Wed,22 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Pentingnya keterlibatan dan kepemimpinan perempuan dalam aksi iklim: Data dari Women Research Institute

Pentingnya keterlibatan dan kepemimpinan perempuan dalam aksi iklim: Data dari Women Research Institute

pentingnya-keterlibatan-dan-kepemimpinan-perempuan-dalam-aksi-iklim:-data-dari-women-research-institute
Pentingnya keterlibatan dan kepemimpinan perempuan dalam aksi iklim: Data dari Women Research Institute
service

Suara Imakulata F. Jedia sedikit bergetar ketika disodorkan microphone. Ia berbicara terbata-bata, berusaha mencari dan menemukan kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari moderator.

“Kami bekerja berkelompok, berusaha menanam sayur, pangan lokal, dan melakukan konservasi mata air. Di saat kami melihat debit air berkurang, kami menanam beragam jenis pohon lokal, supaya debit air bertambah,” jelasnya. Meski nampak berhati-hati dalam memilih kata dalam Bahasa Indonesia, ia begitu antusias bercerita tentang apa yang ia lakukan bersama komunitasnya.

Imakulata mewakili Kelompok Tani Mandiri dari Desa Golo Lewe, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, dalam forum nasional Lokal Bertindak, Nasional Berdampak: Kolaborasi untuk Kepemimpinan Perempuan dalam Transisi Energi dan Keadilan Iklim pada Rabu, 4 Februari 2026, di Jakarta.

Forum ini diselenggarakan oleh UN Women, UN environment program (UNEP), Women Research Institute (WRI), dan para mitra konsorsium, dengan dukungan Pemerintah Selandia Baru, Jerman, Swedia, dan Swiss.

Diversifikasi pangan untuk ketahanan iklim

Apa yang dilakukan Imakulata lahir dari kecemasan akan kekeringan yang semakin parah; mengancam varietas lokal dan meningkatkan ketergantungan pangan keluarga pada komoditas komersial seperti beras.

Melalui program EmPower II, WRI mendampingi perempuan-perempuan mitra untuk membangun pemahaman tentang pentingnya diversifikasi pangan lokal dalam konteks krisis iklim.

Kini, dengan berbagai jenis umbi-umbian, biji-bijian, dan kacang-kacangan yang ditanam di kebun pekarangan, pola konsumsi keluarga mereka lebih beragam. Hasil panen dibawa ke gudang untuk disimpan, dipinjam dan dikembalikan oleh anggota, dan diuji ketahanannya dalam berbagai kondisi iklim yang tidak pasti.

Ragam tanaman pangan alternatif yang kembali dikembangkan oleh Kelompok Tani Mandiri dan Kelompok Mamang Koe/ Author provided. CC BY-NC

Pengalaman Imakulata dan perempuan Desa Golo Lewe merupakan satu dari sekian banyak kisah perempuan yang menjadi garda terdepan menghadapi krisis iklim. Turut berbagi dalam panel ini adalah Baiq Sri Anom Padma, Ketua Sekolah Rakyat Desa Rarang, Nusa Tenggara Barat.

“Kami kalau kehabisan gas itu harus jalan jauh sekali. (Ini dilakukan) hanya untuk bisa masak di rumah,” tuturnya. Ia menambahkan, saat gas elpiji kerap kali langka di musim tembakau, berjalan kaki sejauh 5 – 6 kilometer perlu ia tempuh untuk memastikan ada makanan di meja makan. Situasi ini menambah beban kerja perawatan yang lebih sering diemban perempuan.

Perempuan terdampak, perempuan bergerak

Meski berperan sebagai penggerak dan garda terdepan, perempuan juga kerap kali menjadi kelompok paling rentan yang menanggung dampak paling berat. Hal ini dipertegas oleh Dwi Yuliawati, Head of Programmes UN Women Indonesia, yang menekankan pentingnya menampakkan posisi perempuan sebagai kelompok rentan, sekaligus sebagai pemilik pengetahuan dalam merekam dampak krisis iklim.

“Dalam berbagai konteks, (perubahan iklim) berwajah perempuan. Perempuan bukan hanya kelompok yang paling terdampak, tapi juga aktor kunci perubahan. Mereka adalah aktor terdepan, pemegang pengetahuan ekologis, dan penjaga keragaman biodiversitas,” pungkasnya dalam pidato pembuka.

Kiri ke kanan: Dwi Yuliawati (Head of Programmes, UN Women Indonesia), Katherine Halliburton (Development Counsellor, Kedutaan Selandia Baru di Indonesia), Dr. Amurwani Dwi Lestariningsih, S.Sos., M.Hum (Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak); Sita Aripurnami (Direktur Eksekutif Women Research Institute); dan Gita Syahrani (Ketua Dewan Pengurus Koalisi Ekonomi Membumi). Author provided. CC BY-SA

Sita Aripurnami, selaku Direktur Eksekutif WRI, menyampaikan bahwa krisis iklim adalah tantangan yang perlu dijawab dengan upaya kolaboratif dalam level ekosistem.

“Keberlanjutan dan skalabilitas perlu dijawab melalui kolaborasi. Krisis iklim tidak dapat diselesaikan oleh satu organisasi atau satu sektor,” ujar Sita.

“Kolaborasi strategis antar organisasi masyarakat sipil, akademisi, lembaga filantropi, sektor privat, pemerintah, dan organisasi internasional, untuk membangun ekosistem lingkungan yang kokoh bagi kepemimpinan perempuan dalam aksi iklim.”

Data

Dalam kesempatan ini pula, WRI untuk pertama kalinya menyajikan baseline data responsif gender di Aceh. Krisis iklim bukan fenomena yang seragam. Data yang disajikan bukan hanya menampilkan angka, tapi juga merefleksikan pengalaman individu yang diwakilinya.

Baseline data responsif gender dari WRI mencakup lima temuan kunci:

  1. Layanan dasar tersedia, tetapi timpang dan berdampak berlapis pada rumah tangga rentan.
  2. Perempuan menopang ekonomi keluarga, tetapi minim kuasa atas keputusan strategis.
  3. Beban kerja perawatan perempuan meningkat saat krisis, namun jarang tercatat.
  4. Rumah tangga bergantung pada energi fosil; energi terbarukan belum menjangkau ruang domestik.
  5. Jaringan sosial perempuan menutup celah sistem, tetapi tidak bisa menggantikan kebijakan.

Turut hadir membuka forum adalah Dr. Amurwani Dwi Lestariningsih, Deputi Bidang Kesetaraan Gender, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Dalam kapasitasnya, beliau menyampaikan komitmen pemerintah melalui Rencana Aksi Nasional Gender dan Perubahan Iklim (RAN GPI). “Kepemimpinan perempuan dalam pengambilan keputusan menjadi sangat penting, tidak hanya dalam terlibat dalam penyusunan kebijakan, tetapi juga bagaimana meningkatkan implementasi kebijakan dilaksanakan.”

Pengalaman dan data program EmPower II dituangkan dalam buku berjudul Perempuan, Alam, dan Jalan Perubahan: Ketika Perempuan Memimpin Krisis Iklim, kolaborasi antara UN Women dan WRI.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.