Fri,4 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Metode Hafalan dan Kejujuran: Dua Modal Pesantren dalam Pengembangan Teknologi AI

Metode Hafalan dan Kejujuran: Dua Modal Pesantren dalam Pengembangan Teknologi AI

metode-hafalan-dan-kejujuran:-dua-modal-pesantren-dalam-pengembangan-teknologi-ai
Metode Hafalan dan Kejujuran: Dua Modal Pesantren dalam Pengembangan Teknologi AI
service

Jakarta, NU Online 

Pesantren dinilai memiliki modal budaya yang kuat untuk berperan dalam pengembangan teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Namun, modal tersebut perlu dikelola secara optimal agar mampu menjawab gerak cepatnya tantangan zaman. Hal itu disampaikan Founder Neuversity Robin Syihab saat diwawancarai NU Online dalam program Berangkat dari Pesantren.

Robin menjelaskan bahwa teknologi, yang memuat bahasa pemrograman, pada dasarnya berangkat dari logika. Ia menilai hal itu tidak berjarak dengan tradisi berpikir pesantren yang direpresentasikan dengan nahwu-sharaf.

“Bahasa itu sebenarnya cuma logika. Isinya itu logika. Saya justru belajarnya dari C dan assembly dulu,” ujarnya dalam kanal Youtube NU Online, dikutip Selasa (10/2/2026) malam.

Ia kemudian menyoroti pandangan umum yang kerap menyederhanakan pendidikan pesantren sebagai pendidikan berbasis hafalan. Menurutnya, hafalan justru menyimpan manfaat besar dalam melatih cara berpikir terstruktur. 

“Padahal dari hafalan itu kita bisa mengingat banyak kata kunci. Kita mengingat bagaimana sebuah alur bekerja,” kata engineer alumnus Pondok Pesantren Al-Falah, Kediri itu.

Lebih lanjut, ia menilai hafalan berperan penting dalam menjaga rentang perhatian (attention span) santri. Di tengah fenomena kecenderungan brain rot, kemampuan menjaga konsentrasi menjadi keterampilan krusial.

“Sekarang ini bentar-bentar ingin ganti topik. Itu yang bikin anak-anak susah memahami konteks panjang, sehingga ketika memecahkan masalah yang agak rumit, mereka lost di tengah-tengah,” jelasnya.

Dalam konteks perkembangan AI, Robin justru melihat momentum besar bagi pesantren untuk melesat. Ia menilai bahwa di era kecerdasan buatan, soft skill menjadi lebih penting dibanding hard skill.

Dunia industri saat ini lebih menekankan kemampuan komunikasi, kerja sama tim, dan integritas. Di sektor tertentu seperti keamanan siber, kejujuran bahkan menjadi modal utama.

“Sekarang banyak kejadian hacking (peretasan) itu bukan karena sistemnya lemah, tapi karena orang dalamnya,” ungkap Robin. 

Ia menambahkan bahwa industri seperti ransomware kerap memanfaatkan faktor manusia dengan iming-iming keuntungan. Di sinilah, kata Robin, pesantren memiliki keunggulan tersendiri. Pendidikan akhlak, adab, dan kejujuran disebut jadi benteng agar sumber daya manusia tidak mudah dieksploitasi secara moral. 

“Kalau tidak dididik kejujurannya, adabnya, itu rentan dieksploitasi bukan dari teknologinya, tapi dari humannya,” ujar alumnus Pondok Pesantren Riyadlul Ulum Kaliwarak, Kebumen, Jawa Tengah itu.

Tantangan bagi pesantren 

Meski memiliki modal tersebut, Robin mengakui pesantren menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan pelajaran keagamaan dengan keilmuan non-keagamaan, seperti teknologi. Menurutnya, pesantren perlu membuka ruang digital dan ruang riset sebagai bagian dari transformasi pendidikan.

“Pesantren harus membuka ruang digital buat santri, harus membuka ruang riset. Dari situlah ketertarikan santri pada teknologi akan muncul,” usulnya.

Ruang riset yang dimaksud, lanjut Robin, tidak harus berskala besar. Riset robotik, perangkat lunak, atau bidang teknologi lain dapat menjadi sarana untuk mengidentifikasi bakat dan minat santri.

Ia pun menegaskan bahwa riset di pesantren memiliki tujuan berbeda dengan riset di lembaga profesional. “Riset untuk santri itu lebih ke eksplorasi, untuk menjawab rasa penasaran anak-anak. Kalau menciptakan hal baru, itu nilai tambah atau efek samping dari sistemnya,” katanya.

Untuk pesantren dengan sumber daya terbatas, Robin menyarankan model pengembangan berbasis kemitraan dengan industri teknologi. Kerja sama tersebut dapat berupa penyediaan alat pembelajaran, dukungan ruang riset, hingga skema talent pooling

Ia optimistis alumni pesantren tidak perlu menunggu hingga 20 tahun untuk berkiprah di bidang teknologi mutakhir selama santri mampu menghadapi tantangan utama yakni mengelola distraksi digital.

Robin menutup dengan pesan optimistis kepada para santri. Pasalnya, di era saat ini lebih gampang menindaklanjuti peluang-peluang yang ada.

“Zaman sekarang jadi solopreneur itu lebih mudah karena alatnya sudah ada. Tinggal bagaimana santri bisa menuntaskan masalah orang dan mengambil manfaat dari situ,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.