalu sibuk dengan telepon genggam dan media sosial. Aceh kuat karena hubungan antarmanusianya masih hidup,” katanya.

Bagi masyarakat Aceh, Idul Adha tahun ini bukan hanya tentang qurban dan hari raya. Di balik luka pascabanjir bandang, masyarakat tetap menyalakan semangat persaudaraan melalui tradisi saweu syedara.

Di rumah-rumah sederhana, di meunasah, di warung kopi, hingga di jalan-jalan kampung yang masih menyisakan bekas lumpur banjir, masyarakat Aceh terus menjaga satu hal yang tak pernah hanyut oleh musibah: silaturahim dan ukhuwah.
 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.