Fenomena bulan Sya’ban mengungkap fakta unik pada masyarakat Muslim di Indonesia. Ziarah kubur yang disebut punggahan atau megengan pada bulan tersebut menjadi tradisi tahunan yang sangat menonjol di berbagai daerah. Uniknya, di momen itu kaum Muslimin tidak lupa untuk bahagia dengan makan-makan setelah berziarah ke makam orang tua, para wali, atau leluhur mereka.
Ada kaum Muslimin yang berziarah sambil membaca Surat Yasin dan Tahlil. Ada pula yang hanya membersihkan makam, menabur bunga, lalu berkumpul dengan sanak famili untuk menikmati hidangan yang telah disediakan. Tidak ada aturan khusus, tetapi berziarah di sekitar bulan Sya’ban lazim dijumpai tidak hanya di satu daerah, melainkan juga di berbagai penjuru Nusantara.
Namun bukan sekadar ritual umat Islam, ziarah kubur juga berkaitan dengan neurosains? Sebuah penelitian menemukan ada kaitan tradisi ziarah kubur di bulan Sya’ban dengan kesehatan mental dan kebahagiaan umat Islam.
Fenomena neurosains diungkap oleh peneliti saat mengamati gelombang otak para peziarah kubur di Astana Gunung Jati, Cirebon. Penelitian yang dilakukan oleh Agustina, Fauzi, dan Ekasari itu berjudul Applying Neuroscience in Understanding the Astana Gunungjati Pilgrimage Tour, Cirebon, Indonesia. Hasil penelitian itu telah dipublikasikan di ISVS e-Journal Volume 9, Nomor 5 yang terbit pada tahun 2022.
Penelitian itu bermaksud untuk memetakan gelombang otak orang-orang yang datang berziarah, petugas makam, dan orang-orang lainnya yang tidak mengunjungi tempat peziarahan. Fenomena maraknya tradisi islami di makam wali Sunan Gunung Jati itu, yang meningkat terutama di bulan Sya’ban, sangat menarik perhatian 3 orang peneliti tersebut yang berasal dari Universitas Islam Bandung dan Universitas Telkom.
Gelombang otak yang direkam pada penelitian itu bisa berupa gelombang alfa, beta, delta, teta, dan gamma. Gelombang ini muncul pada aktivitas yang beragam dan memiliki penanda maupun manfaat yang berbeda-beda untuk kesehatan. Dominasi gelombang otak yang muncul pada seseorang dapat mempengaruhi kesehatan mental dan perilaku orang itu. Para peneliti merekam gelombang otak responden dan mengaitkannya dengan apa yang dilihat serta dialami para responden.
Rekaman otak para petugas penjaga makam menunjukkan adanya aktivitas gelombang gamma yang muncul ketika mereka bertugas. Gelombang tersebut muncul ketika mereka melihat aktivitas di tempat para penjual sekitar makam, bangunan di sekitar makam, dan kerumuman para peziarah yang datang. Menurut para ahli, munculnya gelombang gamma ini mengindikasikan fokus dan kekuatan berpikir para penjaga makam itu.
Para peziarah yang datang ternyata juga mengalami keunikan dengan munculnya rekaman gelombang gamma yang terjadi pada saat mereka datang berziarah. Gelombang itu muncul saat mereka melihat bangunan makam. Gelombang gamma ini sangat penting untuk pengenalan ruang dan memori yang menentukan pengetahuan maupun kemampuan dalam kehidupan seseorang.
Hal lain yang lebih khusus ketika gelombang gamma muncul pada peziarah adalah ketika pemaknaan riwayat hidup orang yang diziarahi muncul di otak mereka. Gelombang gamma akan merefleksikan pengalaman spiritual ketika berziarah menuju pada kehidupan diri mereka sendiri sehingga termotivasi untuk merencanakan autobiografinya secara lebih baik.
Tidak berhenti hingga munculnya gelombang gamma, keunikan lainnya terjadi saat para peziarah melakukan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan kalimat tahlil di sekitar makam. Gelombang otak mereka berubah menjadi gelombang alfa dan muncul juga sebagian gelombang beta. Kemunculan gelombang alfa menuju beta ini mengindikasikan ketenangan luar biasa yang terjadi saat mereka berziarah dan membaca kalimat-kalimat thoyibah.
Agak berbeda dengan petugas makam maupun peziarah, orang-orang yang tidak datang berziarah kubur mengalami kemunculan gelombang gamma, alfa, dan beta dengan cara yang biasa. Gelombang gamma muncul di otak mereka karena melihat keramaian pasar, sedangkan gelombang alfa dan beta muncul ketika mereka tidak sengaja mendengar pembacaan ayat Al-Qur’an. Para peneliti menyimpulkan bahwa fenomena ini sangat biasa terjadi pada manusia.
Berdasarkan studi neurosains di atas, ziarah kubur sangat berpotensi untuk meningkatkan kesehatan mental. Ketenangan yang muncul melalui variasi gelombang otak disertai dengan meningkatnya pemaknaan sejarah pada orang yang diziarahi dapat memberikan motivasi semangat kehidupan bagi peziarah. Hal ini tidak terjadi pada orang yang tidak berziarah meskipun jenis gelombang yang muncul di otaknya sama.
Upaya khusus yang dilakukan oleh peziarah menandai perbedaan utama dengan non-peziarah. Para peziarah meluangkan waktu dan tenaga yang dicurahkan untuk perjalanan ke tempat ziarah. Hal itu menunjukkan proses ikhtiar sehingga hasilnya pun berbeda dengan orang yang tidak berziarah. Ketenangan yang diperoleh dengan munculnya gelombang positif di otak saat berziarah kubur tidak dapat dicapai meskipun dengan menggunakan obat-obat penenang.
Lebih lanjut, orang yang gemar berziarah memiliki kebahagiaan yang lebih tinggi. Hal itu muncul karena gelombang gamma membuat kesadaran mereka sangat tinggi bahwa hidup di dunia ini bukan akhir dari segalanya. Kesadaran itu akan membuat mereka lebih optimis untuk menjalani kehidupan dengan berbagai kondisi yang ada. Sekali lagi, belum ada obat farmasi untuk membuat seseorang lebih optimis dalam kehidupan sebagaimana manfaat ziarah kubur.
Gelombang gamma juga berkaitan dengan munculnya ide, gagasan, bahasa, pemrosesan ingatan serta berbagai kemampuan belajar. Tidak mengherankan bila orang yang mampu memunculkan gelombang gamma bisa menjalani tugas multitasking dengan kondisi mental yang lebih baik. Orang yang mengalami hal tersebut setelah berziarah kubur akan merasa kehidupannya lebih bersemangat untuk menyongsong masa depan.
Aktivitas setelah ziarah kubur di bulan Sya’ban biasanya dianggap sebagai persiapan untuk menuju bulan Ramadhan. Dengan tradisi itu, kaum muslimin akan memasuki bulan Ramadhan lebih semangat. Hal ini tentu sangat baik bagi kehidupan beragama di Indonsia yang akan berkontribusi bagi situasi masyarakat yang stabil dan damai.
Dengan demikian, selayaknya kaum Muslimin melestarikan tradisi islami yang baik berupa ziarah kubur di bulan Sya’ban. Selain menghargai jasa para pendahulu, manfaat ziarah kubur untuk kesehatan neurosains juga sangat relevan dengan dunia masa kini yang rentan dengan situasi tekanan mental.
Yuhansyah Nurfauzi
Apoteker dan Peneliti Farmasi. Alumni Madrasah Diniyah Ali Maksum PP Krapyak Yogyakarta, Program Studi S1 Farmasi-Apoteker UGM, Magister Farmasi ITB, dan Doktor Ilmu Farmasi UGM.





Comments are closed.